ICE & FIRE IMMORTALITY

ICE & FIRE IMMORTALITY
MEMBUNUHMU!



Sejenak para murid balai roh pelindung merenungkan perihal yang baru saja dikatakan oleh temannya.


"Dia benar. Apa yang dikatakannya memang tidak salah. Kita bagi mereka hanyalah murid bodoh yang hanya dijadikan sarana untuk menangkap para monster roh. Sedangkan monster yang kita tangkap, kita akan menyerahkannya begitu saja kepada para petinggi. Mereka akan menyerap energi spiritual di dalam kelereng dan tak membiarkan kita memilikinya. Hekh! Kita memang bodoh dan dianggap terlalu bodoh oleh mereka," kata temannya yang lain.


"Lalu, apa yang kau rencanakan?" tanya yang lain kepada salah seorang murid yang pertama mempengaruhi mereka.


Murid balai roh itu pun menjawab, "Bagaimana jika kita membunuhnya terlebih dahulu dan menyerap energinya secara bersamaan? Bagaimana menurut kalian?" Meminta pendapat kepada teman-temannya seraya menampilkan senyuman licik yang terulas di ujung bibirnya.


Para murid dari Balai roh pelindung telah berhasil menangkap setidaknya sekitar 6 monster roh yang menyamar menjadi manusia. Karena mereka telah berhasil menangkapnya, para monster roh itu telah kembali ke wujud selestialnya dan tak lagi kuasa untuk melawan, karena kekuatan spiritual mereka telah dikunci.


"Menyerapnya secara bersamaan? Apa kau gila? Bagaimana jika tindakan kita diketahui oleh mereka? Mereka pasti tidak akan meloloskan kita begitu saja," bantah salah seorang murid.


"Hei, kita sudah menangkap monster roh yanh telah berumur sekitar 500-an tahun ini dengan kemampuan kita sendiri. Apa kau akan dengan senang hati menyerahkannya begitu saja? Kita yang sudah berjuang, tapi mereka yang menerima hasil. Bodoh jika kalian merasa semua itu adil. Di samping itu, kita juga belum melapor tentang berapa monster roh yang berhasil kita tangkap. Mereka tidak akan tahu jika kita telah menyerap salah satunya," cetusnya.


Perkataan salah seorang murid itu menyadarkan logika para murid balai roh pelindung yang telah berhasil menangkap monster-monster roh yang telah mereka perjuangkan bersama.


Mereka hanya ingin keadilan atas kerja keras mereka sebagai bentuk pengakuan. Akan tetapi, tampaknya atasan dari pusat balai roh pelindung tak akan membiarkan para murid itu menyerap energi kelereng spiritual yang terkandung di dalam tubuh para monster roh.


Atasan-atasan yang bertugas di pusat balai roh pelindung telah bersiap menantikan para murid balai roh pelindung yang berhasil menangkap para monster roh yang telah berubah wujud menjadi manusia. Sedang, tatkala para murid yang pada akhirnya berhasil menangkap monster-monster roh hanya akan diberikan kehormatan dan hadiah-hadiah seperti biasanya.


Setelah itu, para atasan itu yang akan membunuh para monster roh dan menyerap energi dari kelereng spiritual mereka secara bersamaan. Sementara para murid lainnya tak diberi peluang untuk menikmati hasil kerja kerasnya. Mereka hanya akan terus memburu monster roh yang berhasil mereka tangkap di hutan belantara.


"Yang dikatakannya memang semua benar. Kita telah mati-matian menangkap monster roh yang ... Kekuatannya pun tidak lemah dilawan. Tapi, kita nanti tak akan merasakan hasil kerja keras kita sendiri. Betapa bodohnya kita menjadi budak suruhan para petinggi itu. Para petinggi itu pasti berpikir bahwa murid-murid balai roh pelindung hanyalah pion yang paling berguna sebagai jalan pintas peningkatan kekuatan mereka," ujar salah seorang murid balai roh pelindung yang ikut memperkuat opini.


"Jadi, akan kita lakukan di sini? Apa kita benar-benar akan membunuh salah satu monster roh dan menyerapnya secara bersama?" tanyanya.


