ICE & FIRE IMMORTALITY

ICE & FIRE IMMORTALITY
JALAN PEDANG



“Aku kira, beberapa hari yang Guru katakan itu 2, 3, atau 4 hari. Tapi ternyata, 3 tahun?!”


Yi Cai sudah terlalu bosan menanti seseorang yang tak kunjung kembali. Meskipun pergi, ia pikir gurunya akan sesekali mengunjungi. Namun ternyata, selama 3 tahun terakhir, Topi Bambu tak pernah sekali pun mengunjunginya.


Entah pergi ke mana, dan apa yang dilakukan oleh Topi Bambu selama tiga tahun terakhir ini. Yi Cai sama sekali tak mengetahuinya, karena ia sama sekali tak mendengar kabar darinya.


Setidaknya, jika dia pergi dan sengaja tak mengunjunginya karena keperluannya pribadi, ia harus mengirim surat sebagai kabarnya. Akan tetapi, Topi Bambu sama sekali tak pernah mengabarinya dalam bentuk apa pun, bahkan dengan surat sekali pun. Bagai ditelan alam, keberadannya dalam hidup Yi Cai, menghilang begitu saja.


Selama 3 tahun, Yi Cai hanya menjalani kehidupan seperti biasa. Makan, tidur, berlatih kultivasi, dan menunggu seseorang yang tak kunjung pulang.


Di puncak gunung, matahari terbit memang tampak lebih indah daripada di tempat lain. Yi Cai berdiri tegak di atas gua, memandangi matahari terbit seraya mengaguminya. Ia menonggakkan pedangnya ke langit-langit jingga. Apa yang dia latih selama ini, akan ia buktikan ke dunia luar. Dia berencana meninggalkan puncak gunung, untuk pergi ke klan manusia.


Selama 3 tahun terakhir, Yi Cai memutuskan untuk mengambil jalan pedang. Ya, dia gagal melatih roh pelindungnya. Sebenarnya, bukan gagal. Akan tetapi, Yi Cai memutuskan untuk tak menggunkannya, karena ia merasa bahwa roh pelindung capung, bukanlah sesuatu yang perlu dilatih. Capung hanyalah hewan lemah, tak memiliki keistimewaan lain, selain bentuknya yang indah.


Roh pelindung capung hanya dimiliki beberapa wanita yang sengaja tak berlatih kultivasi, karena lebih memilih kehidupan biasa. Jika ia melatih kultivasi roh pelindungnya, Yi Cai bukan semakin tak dipandang remeh, tetapi mungkin akan dijadikan bahan ejekan, karena roh pelindung miliknya identik dimiliki seorng wanita.


Di samping, wanita sekali pun tak menggunakannya untuk berkultivasi. Hanya wanita yang memiliki roh pelindung tingkat tengah yang memutuskan untuk melatih kultivasinya. Contohnya seperti, kucing, burung, dan beberapa hewan tingkat tengah lainnya.


Begitulah mengapa, semua orang memiliki roh pelindung, tetapi tidak semua ditakdirkan menjadi Master roh. Seseorang yang tak menggunakan roh pelindung sebagai pusat kekuatannya, hanya disebut sebagai kultivator biasa. Termasuk Topi Bambu, dia tak menggunakan roh pelindungnya. Itulah sebabnya, dia disebut Master kultivator, bukan Master roh. Akan tetapi, statusnnya sebagai Master kultivator pun tak kalah dari para Master roh, karena ilmu dan kehebatannya di atas rata-rata.


Yi Cai memutuskan untuk mengikuti jalan gurunya. Ia memilih untuk menjadi Master kultivator, dibandingkan menjadi Master roh. Jalan kultivasi yang ia ambil adalah jalan pedang, bukanlah jalan roh pelindung.


“Guru, tunggu aku! Aku akan segera menemukanmu!” cetus Yi Cai.


Yi Cai menatap lekat langit jingga, dengan tatapan elangnya. Dalam dirinya telah bertekad bahwa ia akan pergi ke tempat di mana mayoritas klan manusia tinggal.


Selang beberapa saat kemudian, secepat kilat, ia menuruni puncak gua yang ditinggalinya. Sekejap, ia menatap mulut gua tempat tinggalnya. Sedikit disayangkan, karena ia harus meinggalkannya rumah yang pernah ditinggalinya selama 3 tahun itu.


