
“Jika kita bisa menggunakan kekuatan spiritual kita, kita pasti bisa memanggil pedang kita dengan mudah. Tapi, kekuatan kita tertekan. Apa artinya, kita harus mencarinya?” tanya Jia Yun.
“Tentu saja kita harus mencarinya. Jika tidak, kau ingin memanggilnya dengan cara apa? Tidak masuk akal!” celetuk Jia Rong.
“Aiisshhh,” desis Jia Yun kesal. Pertengkaran di antara keduanya dimulai lagi. Jia Rong dan Jia Yun memang tak bisa berbicara tanpa ada pertengkaran.
“Hari sudah mulai gelap. Kita harus mencari tempat untuk bermalam,” himbau Yi Cai.
“Di mana?” tanya Jia Yun.
“Di atas bulan, atau di ujung pohon bambu,” celetuk Jia Rong. “Ya sudah pasti di rumah. Apa kau ingin pergi ke bulan?” sambungnya.
“Kalau aku bisa,” balas Jia Yun.
Yi Cai tak memperdulikan kedua saudara kembar yang tengah beradu mulut satu sama lain. Dia lebih memikirkan di mana mereka akan bermalam pada malam ini.
Tanpa sadar, mereka bertiga telah terjebak di dalam ruang lumpur hisap selama 8 jam. Kini, sisa beberapa jam lagi langit akan gelap. Dia harus bergegas memeriksa keamana sekitar. Jangan sampai hal berbahaya seperti sebelumnya terulang lagi. Dia tidak ingin repot-repot mencari cara untuk menyelamatkan diri.
Meskipun menetap di desa itu bukanlah hal baik juga, tetapi mereka tidak ada pilihan. Karena selain desa itu, di luar sana hanyalah hutan belantara, di mana para monster roh dapat menyerang sewaktu-waktu.
“Jia Rong, Jia Yun!” panggil Yi Cai. Serempak keduanya menatap fokus wajah Yi Cai. “Bantu aku memeriksa rumah-rumah ini,” pinta Yi Cai.
“Untuk apa?” tanya Jia Yun.
“Untuk dihancurkan,” sahut Jia Rong. “Hei, kapan tololmu itu menghilang? Sepertinya, tololmu itu sudah mendarah daging. Masih bertanya untuk apa? Ya tentu saja untuk memeriksa keamanannya. Apakah bisa kita tinggali untuk bermalam, atau tidak. Kau mengerti? Apa perlu aku menjabarkannya panjang kali lebar?” celetuk Jia Rong.
“Terserah! Tapi tidak perlu,” balas Jia Yun.
Jia Yun mengacuhkan Jia Rong. Kemudian, dia berlalu begitu saja melewatinya. Tanpa banyak bicara lagi, Jia Yun mulai memeriksa satu persatu rumah yang ada di desa itu. Semua rumah tak ada penghuninya. Benar-benar kosong tak berpenghuni. Memang sedikit aneh, dan tidak normal. Tidak mungkin rumah yang tak berpenghuni tertata rapi. Bahkan, debu sekali pun tak menyinggahi barang-barang yang terdapat di dalamnya.
Kala Jia Yun memasuki salah sebuah rumah, Yi Cai pun menyusul masuk ke dalamnya.
“Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Yi Cai.
“Tidak. Aku tidak menemukan apa pun. Hanya … ada sedikit keanehan,” ungkap Jia Yun.
“Keanehan apa yang kau maksud?” tanya Yi Cai.
“Aneh … rumah-rumah di desa ini tak berpenghuni. Tapi mengapa barang-barang di dalamnya tertata rapi, dan terawat. Bahkan, debu tak ada yang menyinggahinya,” jelas Jia Yun.
“Begitupula yang kupikirkan. Rumah-rumah ini, sangat terawat untuk dibilang tak berpenghuni,” tutur Yi Cai.
KREEEK … suara pintu yang didorong dari arah luar. Serempak Yi Cai dan Jia Yun menoleh ke arah sumber suara. Mereka menatap antusias pintu yang perlahan terbuka, karena dorongan dari luar. Sejenak kedudian, mereka baru bisa menghela nafasnya.
“Hufft … aku kira siapa. Ternyata si bedebah Jia Rong,” gumam Jia Yun.
“Aishh! Kalian kira siapa lagi, selain aku? Di tempat ini hanya ada kita bertiga. Hari sudah mulai gelap. Sebaiknya kita menetap di dalam. Tidak baik keluar ketika menjelang malam,” ujar Jia Rong.
