
“Jia Yun!” seru Yi Cai dan Jia Rong serempak.
“Kenapa?” tanyanya dengan perasaan sama sekali tak bersalah.
“Kau ini! Tidak cukup dengan ketololanmu. Lagi, kau ingin menjadi beban?” protes Jia Rong.
“Aishhh … aku bilang tidak akan membantu, tapi aku tidak akan menjadi beban. Aku bisa mengurus diriku sendiri,” cetus Jia Yun.
“Lakukan sesukamu saja. Yi Cai, ayo kita cari jalan keluar bersama,” ajak Jia Rong.
Jia Yun sekan menjadi yang paling dikucilkan, tetapi tak mengapa baginya. Ia pribadi tak memperdulikannya, dan terus bersikap cuek dengan apa yang akan terjadi.
“Yi Cai, apa kau menemukan sesuatu?” tanya Jia Rong kepada Yi Cai yang tengah sibuk memeriksa sekitarnya.
“Tidak ada. Ruang ini benar-benar hampa. Di mana batasnya, aku juga tidak bisa menebaknya,” cetus Yi Cai. “Tunggu … apa kalian menderikan suara gemericik air?” tanya Yi Cai, tatkala indera pendengarannya yang tajam mendeteksi detail tertentu.
Sejenak, keduanya pun terdiam untuk memastikan perkataan yang dikatakan oleh Yi Cai. Jia Rong dan Jia Yun memejamkan kedua matanya, agar fokus pendengarannya lebih tajam.
Sepontan Jia Rong membuka matanya dan berkata, “Aku mendengarnya,” cetus Jia Rong.
Sesaat kemudian, Jia Yun pun turut membuka matanya dan berkata, “Aku juga,” ucapnya.
“Benar, bukan? Ternyata tebakanku tidak salah. Jia Rong, kau benar. Tidak ada ruang yang tercipta tanpa jalan keluar jika kita bisa memasukinya. Kita hanya perlu mencari sumber mata air. Namun, hati-hati jika ada jebakan di sekitar.” Yi Cai memperingatkan.
“Yi Cai, ternyata kau memiliki banyak kelebihan. Kau lebih berguna daripada Jia Yun si pemalas,” pujinya terhadap Yi Cai, sekaligus menyinggung tentang Jia Yun.
“Terserah katamu,” ucap Jia Yun tak perduli dengan apa yang dikatakan oleh Jia Rong.
“Apa kalian masih memegang pedang kalian?” tanya Yi Cai kepada keduanya, karena ia kehilangan pedangnya.
“Tidak, kami kehilangannya,” jawab Jia Rong setelah beberapa saat saling beradu pandang dengan Jia Yun.
“Ini aneh. Apakah kalian tidak merasa ada keganjalan dan kekurangan dari ruang hampa ini?” selidik Yi Cai.
“Hal apa itu?” tanya Jia Yun dengan nada tegasnya.
“Bukankah segalanya cukup mengganjal. Coba kalian ingat-ingat dengan baik. Sebelumnya, kita hampir terserap lumpur hisap. Kemudian, kita berhasil menghindarinya, dengan cara menaiki atap rumah. Coba pikirkan. Jika kita terserap bersama dengan rumah-rumah itu, ke mana perginya? Sedang di dalam sini, tak ada satu pun benda mati lainnya. Selain kita bertiga, tidak ada satu pun benda mati yang terserap ke dalam.” Yi Cai mengutarakan teorinya secara terperinci.
Teori yang dijelaskan oleh Yi Cai, membuat Jia Yun dan Jia Rong serempak membulatkan kedua matanya. Kala terlintas detail-detail yang dikatakan Yi Cai yang tak bisa dipungkiri kebenarannya.
“Tepat sekali. Kenapa tidak terpikirkan olehku? Jika awalnya kita terserap lumpur hisap bersama rumah-rumah di desa itu, mengapa rumah-rumah itu tidak terhisap sampai ke ruang hampa ini? Ruang hampa ini … apakah ini benar-benar ilusi?” Jia Rong memberikan tanggapannya tentang pemikiran yang dituangkan oleh Yi Cai.
“Sudah kukatakan sebelumnya, ruang ini hanyalah ilusi. Ilusi memang selalu seperti ini. Segalanya terkesan nyata, padahal hanya palsu belaka,” sahut Jia Yun.
“Lalu, jika kau membenarkan perkataanmu, apa kau tahu cara keluar dari ruang ini?” Jia Rong sengaja melontarkan pertanyaan penguji untuk Jia Yun.