"Kenapa? Apa kau takut? Jika kau takut, adukan saja perihal yang kami lakukan, dan kami akan membungkam mulutmu."


"Apa maksudmu?"


"Membunuhmu!"


***


"Yi Cai, apa kau telah menemukan bunga patah hati?" seru Jia Yun dari jarak sekitar 30 meter. Dia menyerukan nama Yi Cai dengan lantang, sedang Yi Cai yang masih sibuk mencari bunga patah hati.


Yi Cai belum menemukan bunga patah hati yang mereka cari. Kemudian, ia pun menjawab, "Aku belum menemukannya!" jawab Yi Cai dengan suara mantan pula.


"Apaan? Betapa bodohnya aku. Apa sejak tadi, aku hanya mencari-cari tanpa tahu bagaimana ciri khasnya?" gumamnya.


Jia Yun pada akhirnya menyadari tentang kebodohannya. Jia Yun terlalu tergesa-gesa, hingga terkadang membuat otaknya menjadi sedikit terhambat, atau agak lambat.


Karena telah menyadari kebodohannya, ia pada akhirnya berhenti mencari secara berpencar.


Jia Yun berjalan menghampiri Yi Cai seraya berkata, "Yi Cai, apa kau sudah menemukannya?" tanya Jia Yun.


Suara Jia Yun terdengar semakin jelas. Insting Yi Cai merasa bahwa Jia Yun telah berjalan semakin dekat menghampirinya.


"Cerewet sekali! Aku rasa, awal aku bertemu denganmu, kau banyak terdiam. Kenapa sekarang kau banyak omong sih?!" protes Yi Cai tanpa berbalik memandang Jia Yun yang telah berdiri tepat di baliknya.


Yi Cai tetap sibuk mencari-cari sesuatu di balik rerumputan yang cukup lebat. Dia berusaha menemukan bunga patah hati yang mereka cari di sana.


"Hei, Yi Cai! Kau ini tidak sopan sekali. Ada orang yang tengah mengajakmu bicara, tapi kau tanpa etika mengabaikannya begitu saja, seakan tak menganggapku. Aku ada di belakangmu!" protes Jia Yun.


"Hufffttt ... ." Yi Cai menghela nafas panjang seraya berhenti melakukan pencariannya. "Apa? Kenapa? Memangnya kenapa jika kau ada di belakangku? Apa itu artinya, kau sudah menemukan bunga patah hati yang kumaksud? Tidak, kan? Tentu saja tidak. Kau pasti belum menemukannya. Kau pasti akan berteriak lantang jika kau telah menemukannya," kata Yi Cai reflek berbalik menatap sosok Jia Yun dari ujung kaki hingga wajahnya.


Karena perkataan Yi Cai sedikit menyinggungnya, Jia Yun respek menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. Tingkah Jia Yun seperti itu dapat dibaca dengan mudah oleh Yi Cai.


"Tidak, kan? Tentu saja tidak. Kau pasti tidak menemukannya. Kau tidak akan menemukannya," ucap Yi Cai dengan malas. Kemudian, ia kembali melakukan pencariannya.


"Sebenarnya ... Aku tidak tahu ciri-ciri bunga yang kau sebut dengan nama bunga patah hati. Aku ... Bahkan ... Baru mendengarnya," ungkap Jia Yun dengan ragu. Yah ... Meskipun dia sedikit malu untuk mengungkapkan betapa mencoloknya kebodohannya.


Pernyataan Jia Yun membuat emosi dalam diri Yi Cai mulai memanas. Dia berhenti mencari bunga hati, lalu menoleh nafas berat, "Huffttt ... ." Yi Cai menghela nafasnya karena dia merasa dadanya mulai memanas dan terasa sesak.


Yi Cai berusaha semaksimal mungkin untuk menahan emoisnya yang mulai memanas, hingga membuat darahnya mendidih sampai ke otaknya. Perlahan-lahan, dia bangkit dari posisinya dan berbalik menatap Jia Yun.


"Jia Yun ...," panggil Yi Cai sembari menampilkan senyum hambar tanpa arti.


"K-kenapa?" jawabnya gagap.


"Hei! Tolol sekali dirimu?!!" Umpatan Yi Cai sontak membuat Jia Yun terkejut.