
"Aaarggghhh!!! Kenapa ini? Kenapa tubuhku terasa panas? Aaaaarggh tolong aku! Tolong aku!!!" lirihnya meminta pertolongan. Namun, tak ada seorang pun yang menolongnya. "Aaaaaaarrggghh!!!" Dia meraung kesakitan tatkala energi spiritual yang sangat kuat mencabik-cabik tubuhnya dan mendidihkan darahnya, hingga tubuhnya meledak, dan darahnya, hingga anggota tubuhnya berceceran ke mana-mana.
Salah seorang murid yang melakukan perburuan menyerap energi spiritual dari kelereng monster roh, lalu berubah menjadi sangat kuat. Setelah itu, dia membunuh semua temannya, dan melanjutkan menyerap energi spiritual monster roh lainnya. Karena kerakusannya, tubuhnya yang tak dapat menampung kuatnya energi secara bersamaan akhirnya meledak. Dia mati mengenaskan pada saat itu juga.
Sedangkan para petinggi dari pusat balai roh pelindung telah gagal mendapatkannya. Dan, pada akhirnya, mereka hanya bisa menggunakan ayah Xiao Liu yang masih terkurung di sel gembok suci.
Ketika para petinggi yang biadab itu membunuh ayah Xiao Liu dan menyerah energi kelereng spiritualnya, ibu Xiao Liu datang menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri.
"Kalian para manusia biadab! Suatu hari, kalian pasti akan mendapatkan balasnnya. Aku bersumpah akan hal itu!" cetus ibu Xiao Liu.
Sebelum para petinggi itu berhasil menyerap energi spiritual milik ibu Xiao Liu, mereka awalnya melakukan pertarungan terlebih dahulu. Ibu Xiao Liu hanya ingin mendekati jasad kekasihnya. Dan ketika dia telah berhasil menyentuhnya, ia bergegas memeluknya dengan erat dan menangisinya.
"Berhenti melawan! Sebentar lagi, kau juga akan mati sepertinya. Bukankah sangat ironis? Kau datang mengantarkan nyawamu sendiri hanya demi kekasihmu?"
Ibu Xiao Liu pun menjawab, "Ya, aku memang mengantarkan nyawaku sendiri, tapi bukan kalian yang akan merenggutnya. Aku datang bukan untuk mati, tapi untuk hidup. Untuk apa aku tetap hidup, jika dia tidak hidup bersamaku? Aku akan hidup bersamanya, bahkan dalam kematian! Aaaarrrgghh!!!"
Ibu Xiao Liu membunuh dirinya sendiri dengan cara menghancurkan kelereng spiritual di dalam tubuhnya. Dan pada saat itu, para petinggi masih sempatnya untuk menyerap energi dari kelereng spiritual milik ibu Xiao Liu yang telah menyebar karena dihancurkan.
"Tunggu apa lagi? Serap energi yang menyebar sebelum terbang jauh!"
***
"Aku akan menggunakan darah bintang di dalam tubuhku untuk menolongnya," cetus Tao Hua.
"Putri, mohon jangan lakukan!" larang Xiao Liu.
Larangan dari Xiao Liu sama sekali tak menggerakkan hati Tao Hua. Dia adalah gadis yang keras kepala. Larangan dari seseorang, bahkan dia anggap sebagai perintah mutlak yang harus dia lakukan.
Tanpa menunggu waktu lama, Tao Hua menarik jepit rambutnya dan menggoreskan ke tangannya sendiri.
"Putri!!!" Sayang sungguh sayang, semuanya terlambat. Xiao Liu sekalipun tam bisa menghentikan tindakan Tao Hua.
Tao Hua segera meneteskan darah yang mengalir di tangannya ke mulut pemuda yang sekarat itu.
"Putri ...," lirih Xiao Liu.
"Kau tidak bisa mencegahlu lagi. Aku telah meminumkan darahku kepadanya. Sebentar lagi, dia pasti akan pulih dan sadarkan diri," cetus Tao Hua. "Sebelum dia sadarkan diri ... Xiao Liu, ikat tubuhnya dengan tali dewa," perintah Tao Hua.
