
“Kalau begitu, lakukan dengan cepat! Bunuh dia dan bebaskan dirimu!” perintah Ratu Chu Xia kepada Pangeran Fengxi.
Dengan tangan yang bergetar hebat, Pangeran Fengxi mengangkat tangannya dan meraih pedang yang ada di tangan Ratu Chu Xia.
Kemudian, Pangeran Fengxi melirik wajah Pangeran Yongping yang tak balas menatapnya, karena Pangeran Yongping sengaja memejamkan kedua netranya. Ia telah siap menyerahkan nyawanya kaa itu juga. Hanya masalah waktu Pangeran Yongping akan mati. Namun, Ratu Chu Xia sengaja mempercepatnya dengan meminjam tangan anaknya sendiri untuk membunuhnya.
Ratu Chu Xia melakukan semua upaya itu, hanya agar mental Pangeran Fengxi lebih terlatih. Di samping itu, tujuannya yaitu agar Pangeran Fengxi dapat mengingat kejadian kala dia membunuh Kakak yang paling ia sayangi, dengan tangannya sendiri. Ratu Chu Xia ingin agar Pangeran Fengxi mengingatnya dan menyimpannya dengan baik di dalam lubuk hatinya. Dengan demikian, ia tidak lemah hati ketika harus meeneruskan tahta kerajaan.
“Benar. Pegang dengan baik pedang itu dan tusuk jantungnya!” Ratu Chu Xia tetap mengawasi pergerakan Pangeran Fengxi yang perlahan-lahan berjalan mendekati Pangeran Yongping.
“Fengxi, apa itu kau?” Pangeran Yongping akhirnya angkat bicara kembali.
Pangeran Fengxi terhenyak tatkala Pangeran Yongping menyebut namanya. Akan tetapi, Pangeran Fengxi hanya terdiam membisu, tanpa berkata-kata. Kenapa? Karena ia benar-benar tak sanggung menggerakkan bibirnya yang gemetar karena berusaha menahan airmata yang bersikeras keluar dari kedua pelupuk matanya.
“Fengxi, dengarkan baik-baik. Jangan pernah bersalah atas apa yang kau lakukan selama ini. Kau adalah anak yang baik, dan suatu hari nanti akan menjadi Pemimpin Negara yang baik dan dihormati oleh Rakyat. Fengxi, memang benar… bebaskan dirimu, dengan cara membunuhku. Dengan begitu, kau tidak perlu terbebani atas semua yang terjadi kepadaku dan keluargaku,” ucap Pangeran Yongping.
“Banyak bicara! Jangan mengulur waktu dan membuangnya dengan Cuma-Cuma. Selesaikan semua di antara kalian dengan cepat! Persaudaraan yang cukup menyentuh, tapi bagiku menggelikan!” cerca Ratu Chu Xia dengan mulut kasar nan tajamnya.
“Aku tidak bisa melakukannya!” Pangeran Fengxi mulai goyah. Ia menghentikan langkahnya dengan pedang yang ia turunkan ujungnya menyentuh lantai penjara.
“Anak tidak berguna! Selesaikan dengan cepat. Atau… ibu sendiri yang akan melakukannya,” desaknya.
“Ibu! Aku … .” Perkataan Pangeran Fengxi terhenti seketika, tatkala menyadari lengannya yang digerakkan dengan kuat oleh ibunya.
Tanpa aba-aba, Ratu Chu Xia menggerakkan tangan Pangeran Fengxi yang memegang pedang. Ratu Chu Xia meminjam tangan Pangeran Fengxi, untuk menusuk jantung Pangeran Yongping sedalam mungkin. Kemudian, tanpa perasaa, ia mencabutnya.
Pangeran Fengxi layaknya boneka yang gerakan tubuhnya dikendalikan oleh ibunya. Pangeran Fengxi tertegun tatkala menyaksikan bahwa dirinya-lah yang telah menusuk jantung Pangeran Yongping dengan tangannya sendiri. Meskipun tidak secara langsung, tak dapat dipungkiri jika tangannyalah sarana senjata perenggut nyawa kakaknya sendiri.
Pangeran Yongping yang tak berdaya pun perlahan terbaring di lantai penjara. Ia menatap Pangeran Fengxi seraya menampilkan senyumnya, layaknya melepaskan segalanya tanpa bebat sedikit pun. Kemudian, kedua kelopak matanya terpejam dengan sempurna, disertai hembusan nafas terakhirnya.
