
"Kristal energi air hanya akan bereaksi ketika kau berada dalam bahaya. Karena kau tidak bisa menggunakan roh pelindung naga es, dan kultivasi pedangmu masih berada di tingkat rendah," ujarnya.
"Jadi, kekuatan kristal air ini dapat membantuku mengalahkannya? Apa dia akan mati?" tanya Yi Cai.
"Apa kau berharap dia mati?" tanya balik.
Yi Cai termenung dalam diamnya. Di satu sisi, dia merasa kasihan dengan pemuda yang bernama Xiao Fan, karena ia pun secara tidak sadar dikendalikan oleh energi roh jahat.
Sedangkan di sisi lain, ia khawatir jika tak membunuh pemuda itu, hingga membuatnya menyesal karena membuatnya terus-terusan melakukan kesalahan. Dia harus mencegah Xiao Fan yang menculik orang lemah dan tak bersalah, semata dijadikan sebagai eksperimen yang belum tentu berhasil.
'Di dunia ini, mana ada yang disebut dengan kebangkitan?' batin Yi Cai. "Apa tidak ada cara lain selain membunuhnya?" tanya Yi Cai.
"Tentu saja ada. Namun, cara ini mungkin akan sulit dan membuang banyak waktu," ungkapnya.
"Cara seperti apa itu? Aku ingin tahu." Yi Cai yang memiliki hati terlalu baik, tak tega membiarkan seseorang yang faktanya sebagai korban, harus dibunuh untuk menebus kesalahan yang tak dia sadari.
"Menyadarkan hati nuraninya. Cara ini tidak akan mudah. Aku sarankan agar kau tidak melakukannya. Menyadarkan hati nurani seseorang yang telah terpengaruh adalah satu hal yang sulit dilakukan, mendekati kata mustahil," ujarnya.
"Tidak ada kata tidak mungkin, selagi kita tidak menyerah untuk mencobanya. Aku memang tidak hebat dan berpengalaman, tetapi aku tidak akan menyerah kepada sesuatu yang belum nyata dibuktikan," cetus Yi Cai.
"Baiklah jika itu kehendakmu. Tujuanku datang ke dalam mimpimu hanya semata ingin membantumu. Namun, jika kau tidak berhasil menyadarkannya, jangan pernah ragu untuk membunuhnya. Jika sampai kau ragu, entah berapa orang lagi yang harus dikorbankan untuk ritualnya."
Sejenak kemudian, suara asing itu benar-benar menghilang. Di samping, Yi Cai telah terbangun dari mimpinya.
Ketika dia terbangun, dia mendapati tubuhnya yang terikat oleh tali spiritual. Darahnya perlahan-lahan mengalir di sebuah selang yang menampung ke satu wadah tembus pandang. Di sampingnya, ia melihat Jia Yun yang juga terbaring dan mengalami hal yang sama sepertinya.
"Jia Yun! Jia Yun!" Yi Cai meneriaki Jia Yun agar Jia Yun terbangun. Akan tetapi, Jia Yun tetap tak sadarkan diri. Wajah Jia Yun terlihat pucat pasi karena darahnya perlahan-lahan terserap.
"Aku tidak boleh mati di sini seperti ini," gimana Yi Cai.
Yi Cai berusaha semua tenaga untuk melepaskannya. Namun, semua itu nihil, usahanya benar-benar sia-sia.
Pada akhirnya, Yi Cai pun teringat bahwa ia saat ini tak memiliki kekuatan spiritual. Ada satu hal yang harus dia lakukan ketika ia mengingat tentang mimpi yang baru saja ia alami.
Sayangnya, belum sempat dia mengatur batinnya, Yi Cai terdahului oleh kehadiran seseorang yang masuk ke dalam ruangan tempatnya disekap.
Yi Cai menatapnya dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Tatapan Yi Cai membuat roh jahat itu merasa tidak nyaman.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Tatapanmu mengesalkan. Aku tidak menyukai tatapanmu!" cetusnya.
Yi Cai pun membalas, "Aku hanya kasihan. Kau terlihat menyedihkan," ujarnya.
Makhluk yang menyerupai wajah Jia Rong mulai menunjukkan ekspresi yang berbeda. Ia mengernyitkan alisnya, menatap Yi Cai dengan tatapan penuh kebencian.
