ICE & FIRE IMMORTALITY

ICE & FIRE IMMORTALITY
MEMENANGKAN PERTARUNGAN



“Aku?” Yi Cai menunjukkan telunjuknya kepada dirinya sendiri.


“Iya, kau,” jawab salah seorang pria berpakaian serba putih. Sebenarnya, Yi Cai sangat bingung membedakannya, karena wajah keduanya terlalu mirip. Atau bisa jadi, mereka berdua adalah anak kembar.


“Aku … sebenarnya, aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya datang menolong orangtua yang dipukuli tanpa belas kasihan, dan wanita muda yang tengah dilecehkan,” jawab Yi Cai apa adanya, tak menambah-nambahkan hal lain yang dia sendiri tidak mengetahui kebenarannya.


“Baiklah, jawaban darimu saja sudah cukup untuk membuktikan apa yang sebenarnya telah terjadi,” ujarnya. “Kau …,” tunjuknya kepada pemuda yang membuat keributan. “Seharusnya, kau merenungkan kesalahanmu, bukannya menuntut sebuah pembenaran. Haruskah, aku menghitungkan kesalahanmu satu persatu? Pertama, kau memerintah anak buah premanmu untuk memukuli seorang pria tua tak berdaya, hanya semata karena ia belum membayar hutangmu. Kedua, kau berencan menjual seorang gadis muda ke rumah bordil. Ketiga, kau memporak-porandakan pasar dan membuat tanah yang gersang ini retak dalam,” cetusnya. Ia menghitung satu demi satu kesalahan yang dilakukan oleh pemuda arogan itu.


‘Sialan. Hari sial selalu datang ketika bertemu pembawa sial buruk rupa itu. Mereka berdua terlihat jauh lebih hebat dariku. Jika aku sengaja menentangnya, mereka pasti akan membuatku babak belur,’ batinnya sembari melirik lengannya yang terluka karena cambuknya sendiri. “Baiklah, aku akui kesalahanmu. Aku akan memberikan mereka beberapa waktu lagi untuk melunasi hutang mereka. Sedangkan kau …,” tunjuknya kepada Yi Cai dengan geram. “Urusan di antara kita belum beres. Kali ini, aku juga akan melepaskanmu. Tapi suatu hari nanti, aku akan memprhitungkan semua yang kau lakukan padaku hari ini,” cetusnya. “Semua, kita pergi!” himbaunya kepada para anak buahnya.


“Tuan, apa kau akan membiarkannya begitu saja?” tanyanya.


“Tolol! Sudah cukup kalian mempermalukan diriku. Jangan membujukku untuk lebih mempermalukan diriku sendiri,” cercanya dengan nada berbisik kepada anak buahnya.


“B-baik, Tuan. Ayo, kita cabut!” ajaknya kepada rekan-rekannya.


Pemuda dan beberapa preman bawahannya pun berlalu pergi meninggalkan mereka semua. Setelah kepergian mereka, pasar pun menjadi ramai kembali, selang beberapa menit kemudian. Para pengunjung dan penjaja pun tak perlu takut lagi, para preman itu mengacaukan mereka.


Salah seorang pria berpakaian putih itu menanyakan keadaan Yi Cai, “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya.


Yi Cai membalasnya dengan anggukan. “Aku baik-baik saja,” jawab Yi Cai.


“Kau … seorang kultivator jalan pedang? Siapa namamu? Tidak, bagaimana jika kita mengobrol sejenak di sana?” tunjuknya ke sebuah kedai yang sempat disinggahi Yi Cai sebelumnya.


Yi Cai hanya menganggukkan kepalanya, karena ia pun tak memiliki alasan untuk menolak tawaran.


Kemudian, mereka bertiga pun mendatangi salah satu kedai yang sempat disinggahi oleh Yi Cai. Namun, mereka memilih bangku yang berbeda dari tempat Yi Cai sebelumnya.


“Pelayan!” panggilnya kepada pelayan kedai.


Seorang pelayan bergegas mendatangi meja tempat ketiganya singgah. Kemudian, ia pun bertanya seperti biasa melayani seorang pelanggan.


“Apa yang ingin kalian pesan?” tanyanya.


“Apa saja yang kalian sediakan?” balasnya.


“Kami menjual teh dan beberapa camilan kering,” jawabnya.


“Baiklah, silakan menunggu,” ucap pelayan selanjutnya berlalu pergi memenuhi pesanan.


