ICE & FIRE IMMORTALITY

ICE & FIRE IMMORTALITY
KEBAJIKAN DAN KEBIJAKAN



“Benarkah?” Hanya satu kata yang terlontar dari mulut Yi Cai.


“Tentu saja! Guru kami sampai lelah menghukumnya. Yang lelah bukan yang dihukum, tetapi yang menghukum. Saking lalahnya, Guru sampai membiarkannya gentayangan melanggar peraturan. Jia Yun memang tidak biasa. Itulah mengapa, dia mendapat julukan penghukum algojo.” Jia Rong tak bosan-bosannya meledek adiknya sendiri.


Sedangkan Jia Yun, sama sekali tak menggubrisnya. Dia membiarkan Jia Rong menceritakan tentang kejeleken-kejelekannya kepada Yi Cai. Sementara Jia Yun, dengan santainya menyantap camilan kacang kenari yang tersaji di atas meja.


“Wah! Hebat sekali. Siapa yang menyangka, jika dia seperti itu. Mungkin, itulah yang dimaksud diam-diam menghanyutkan,” timpal Yi Cai.


“Ya, benar. Dia selalu seperti itu, selalu membuat orang lain tercengang dengan perbuatannya,” balas Jia Rong.


“Oh ya, kenapa dia Jia Yun bisa disebut penghukum algojo?” tanya Yi Cai.


“Hmm … itu karena para algojo yang ditugaskan untuk menghukum murid nakal di sekte kelelahan menghukum Jia Yun. Mereka yang kelelahan ketika Jia Yun dihukum ratusan pukulan papan kayu,” jelas Jia Rong.


“R-ratusan? Dia sekuat itu? Wah, hebat! Apa dia bukan manusia?” Yi Cai histeris mendengarnya.


“Mungkin, tubuhnya telah kebal dengan rasa sakit. Atau bisa jadi, peka rasa terhadap rasa sakitnya sudah hilang,” jawab Jia Rong secara acak. Namun, Yi Cai yang berhati polos, dengan mudah mempercayainya begitu saja.


“Aaah… jadi begitu,” gumam Yi Cai.


“Hei, kalian berdua! Apa kalian sudah selesai menggosipkan orang yang duduk di meja yang sama dengan kalian? Seakan-akan, kehadiranku di sini tak dianggap,” sindir Jia Yun.


“Hei, bocah bandel! Kami hanya sedang berbincang-bincang santai. Karena kita bertiga di meja yang sama, salahkan dirimu sendiri yang tidak bergabung dalam pembicaraan. Satu piring kacang kenari, bahkan kau habiskan sendiri,” balas Jia Rong seraya melirik piring yang bersisi kacang kenari yang hampir tandas oleh Jia Yun.


Jia Yun merasa tersindir, lalu berhenti menghancurkan kulit kacang kenari. Kemudian, ia menuangkan teh ke gelasnya, lalu menyeruputnya.


Reflek Jia Rong dan Yi Cai memperhatikan Jia Yun yang tengah menyeruput teh miliknya dengan santai. Jia Yun yang menyadari dirinya tengah diperhatikan pun berhenti menyeruput teh di gelasnya.


“Kenapa? Apa aku terlalu tampan, hingga kalian menatapku seserius itu?” Jia Yun membanggakan dirinya sendiri di depan Jia Yun dan Yi Cai.


“Kita memiliki wajah yang sama. Apa artinya, kau memujiku juga?” balas Jia Rong.


“Aisssh …,” desis Jia Yun.


Yi Cai termenung dalam diamnya. Kata ‘tampan’ membuatnya merasa seakan tersinggung dengan satu kata tersebut. Ia sangat sadar akan dirinya yang memiliki wajah buruk rupa, hingga membuatnya merasa rendah serendah rendahnya.


“Ah? Kenapa? Ada apa?” gagapnya.


“Apa yang kau lamunkan? Ada kami berdua di sini, tapi kau sempat-sempatnya melamun,” sindirnya.


“Aku … aku hanya … apa kalian tidak merasa jijik denganku?” Yi Cai akhirnya berterus terang atas apa yang mengganggu pikirannya.


Jia Rong dan Jia Yun saling bertemu pandang. Sejenak kemudian, keduanya saling mengernyitkan alis secara bersamaa. Setelah itu, serentak mereka menatap wajah Yi Cai.