Yi Cai tak berkomentar sedikit pun. Dia lebih sibuk memperhatikan segala sesuatu yang mengganjal dari desa yang tengah mereka singgahi.
“Yi Cai,” panggil Jia Yun. Namun, Yi Cai tak menggubris panggilannya. “Yi Cai,” panggil Jia Yun sekali lagi.
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Ada apa denganmu? Kenapa aku perhatikan … kau terus-terusan melamun?” tanya Jia Yun.
“Aku hanya merasa tidak tenang. Kita tidak boleh melonggarkan kewaspadaan kita,” himbau Yi Cai.
Jia Yun menghela nafasnya sembari merundukkan pandangannya ke bawah. Kemudian, baru dia angkat bicara, “Aku tahu. Kita tidak bisa senyaman itu di tempat asing, apalagi … Jia Rong?” Jia Yun mengalihkan perkataannya kepada Jia Rong.
Jia Rong yang tengah berbaring nyaman di atas ranjang tidur, reflek menoleh ke arah Jia Yun.
“Kenapa?” tanyanya santai.
“Kenapa? Apa kau masih setenang itu bertanya, kenapa? Liontin giok milikmu! Ke mana kau menghilangkannya?!” sentak Jia Yun.
“Liontin giok apaan?” balas Jia Rong.
Seketika, Jia Yun terhening. Jia Rong yang dia kenal, tak akan pernah melupakan liontin giok, jika sewaktu Jia Yun membahasnya. Dia memperhatikan Jia Rong dengan seksama.
“Jia Rong, bukankah kita kehilangan pedang? Di mana kau menemukan pedangmu? Apa kau juga menemukan milik kami?” tanya Jia Yun.
Jia Rong menarik pedangnya dari dalam sarungnya, seraya memandangi wajahnya yang mematul di permukaan pedang.
“Pedang ini? Aku menemukannya di jalan. Tapi maaf, aku tidak menemukan pedang milik kalian,” jawabnya.
Respek Jia Yun menyipitkan kelopak matanya, memandangi Jia Rong yang berbeda seperti biasanya.
“Jia Rong,” panggil Jia Yun.
“Kenapa?” sahut Jia Rong.
“Bagaimana rasanya buah persik?” tanya Jia Yun.
“Sangat bosan. Untuk apa kau menanyakan pertanyaan semacam itu? Buah persik? Tentu saja rasanya manis dan segar. Kenapa masih bertanya?” celetuknya.
Seketika, iris kedua bola mata Jia Yun melebar. Kemudian, ia reflek mengambil langkah mundur, dengan sigap mencekal pergelangan tangan Yi Cai.
Yi Cai pun reflek menatap pergelangan tangannya yang dicekal secara tiba-tiba oleh Jia Yun.
“Jia … .” Perkataan Yi Cai sengaja dia gantungkan begitu saja, tatkala dia menyadari keanehan dalam diri Jia Yun ketika ia menatap Jia Rong yang tengah sibuk mengelap pedangnya dengan sehelai kain.
Dapat dibaca dengan jelas jika ada sesuatu yang tidak beres, ketika ia melihat tingkah Jia Yun yang terkesan was-was. Sejujurnya, dia sangat ingin menanyakan alasannya. Akan tetapi, atmosfernya terasa buruk. Nalurinya mengarahkan dirinya agar jangan banyak bicara.
Jia Yun akhirnya melepaskan cekalannya. Dia reflek menoleh ke samping, menatap Yi Cai dengan tatapan nanarnya, sekan ingin mengatakan sesuatu yang terpendam dalam sanubarinya. Jika saja kekuatan spiritualnya tidak tertekan, dia pasti akan menyampaikannya lewat komunikasi batin.
Sayang seribu sayang, kekuatan spiritual mereka belum juga dipulihkan. Dan kemungkinan besar, tak bisa dipulihkan sebelum mereka meninggalkan desa.
Keduanya hanya saling terhening tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sedangkan Jia Rong, dia merasa bahwa segala sesuatu tampak mencurigakan. Ia pun berhenti membersihkan pedangnya.
Jia Rong menaruh pedangnya seraya berkata, “Kenapa kalian hanya terdiam? Bukankah sebelumnya, kita banyak bicara di ruang lumpur hisap? Dan kau, Jia Yun … bukankah kau tidak pernah akur setiap berada di sisiku? Mungkinkah … .” Jia Rong sengaja menggantungkan perkatannya.