Mau tidak mau, Yi Cai harus meninggalkannya. Tidak ada gunanya terus-terusan mengisolasi dirinya dari orang lain, hanya untuk menunggu gurunya yang tak kunjung pulang. Kali ini, ia sangat percaya diri jika ia bisa melakukan perlawanan kepada siapa pun yang mengganggunya. Yi Cai tak perlu lagi khawatir tentang kelaparan, dan kehujanan karena tak memiliki tempa tinggal.


“Tunggu saja! Setelah aku menemukan Guru, aku akan berlatih lebih keras lagi. Akan kupastikan, siapa pun tidak akan menganggapku remeh. Terlebih, aku tidak akan mempermalukan Guru yang telah mengajarkan ilmunya!” cetus Yi Cai.


Seorang lelaki gagah perkasa, tengah duduk menikmati sejumput teh yang tertuang di gelasnya. Jenak, seseorang datang melapor kepadanya. Sepontan ia berhenti menyeruput teh panasnya, selanjutnya meletakkan gelas teh itu di meja.


“Apa kalian telah mendapat kabar tentangnya?” tanyanya.


“Maaf, Putra Mahkota. Kami kurang kompeten. Bagai ditelan bumi, tak ada seorang pun yang mendengar kabar tentangnya 3 tahun terakhir ini,” ungkapnya.


“Begitukah?” ucapnya santai. Pria itu meraih gelasnya kembali, seraya mengendus aroma teh yang tertuang di dalamnya.


Sesaat, tak lama emosinya mulai berubah. Ia mencengkram kuat gelas teh giok itu sekuat tenaga, lalu melemparkannya ke arah pria yang melaporkan sesuatu yang sama sekali tak berguna baginya.


“Tidak tahu! Tidak tahu! Tidak tahu! Lagi-lagi tidak tahu. Kalian semua tidak berguna! Semuanya, kalian tidak tahu. Lalu, apa yang kalian tahu! Jika kalian semua tidak tahu apa-apa, haruskah aku sendiri yang memberitahu kalian?!” sentaknya, lantang dan geram, penuh dengan emosi. Darahnya telah mendidih dengan cepat, hingga memuncak ke otaknya.


Gemetar ketakutan seorang pria yang beridentitaskan seorang prajurit kerajaan, tatkala menyaksikan kemarahan besar sang Putra Mahkota yang terlampiaskan kepadanya.


“A-ampun Putra Mahkota. Kami sudah berusaha keras menemukannya di penjuru Negeri. Bahkan, beberapa suruhan telah ditugaskan untuk mencarinya ke Negara lain, di Qizhou, Youngzhou, sampai Qingzhou. Namun, mereka semua tetap tak mendapatkan kabarnya,” gagapnya. Kehabisan kata-kata, ia hanya bisa mengatakan sebuah fakta.


“Tidak berguna! Tidak berguna tetap tidak berguna! Usaha kalian bukanlah apa-apa. Jika telah erushaa keras, tapi tak mendapatkannya, seharusnya kalian lebih giat lagi. Apa kalian semua bodoh? Dia bukanlah orang biasa. Bagaimana cara kalian mencarinya … benar-benar bodoh! Jika tak ada di Kota-kota, carilah di desa. Jika tak ada di sana, masih ada gunung, hutan, sungai, bahkan lautan sekali pun. Kalian harus menyelamnya untuk mencari keberadaannya. Jangan pernah kembali dan melaporkan sesuatu yang tak berguna seperti ini, jika kalian belum bisa menemukannya. Jangan sampai aku sendiri yang memberitahu kalian. Jika sampai hari itu terjadi, berharap saja kepala kalian tetap utuh!” ancamnya.


“B-baik, Putra Mahkota. Kami akan berusaha lebih keras lagi,” jawabnya tergagap.


“Kenapa lagi? Pergi! Jangan sampai aku kehabisan kesabaran lagi. Aku sangat muak dengan keberadaanmu,” usirnya.


“B-baik, Putra Mahkota. Saya akan pergi s-sekarang juga,” gagapnya.


Dengan sigap, ia pun bangkit dari posisinya. Ia memberi hormat kepada Putra Mahkota Wang Xing terlebih dahulu. Hingga kemudian, ia pun berlalu meninggalkan ruangan.


“Semua orang tidak berguna! Hanya tugas seperti itu saja perlu bertahun-tahun lamanya. Berengsek! Awas saja jika aku sampai menemukannya. Akan kupatahkan semua jari-jarinya, seperti dia mematahkan jari telunjuk milikku. Tidak! Mematahkan semua jarinya terlalu lunak. Jika sampai menemukannya, akan kupastikan untuk mematahkan sema tulang di tubuhnya!” cetusnya geram.