"Kasihan? Kau pikir kau siapa yang berani mengasihaniku? Daripada sibuk mengkhawatirkanku, lebih baik kau khawatirkan dirimu sendiri. Sebentar lagi, kau dan temanmu akan mati. Apa perlu aku menitipkan salam kepada keluargamu?" ujarnya dengan bahasa yang terdengar ketus.
"Hekh!" Yi Cai menyeringai tipis. "Itulah sebabnya aku berpikir bahwa kau adakah makhluk yang sangat menyedihkan. Kau menyedihkan, karena kau menganggap dirimu adalah makhluk yang paling menyedihkan. Bukankah ironis sekali?" ucap Yi Cai dengan keberaniannya yang tidak diragukan.
Secepat angin, makhluk itu menghampiri Yi Cai dan mencekik leher Yi Cai dengan kuat, membuat Yi Cai kesulitan bernapas. Hanya kesulitan bernapas saja, tetapi ia tetap gentar tak takut sama sekali dengan makhluk itu.
Tatapan kebencian makhluk itu dibalas dengan tatapan menyedihkan dari Yi Cai, hingga membuat makhluk itu semakin membenci Yi Cai dan menguatkan cengkramannya.
"Dengar, kau tidak berhak mengasihaniku. Aku memiliki kekuatan abadi, aku memiliki kekuatan tak tertandingi. Seekor lalat lemah sepertimu tak berhak mengasihaniku!" cetusnya dengan nada bicara yang terdengar lantang.
"Itulah ... mengapa ... aku mengasihanimu," ucapnya dengan terbata-bata karena sesaknya udara yang masuk ke rongga paru-paruhnya karena cekikan dari makhluk itu.
"Kasihan? Aku lebih kuat darimu. Aku bisa mewujudkan semua keinginanku dengan mudah. Aku bisa menciptakan keindahan, juga bisa melangsungkan penderitaan. Jika kau terus memandang rendah diriku, akan kupastikan kau akan mati dengan cara paling menyakitkan dan menyedihkan!" ancamnya.
Ancaman dari makhluk itu sama sekali tak menggoyahkan tekad Yi Cai. Satu hal yang terlintas dalam benaknya, sebelum dia terbangun dari mimpunya, ia ingin meyadarkan dan mengembalikan hati nurani milik Xiao Fan. Tekadnya telah bulat. Dia tidak akan menyerah, sebelum harapannya terwujud.
"Kau sangat kasihan karena berpikir bahwa kau adalah orang paling menderita di dunia ini. Keluarga? Kau pikir, kami memiliki keluarga? Pernahkah kau berpikir tentang penderitaan orang lain yang melebihimu? Kau hanya kehilangan keluargamu, tapi kau tidak kehilangan kesempatan untuk bertahan hidup di lingkup orang-orang yang membencimu. Apa kau pernah dibenci? Apa kau pernah dicaci maki? Atau kau pernah dizolimi? Kehilangan keluarga ... Setidaknya kau pernah merasakan apa makna keluarga. Seharusnya kau menghargai kenangan-kenangan itu, bukannya terobsesi dengan obsesi liarmu yang merugikan orang lain. Kau menyedihkan! Kau pernah merasa seakan orang paling bahagia di dunia, tapi kau tidak menghargai masa-masanya. Masa itu sudah lewat. Tidak ada gunanya mengembalikan masa-masa itu kembali. Kau pikir, keluargamu benar-benar akan bangkit? Aku tidak tahu kau lugu atau bodoh. Tidak ada kebangkitan di dunia ini. Sendainya memang ada kekuatan seperti itu dan keluargamu berhasil dibangkitkan, apa mereka akan senang menjalani kehidupan barunya? Apa mereka akan senang jika mereka tahu bahwa kau membangkitkan mereka dengan cara membunuh ratusan orang? Kembalilah ke hati nuranimu."
Yi Cai memaksakan diri untuk mengatakan panjang kali lebar, semata untuk menyadarkan hati nurani Xiao Fan. Xiao Fan tak berkutik. Dia melemahkan cengkramannya terhadap Yi Cai.
Hati Xiao Fan sedikit tergerak, tatkala Yi Cai mengatakan semua hal itu kepadanya. Perlahan-lahan, dia melangkah mundur dengan tatapan tak fokus sedikit pun. Dia terlihat tak berdaya dan dirundung kesedihan yang menusuk-nusuk hatinya, layaknya dipasak oleh jeruni besi panas membara.
"Cukup! Aku tidak ingin mendengar omong kosong itu lagi. Berhenti mempengaruhiku!"
JEDAAAARR!!!!