“Pikirkan saja sendiri. Kau kan pintar, untuk apa aku yang berpikir?” celetuk Jia Yun.
“Kau!”
“Aku ada ide,” sahut Yi Cai.
“Jika benda-benda mati tidak terserap ke dalam sini, itu artinya kita harus menguji coba benda mati terlebih dahulu. Apa kalian memiliki benda lain di tubuh kalian, selain pedang?” tanya Yi Cai.
Sepontan, keduanya hanya terdiam dan saling menatap. Jari jemari kanan mereka menglus halus liontin giok yang mereka kenakan di pakaian mereka. Begitu sayangnya mereka untuk melepaskan benda itu, karena liontin kembar itu adalah pemberian dari orangtua mereka yang telah lama meninggal dunia.
Jika mereka tanpa ragu menguji coba menggunakan liontin giok milik mereka, tidak ada yang akan menjamin jika liontin mereka tidak akan menghilang.
Sekejap saja, Yi Cai paham betapa berartinya liontin milik Jia Rong dan Jia Yun, meskipun keduanya tak mengatakannya kepada Yi Cai.
“Aku ada ide,” cetus Yi Cai.
Perkataan Yi Cai membuat keduanya serempak menghunuskan netranya, menatap tajam wajah Yi Cai.
“K-kenapa … kalian begitu serius menatapku?” gagap Yi Cai, karena merasa tidak nyaman dengan tatapan yang ia dapat dari pendekar kembar itu.
“Yi Cai, ide brillian apa yang kau temukan?” tanya Jia Rong dengan tatapan berbinar kali ini.
“Aishh … berlebihan!” desis Jia Yun, mengomentari sikap Jia Rong.
“Diam saja kau!” perintah Jia Rong.
“Terserah!” balas Jia Yun.
Dari awal perjalanan, hingga saat ini, keduanya masih sempat-sempatnya memulai perdebatan. Sejujurnya, Yi Cai ingin menertawakan keduanya, karena mereka terkesan kekanak-kanakan. Akan tetapi, Yi Cai hanya menampilkan senyum semirik menanggapinya.
“Kenapa kau tersenyum?” tanya Jia Yun dengan nada datarnya.
“Tidak ada. Hanya saja … kalian sepasang saudara kembar cukup lucu. Dari awal, kalian tidak pernah akur. Selalu saja memperdebatkan sesuatu yang tidak diperlukan,” cetus Yi Cai.
“Itu karena dia yang teralu menyebalkan,” celetuk Jia Rong.
“Eh, kau yang selalu menggangguku. Aku tidak akan mengusik jika tidak diusik terlebih dahulu. Kau yang lebih sering membullyku dan mengejekku dengan sebutan tolol. Seakan diri sendiri seperti manusia paling pintar saja,” celetuknya.
“Aku memang pintar. Salahkan dirmu sendiri karena bodoh! Jika tidak bodoh, aku tidak akan menyebutmu tolol,” balas Jia Rong.
“Kau!” Jia Yun tak bisa menahannya lagi. Akan tetapi, ia tetap harus menahan emosinya. Karena bertengkar di saat seperti ini, bukanlah ide bagus.
“Sudahlah, sudah. Kalian berdua ini … senang sekali memperdebatkan detail kecil sekali pun. Apa kalian tidak lelah? Aku kira, sesama saudara itu saling mengasihi, terutama kalian anak kembar. Tapi, kalian berdua berbeda. Bukan hanya tidak akur, tapi selalu mengejek satu sama lain,” ujar Yi Cai.
“Aku tidak pernah mengejeknya. Dia yang selalu mengusikku. Jika dia tidak memulai pertengkaran lebih dulu, untuk apa aku bertengkar dengannya?” celetuk Jia Yun.
“Itu karena kau tidak beruntung! Salahkan dirimu sendiri yang sial. Kau pantas diejek,” balas Jia Rong.
“Aku bilang sudah … apa kalian masih ingin melanjutkan?” sindir Yi Cai.
Keduanya tak berkata-kata, tetapi saling membelakangi dengan tangan yang terlipat. Melihat tingkah laku mereka, Yi Cai hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
“Kita harus lebih serius. Kita tidak tahu bahaya apa yang akan kita alami di ruangan ini. Tempat yang paling tenang adalah tempat yang paling banyak memiliki perangkap maut,” cetus Yi Cai.