
“Sudah kubilang, aku adalah orang yang akan mewujudkan keinginan kalian. Jadilah pengikutku, maka apa pun yang kalian inginkan akan kuwujudkan,” balasnya.
Yi Cai menatap nyalang wajah makhluk yang menyerupai Jia Rong dengan tatapan kebencian. Kemudian, ia pun angkat bicara lagi, “Kau … kau bukan apa-apa. Jangankan mewujudkan apa yang kami inginkan, kau bahkan tidak mampu mewujudkan keinginanmu. Kau hanya ingin memanfaatkan kami dan kekuatan kami sebagai pengorbanan. Bagaimana mungkin kau mewujudkan apa yang kami inginkan. Sedangkan, kau saja menghilangkan kesadaran teman-temanku,” cetus Yi Cai.
Sudah di tahap ini, tak ada lagi yang perlu ditakutkan oleh Yi Cai. Yi Cai tak takut apa pun, meski ia sendiri bahwa kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki makhluk yang saat ini tengah dihadapinya. Yi Cai bukanlah tandingan makhluk itu.
“Hahahaha.” Makhluk itu tertawa nyaring, selang kemudian menghentikan tawanya. Sesaat kemudian, raut wajahnya mulai berubah menyeramkan. Tatapannya dipenuhi dengan amarah dan kebencian. Tubuhnya mengeluarkan asap tebal, yang membuatnya terlihat semakin kuat. “Sial! Tadinya, aku tak ingin membunuh kalian semua. Tapi, karena aku tak menyukai ucapanmu, aku tidak akan tanggung-tanggung. Aku akan mengantarkan nyawa kalian ke neraka satu persatu!” cetusnya dengan tatapan kilat kemerahan di ujung matanya.
“Tidak, makhluk jahat sepertimulah yang seharusnya pergi ke neraka!” balas Yi Cai.
“Hanya seorang anak lemah sepertimu … beraninya kau menghinaku! Baiklah, akan kutunjukkan neraka kepadamu!”
Makhluk itu benar-benar menampakkan kekuatannya. Energi kekuatannya membuat benda-benda melayang. Tampaknya, ia benar-benar murka karena perkataan Yi Cai.
Di sisi lain, Yi Cai pun bersiap melakukan perlawanan sebisanya. Meskipun ia menyadari bahwa dia bukanlah saingannya, tetapi dia tak ingin menyerah begitu saja menunggu kematiannya. Meskipun dia akan mati, ia tetap akan berjuang hidup. Setidaknya, dia memiliki usaha untuk menunda kematiannya.
“Hiattt!!!” teriaknya bersamaan dengan benda-benda melayang yang menyerang ke arah Yi Cai.
Tanpa kekuatan spiritual, Yi Cai hanyalah manusia biasa. Dia hanya bisa menghindari satu persatu benda yang menyerangnya. Bukan hanya satu atau 2 bunda yang menyerang ke arahnya, tetapi cukup dihitung sekitar ratusan benda yang tak henti menargetkannya.
Cukup beberapa kali penghindaran, sebuah balok kayu berhasil memukul keras tubuh Yi Cai hingga terpental jauh. Yi Cai benar-benar tak berdaya untuk melakukan perlawanan. Tatkala sebuah benda berhasil memberi pukulan maut untuk Yi Cai, makhluk itu berhenti menyerangnya.
Selangkah demi selangkah, makhluk itu menghampiri Yi Cai yang merasa sekujur tubuhnya seakan terasa tersayat-sayat tak berdaya. Ia tergeletak di permukaan tanah seraya menahan rasa sakit yang menyiksanya.
“Bagaimana? Apa pelajaranku ini dapat membuka matamu? Lihatlah kehebatan kekuatanku! Apa kau masih meragukannya? Tidak ada yang tak bisa kulakukan di dunia ini,” cetusnya.
Yi cai terdiam tak mengatakan apa-apa karena rasa sakit yang menjalari tubuhnya seakan membungkam mulutnya.
“Kenapa? Lihat! Kau sendiri tak berdaya menghadapi kekuatanku. Itulah mengapa … aku harus mengembalikan desa ini seperti semula. Keluargaku, saudara-saudaraku, mereka harus hidup kembali. Jika kalian membantuku mengalirkan darah kalian setiap hari, aku pasti akan mewujudkan mimpiku. Aku tak menginginkan apa pun, selain segalanya kembali seperti dulu. Aku dapat membentuk tubuhku sendiri, lalu membentuk tubuh keluargaku,” tuturnya. Nada bicaranya terdengar sedih dan putus asa.