Xiao Liu semakin tidak mengerti dengan berbagai macam hal yang direncanakan oleh tuannya. Tao Hua menyelamatkan pemuda yang tak dikenal tanpa habis pikir, kemudian ia mementingkan Xiao Liu untuk mengikatnya dengan tali dewa. Tali dewa adalah tali terkuat dari semua tali yang dipakai oleh para pendekar.
"Putri, apa yang kau rencanakan?" tanya Xiao Liu.
"Aiishhh ... banyak tanya! Lakukan saja, alasannya biar aku yang tahu," timpal Tao Hua.
Xiao Liu menghela nafasnya. Tanpa banyak berpikir, dia mengikatkan tali dewa mengelilingi tubuh pemuda yangbar saja disembuhkan oleh Tao Hua.
Dengan darah bintang yang mengaliri tubuh Tao Hua, energi Qi milik pemuda yang awalnya saling berbentrokan, kini kembali seimbang.
Darah bintang yang mengaliri tubuh Tao Hua memang dikenal tak biasa. Karena darah bintang yang dimilikinya, Tao Hua tak bisa melatih budidaya, karena akan berakibat fatal pada merdian di tubuhnya. Dan juga, darah bintang adalah alasan ayahnya mengurung Tao Hua dan tak membiarkannya pergi ke dunia luar.
Darah bintang yang dikenal dapat mengobatkan segala penyakit yang dimiliki Tao Hua tak boleh diketahui oleh orang lain. Jika sampai ada yang mengetahui bahwa Tao Hua memiliki darah bintang, keselamatannya pasti akan terancam. Bukan hanya manusia saja yang menginginkannya untuk penyembuhan, tetapi makhluk-makhluk lain seperti monster akan terbuai saat mencium seseorang yang memiliki darah bintang.
Para monster yang mengetahui seseorang yang memiliki darah bintang, pasti akan terus mengejarnya hingga dapat. Alasannya, karena darah bintang yang dimiliki itu seseorang dapat menjadikan para monster itu hidup abadi.
Mungkin, Tao Hua tidak menyadarinya. Namun, sepanjang jalan dia selalu diikuti oleh monster-monster yang menargetkan darah bintang di dalam tubuhnya. Akan tetapi, karena Xiao Liu yang melindunginya, para monster itu tak berani mendekat, karena tak yakin dapat mengalahkan kekuatan monster roh rubah berekor sembilan. Itulah sebabnya mengapa dari awal Xiao Liu terus membujuk agar Tao Hua kembali. Dia tak ingin sesuatu terjadi pada Tao Hua, karena kelalaian menjaganya.
"Xiao Liu, kita harus membawanya keliar dari gua ini," himbau Tao Hua.
"Membawanya keluar? Putri, jangan bilang, Anda tidak akan meninggalkannya, tapi akan membawanya bersama?" tenan Xiao Liu, karena dia sedikit terkejut dan tercengang tatkala mendapat perintah aneh dari tuannya.
"Tentu saja! Aku sudah menyelamatkannya. Di dunia ini, tak ada hal yang disebut gratis. Aku harus meminta imbang yang setimpal," cetus Tao Hua. Dia telah merencanakan seribu list rencana dalam pikirannya, tentang bagaimana ia akan memperlakukan pemuda yang telah diselamatkannya.
"Lantas, apa yang Anda rencanakan?" tanya Xiao Liu.
"Rahasia. Tapi awal mula, aku akan menjadikannya sandera. Dia harus menuruti semua kemauanku," ungkap Tao Hua.
'Gawat sudah, gawat. Aku telah meremehkan Putri Tao Hua. Siapa yang akan berhasil dan mampu mengikuti rencananya. Saat ini, aku sedikit kasihan dengan pemuda manusia ini. Dia terbebas dari maut, tapi harus berjalan di jembatan maut lagi,' batin Xiao Liu sembari memandangi tubuh pemuda yang dianggapnya cukup kasihan.
"Tunggu apa lagi? Cepat bawa dia keluar!" perintah Tao Hua.
"Baiklah." Tanpa membantah, Xiao Liu menjalankan perintah dari tuannya.
Xiao Liu merangkul tubuh pemuda yang belum sadarkan diri, bersama Tao Hua yang juga memeluk erat tubuhnya. Dalam hitungan detik, secepat kilat Xiao Liu membawa mereka keluar dari gua.
"Dia ... Apa dia sebentar lagi sadar?" tanya Tao Hua.