“Tinggalkan! Kita harus segera pergi dari sini,” cetus Ratu Chu Xia. Ratu Chu Xia menyeret paksa Pangeran Yongping keluar dari penjara. Ratu Chu Xia bersama Pangeran Fengxi akhirnya keluar dari penjara dengan indentitas yang masih tersamarkan. Tak ada yang tahu jika pada malam itu keduanya berada di penjara. Bahkan, walaupun ada yang tahu mereka di sana, itu pun tidak akan mengancam keduanya.
Di mata publik, Pangeran Yongping adalah penghianat yang berani memberontak dengan tujuan penurunan takhta secara paksa. Awalnya, Pangeran Yongping hanya mendapat hukuman pelepasan gelar dan diasingkan dari Keluarga kerajaan dan nasabnya. Namun, Ratu Chu Xia berhasil mempengaruhi Raja untuk menghukum Pangeran Yongping seberat-beratnya.
Akhirnya, Raja menjatuhi Pangeran Yongping hukuman pelepasan tulang. Bukan hanya Pangeran Yongping saja, tetapi seluruh keluarga dari ibunya pun dijatuhi hukuman mati, dengan alasan agar tidak lagi terjadi sisa-sisa pemberontakan.
Hancur, begitulah yang dirasakan Pangeran Fengxi kala itu. Kakak yang sangat ia sayangi harus mengalami tragedi yang tak dapat diprediksi. Dan lebih tidak logisnya lagi, ia dipaksa untuk membunuh kakaknya dengan tangannya sendiri.
Bahkan di detik-detik terakhirnya, Pangeran Yongping tetap memihak Pangeran Fengxi. Ia menyaut pedang yang digenggam Pangeran Fengxi dan menggenggamnya dengan erat, lalu menusuk jantungnya untuk yang kedua kali.
Pangeran Yongping diklaim bunuh diri di dalam penjara, karena menyadari dosa-dosanya. Setidaknya, Pangeran Yongping mendapat sedikit pengampunan dari Raja, ayahnya sendiri, dengan alasan semacam itu. Begitulah kasus tentang tuduhan Pemberontakan Pangeran Yongping berakhir. Namun, nama Pangeran Yongping beserta keluarganya dihapus dari nasab kekaisaran, hingga namanya menjadi nama terlarang yang siapa pun menyebutnya, akan dihukum mati tanpa segan.
“Tidak ada. Sampai saat ini, tidak ada kabar tentang sisa-sisa keluarga Pangeran Yongping,” ujar Baginda Raja saat ini, yang tak lain Pangeran Fengxi. “Tunggu… aku penasaran dengan satu hal. Apakah ada ancaman baru dari keluarga kerajaan?” tanyanya.
Peramal perbintangan pun menjawab, “Ampun, Yang Mulia. Saya tidak kompeten. Sampai saat ini, saya belum bisa memprediksi apa yang akan terjadi dengan munculnya bintang baru yang perlahan menyamai kuatnya pancaran bintang milik Putra Mahkota,” tuturnya.
‘Jika bintang misterius itu milik keluarga Pangeran Yongping… tidak mungkin! Aku yakin pada masa itu, Ibu telah memerintahkan pengeksekusian seluruh keluarganya. Mungkinkah… ada yang berhasil selamat? Ataukah… bintang misterius itu bukan milik keluarga kerajaan? Tidak mungkin itu… tidak! Itu lebi tidak mungkin lagi. Ratu telah memastikan kematiannya. Hanya saja …,’ batin baginda Raja saling beradu, memikirkan segala kemungkinan yang berhubungan. “Jadi, bagaimana menurutmu? Apa yang harus kita lakukan dengan bintang baru itu?” Baginda Raja meminta pendapat.
“Yang Mulia hanya memiliki satu putra yang akan menjadi pewaris nantinya. Jika ada keluarga lain yang berusaha menyaingi kekuatan dan pengaruh Putra Mahkota, maka, kita tidak bisa membiarkannya. Kita harus mengantisipasi kemungkinan terburuknya. Jika benar kekuatan baru itu akan menyaingi Putra Mahkota, artinya, posisi penerus Putra Mahkota akan terancam,” jelasnya.
Baginda Raja menyipitkan kedua netranya. Ketika Baginda Raja melakukan itu, artinya, ia sedang sangat khawatir akan sesuatu. Dan sesuatu itu adalah… Putra Mahkota dan posisinya.
“Jadi, maksudmu … .” Baginda Raja dengan sengaja menggantung perkataannya.
“Benar. Kita harus menemukan sosok itu. Jika kita bisa mengendalikannya, kita bisa memanfaatkannya untuk membantu Putra Mahkota di sisinya. Namun, jika sosok ini liar dan tak terkendali, yang harus kita lakukan yakni, mengantisipasi kemungkinan terburuk yang mengancam Putra Mahkota. Kita harus memusnahkannya!”