“Ah, benar. Aku sendiri belum memperkenalkan diriku. Namaku Jia Rong, dan dia adikku Jia Yun. Kau mungkin akan sedikit sulit membedakan kami berdua, karena kami memang anak kembar,” ucapnya memperkenalkan diri.


Sejak kali pertama bertemu, Jia Rong yang paling banyak berbicara. Sedangkan adiknya yang bernama Jia Yun lebih banyak diam, karena sifat keduanya memang bertolak belakang. Jia Rong lebih ramah kepada orang lain, sedangkan Jia Yun pendiam dan terkesan dingin.


Satu hal yang dipikirkan oleh Yi Cai saat ini, hanya bisa ia bantinkan dalam sanubarinya, ‘Apa selama ini … pandanganku tentang para manusia itu salah? Aku pikir, semua orang itu jahat, tapi ternyata tidak juga. Mereka terlihat orang baik-baik, dan juga tidak mempermasalahkan topeng yang menutupi wajahku,’ batinnya.


“Kenapa kau hanya diam? Apa kau tidak ingin memperkenalkan dirimu kepada kami?” tanya Jia Rong.


“Aku … namaku Yi Cai,” ucapnya sedikit gugup, karena ia baru pertama kali berkomunikasi dengan orang lain secara santai, selain kepada gurunya sendiri.


“Jadi, namamu Yi Cai. Ilmu pedangmu luar biasa. Kalau boleh tahu, kau berasal dari sekte mana?” tanyanya.


“Hanya dasar saja yang kupelajari, sekadar untuk melindungi diri dan membantu orang lain. Aku bukanlah murid yang berasal dari sekte mana pun. Ilmu pedangku … .” Hampir saja Yi Cai mengungkap jika ia memiliki seorang Guru. Namun, logikanya berpikir bahwa ia harus merahasiakan tentang gurunya, karena hal itu pun tak terlalu diperlukan. “Aku mempelajarinya sendiri,” sambungnya.


“Jadi, kau hanya belajar sendiri? Tanpa seorang Guru? Tanpa seorang Guru pun kau bisa sehebat itu. Kau bahkan bisa mengontrol kultivasi hati agar tetap tenang dalam keadaan genting sekali pun. Maaf, jika sebelumnya kami berdua sudah memperhatikanmu sejak pertama kali kau bertarung dengan murid balai roh pelindung arogan itu. Kami memperhatikan gerak-gerik dan teknik pedangmu yang cukup kuat, dan sedikit unik. Jujur, kami berdua belum pernah melihat teknik pedang yang kau pelajari itu. Itulah mengapa, kami tidak bisa menebak kau berasal dari sekte mana,” tuturnya.


“Aku pikir, hanya beberapa perlawanan kecil saja yang ku tunjukkan. Selebihnya, aku lebih banyak menghindar. Untuk bantuan kalian berdua, aku belum sempat berterimakasih. Terimakasih, karena telah membantuku tepat waktu,” ucap Yi Cai.


“Tidak masalah. Sesama kultivator yang berjalan di jalan kebenaran, kita harus saling membantu,” balasnya. “Memang cukup mengejutkan jika kau tidak berasal dari sekte mana pun. Memang tidak sedikit pendekar yang tak ingin keterikatan dengan sekte mana pun. Mereka lebih bebas memilih jalan hidupnya sendiri, berkelana ke penjuru Negeri. Sepertinya, suatu hari kau akan menjadi salah satu dari mereka,” ujarnya.


“Mungkin. Kedengarannya, cukup menarik,” balas Yi Cai.


“Ya, cukup menarik karena bebas melakukan apa pun. Tidak seperti kami yang tumbuh di salah satu sekte yang memiliki banyak aturan dan norma-norma yang perlu diperhatikan.” Jia Yun yang sejak tadi terdiam, akhirnya mulai angkat bicara.


Jia Rong hanya menanggapi tawa kecil untuk menanggapi ucapan adiknya.


“Benar, memang benar seperti itu. Karena terlalu banyak aturan yang mengekang, Jia Yun adikku sering sengaja melanggarnya,” ungkap Jia Rong kepada Yi Cai.


“Hah?” Yi Cai tercengang, sedikit tidak percaya jika seorang pendiam seperti Jia Yun juga bisa melanggat aturan yang ditetapkan di dalam sekte mereka.


“Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau pasti tidak percaya jika perkataanku ini benar. Tapi, itulah faktanya. Jia Yun lebih sering melanggar aturan, daripadaku. Dia juga sering mendapat hukuman, sampai namanya terkenal satu sekte,” ungkap Jia Rong.