Sementara Yi Cai, ia sama sekali tak berkutik. Dia sama sekali tak memperdulikan segala yang dikatakan oleh makhluk itu. Hingga pada akhirnya, Yi Cai tak sadarkan diri dan terbawa ke alam mimpi.
“Di mana aku?” Yi Cai terlarut dalam mimpinya dan menyadari keberadaannya yang terjerat di tempat asing. Ruangan yang memiliki elemen air yang cukup tinggi. Selain air dan lantai kaca, tak adahal lain di sana.
“Apa barusan … ada seseorang yang memanggilku?” pikirnya.
“Yi Cai,” panggilnya sekali lagi.
“Aku yakin tidak salah. Ada seseorang yang memanggilku. Tapi siapa?” gumamnya. “Siapa?!” teriak Yi Cai dengan suara lantang. “Siapa itu?! Keluarlah!” ulang Yi Cai.
“Yi Cai, benar itu namamu?” Pertanyaan dari suara asing.
“Benar. Siapa kau?” Yi Cai antusias dan tak ingin berbasa-basi.
“Siapa aku tidaklah penting. Kehadiranku di mimpimu, semata untuk membantumu,” ujarnya.
“Membantuku? Kenapa? Tunggu … apa mungkin, semua ini hanya mimpi? Tapi kenapa, semua terasa nyata?” Yi Cai benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi kepadanya. Apa yang ia alami saat ini sangatlah mustahil.
“Benar, ini adalah mimpi. Aku datang dan masuk ke dalam mimpimu, semata untuk membantumu,” ungkapnya.
Yi Cai termenung memikirkan detail yang terjadi sebelumnya, dan alasan mengapa dia bisa bermimpi. Tentu saja karena ia tengah tertidur, karena itu dia dapat bermimpi. Namun, dia tidak bisa mengingat alasan dia tertidur, hingga potongan ingatan terakhirnya terngiang di kepalanya.
Dia mengingat jika terakhir kali, ia sempat bertarung dengan makhluk yang memiliki energi jahat. Selanjutnya, ia tak bisa mengingat lagi. Detail selanjutnya tak bisa diingat, hingga dia berakhir di dalam mimpinya sendiri.
“Kehadiranku di mimpimu tak memili alasan lain, selain membantumu melawan roh jahat yang sempat kau hadapi. Aku harus memberitahumu, saat ini tubuhmu dan teman-temanmu harus diselamatkan. Roh jahat telah memulai mengeksploitasi darah murni yang mengalir di tubuh kalian. Jika kau tidak segera menolong dirimu dan teman-temanmu, kalian akan mati. Tubuh kalian akan mengering karena dia akan menyerap habis darah kalian,” jelasnya.
Penjelasannya membuat Yi Cai terhenyak. Dia tak ingin mati, juga tak boleh mati. Yi Cai tak ingin berakhir menyedihkan karena mati di tangan roh jahat yang tak sempat dia musnahkan.
“Kalau benar begitu, aku harus segera terbangun! Aku tebak, kau sengaja mengunci kesadaranku di dalam mimpi. Lepaskan kesadaranku, dan aku akan menyelamatkan diriku dan teman-temanku!” cetus Yi Cai.
“Aku bisa saja melepaskan kesadaranmu dan membuatmu terbangun dari mimpimu. Namun, sudahkah kau memikirkan rencanamu untuk melawan roh jahat itu? Apa kau akan bertindak tanpa memikirkan rencanamu mengalagkannya? Walaupun aku melepaskan kesadaranmu dan membuatmu terbangun, kau tidak bisa melakukan apa pun. Dia bukanlah tandinganmu. Jika kau bersikeras melawannya seperti sebelumnya, kejadian yang sama pasti akan tetap terulang. Dia tetap akan menyerangmu, hingga kau tak sadarkan diri. Alasan dia tidak membunuhmu dan teman-temanmu, karena kalian masih sangat berguna baginya. Dia tetap akan melanjutkan rencananya dan mengeksploitasi darah di tubuh kalian. Pada saat itu, kalian tetap akan mati!” tegasnya. Dia menyampaikan dengan lugas dan tegas agar Yi Cai dapat mengerti dengan mudah.
Saat ini, Yi Cai benar-benar tak bisa melakukan apa pun. Diam berarti menunda kematian, bergerak pun sama saja. “Lalu, apa yang harus kulakukan? Jika alasan kedatanganmu ke dalam mimpiku semata untuk menolongku, apa yang bisa kau lakukan untuk menolongku? Tolong bantu kami. Aku bukan takut mati, tapi aku tak boleh mati sebelum tujuanku tercapai,” pinta Yi Cai.