“Jijik? Kenapa harus jijik? Apa kau lahir dari tumpukan tai, atau kencing kuda? Meskipun kau lahir dari tumpukan tai atau kencing kuda, saat ini kau tidak bau kotoran.” Blak-blakan Jia Rong mengatakan hal itu kepada Yi Cai.


Mendengar perkataan Jia Rong, Yi Cai merasa sangat geli. Ingin sekali ia tertawa lepas, tetapi ia dengan sengaja menahannya agar itu tidak terjadi.


“Sayangnya, aku tidak lahir dari tumpukan tai, ataupun kencing kuda. Semua manusia lahir dari rahim wanita. Benar, bukan? Hanya … aku bertumpu pada wajahku. Kalian pasti dapat menebaknya dengan mudah, tentang alasanku mengenakan topeng ini. Aku tidak memiliki paras setampan wajah kalian berdua. Dan … jika saja kalian melihat wajah di balik topengku ini, kalian pasti tidak akan pernah berbicara denganku. Itulah yang orang lain katakan tentang wajahku, yang mereka bilang menjijikan,” jelas Yi Cai.


“Hei, apa setiap kau bertemu orang lain, kau menilai ketampanan mereka dan membanding-bandingkannya?” Pertanyaan dari Jia Yun, membuat Yi Cai terhenyak seketika.


Semenjak Yi Cai dihina karena memiliki wajah buruk rupa, ia mulai mengamati setiap garis dan sudut wajah setiap orang. Dia menilainya dengan angka, lalu membandingkannya dengan wajah lain. Dia sendiri tidak sadar, jika dia sendiri secara tidak sengaja membandingkan detail fisik manusia, dan mengeliminasi yang ia anggap tak sebanding.


“Jijik? Apa kita punya hak untuk merasa jijik terhadap wajah orang lain? Kita semua dilahirkan dengan wajah berbeda-beda, tapi tidak termasuk kami berdua yang memiliki wajah sama. Dan meskipun kami memiliki wajah sama, tetapi sikap kami bertolak belakang. Di samping itu, jika saja semua manusia di dunia ini memiliki wajah yang mirip, bagaimana kita bisa membedakannya? Semua orang memiliki ciri khas tersendiri. Ada yang terlahir buruk rupa, biasa saja, dan juga ada yang bisa dikatakan sempurna. Namun, tidak ada manusia yang sempurna. Kelebihan seseorang, bukan hanya tentang bagaimana rupa wajah mereka saja. Kita memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Daripada berfokus pada kekurangan kita, ada baiknya kita mengasah keterampilan kita. Benar begitu?” Jia Rong memberikan motivasi yang cukup membuat hati Yi Cai tergerak.


Entah mengapa, hatinya terasa sakit tersayat. Akan tetapi, di sisi lain ia merasa sangat bahagia. Tidak pernah menyangka, jika ia bisa bertemu seorang yang berhati bersih dan murni. Seseorang yang memiliki pemikiran positif dan lugu seperti kembar Jia Rong dan Jia Yun.


“Eitt … apa kau ingin menangis? Hei, ada apa denganmu? Sejak kapan seorang pria merasa terharu dengan perkataan seperti ini? Hatimu terlalu lemah seperti para gadis,” ujar Jia Yun, kala ia memandang binar netra Yi Cai yang berkaca-kaca.


“Hei, tutup mulutmu! Perkataanmu itu tidak pantas. Kasar sekali!” protes Jia Rong, mengingatkan Jia Yun agar bersikap baik.


“Iya, iya, aku tahu. Yi Cai, maafkan aku. Aku menarik ucapanku barusan,” ucap Jia Yun dengan nada datar khasnya.


“Tidak masalah. Jia Yun tidak salah apa pun. Aku memang memiliki hati yang lemah dan mudah terharu dengan hal-hal kecil tentang perasaan, karena aku belum pernah merasakan kehangatan perasaan dari sesama manusia. Sebelumnya, aku pikir manusia itu jahat dan manipulatif. Jika kita tidak menguntungkan bagi mereka, mereka tidak akan mengizinkan kita berada di sekitar kita. Terlebih, karena wajahku yang tidak sedap dipandang, mereka membenciku tanpa alasan,” tutur Yi Cai.


“Jangan khawatir. Tidak semua manusia seperti yang kau bayangkan. Hanya manusia rendah saja yang suka merendahkan sesamanya. Manusia terhormat tidak akan pernah melakukan sesuatu yang merugikan orang lain,” cetus Jia Rong.