
“Tuan, apa yang Anda pesan?” tanya seorang pelayan kedai teh kepada Yi Cai yang baru saja memilih duduk di salah satu meja.
Sekilas pelayan kedai the itu melirik wajah Yi Cai. Ia tak banyak berkomentar terhadap wajah Yi Cai yang dibalut dengan topeng.
“Aku ingin segelas teh,” jawab Yi Cai tegas.
“Baiklah. Kami akan membuatkannya. Mohon tunggu,” ujar pelayan, kemudian berlalu meninggalkan tempat.
Yi Cai tak menjawab apa pun. Dia sengaja terdiam tak ingin banyak bicara.
“Hei, sudah kubilang lepaskan! Apa kau tidak dengar?!” Terdengar sentakan suara seorang pria di telinga Yi Cai.
“Tuan, mohon beri saya waktu. Saya pasti akan membayarnya,” lirihnya sembari mencengkram kaki salah seorang preman.
Preman yang tak berbelas kasih itu, tak segan-segan menendang pria paruh baya yang mencengkram kakinya, karena ia merasa sangat terganggu dengan tindakan yang ia terima dari pria paruh baya itu.
“Singkirkan tangan kotormu itu!” cetusnya sembari menghempaskan kakinya dengan kuat, agar terlepas dari cengkramannya.
Tampak seorang preman yang tengah memukuli seorang pria paruh baya yang menjaja sayur mayur. Mereka memukuli pria paruh baya itu hingga babak belur, dan dagangan sayur miliknya pun berserakan karena sengaja diporak-porandakan preman lainnya.
Dari kejauhan, seorang wanita muda berlari cepat ke arah pedagang sayur yang dipukuli babak belum oleh
“Tuan, aku mohon. Jangan pukuli orangtua saya …,” lirih seorang wanita.
“Cuih! Kalian orang miskin, hanya tahu berhutang saja! Kapan kalian akan membayarnya?!” sentaknya.
“Tuan, kami sudah membayar semua pokoknya. Kami janji, kami pasti akan membayar bunganya,” cetus wanita itu.
“Kau pikir, kami akan percaya?! Kalian hanya terus membual saja! Orang miskin tidak berguna!” cercanya. “Tapi … ada satu hal yang bisa wanita lakukan untuk menghasilkan uang. Jika kau mau, aku bisa menjualmu ke rumah bordil. Di sana kau bisa menghasilkan banyak uang untuk melunasi semua hutang keluargamu,” ucapnya penuh tipu daya.
Preman itu merundukkan tubuhnya. Hampir saja ia menyentuh wajah wanita muda itu, jikalau seseorang tidak dengan sengaja memukul telapak tangannya.
“Sialan! Siapa yang berani melawanku!” Sontak, ia mengalihkan pandangannya kepada seseorang yang baru saja memukul lengannya dengan keras, setelah ia mengaduh kesakitan.
“Aku. Kenapa?” tantangnya.
“Kau! Apa kau cari mati?!” balasnya, dengan berapi-api karena kemarahan yang telah mendidih hingga ke puncak ubun-ubun kepalanya.
“Lebih tepatnya, bukan aku yang mencari mati, tapi kematian yang selalu mengejarku. Padahal, aku juga tidak ingin mati,” balasnya dengan ringannya.
“Bedebah sialan!” umpatnya.
Pemuda yang baru saja memukul telapak tangan preman itu adalah Yi Cai. Dengan keberaniannya, ia sengaja melakukannya agar tangan kotor preman itu tak menyentuh wajah seorang wanita muda yang tak bersalah.
“Lancang!!!” Karena terlalu marah, preman itu pun bersiap menghajar Yi Cai, bersama dengan kawanan yang datang bersamanya.
Yi Cai sama sekali tidak takut dengan para preman yang telah bersiap menghajarnya habis-habisan. Ia tetap berdiri santai, sembari mengelap pedangnya yang disinggahi dengan sedikit debu.
“Lama sekali. Siapa yang ingin maju duluan?” tantang Yi Cai.
“Kurang ajar! Dia telah meremehkan kita. Semua, hajar!!!”
“Hiatttt!!!”
Para preman itu maju secara bersamaan menyerang Yi Cai. Seketika, semua orang yang ada di sekitar pun memilih untuk pergi menjauh, karena tak ingin terlibat dalam pertengkaran sengit. Sedangkan wanita muda yang terlibat masalah itu bergegas membantu ayahnya yang terluka, untuk menjauh dari sana.
“Ayah, kau terluka seperti ini … aku … aku sangat mengkhawatirkan Ayah,” lirihnya seraya menitikkan airmata, kala ia memeriksa sekujur tubuh ayahnya yang memar.
“Maafkan Ayah. Karena hutang-hutang Ayah, kau jadi ikut terlibat,” ucapnya penuh penyesalan.
“Apa yang Ayah katakan? Jangan bilang begitu. Ayah selalu berusaha keras untukku. Sudah seharunya aku membantu Ayah,” balasnya lirih.
Di sisi lain, Yi Cai berhasil menjatuhkan sekelompol preman itu dengan perlawanannya. Para preman itu ketakutan, kala mereka dibuat babak belur oleh Yi Cai.
“Kenapa? Tidak ingin bertarung lagi?!” tantang Yi Cai, yang masih bersemangat untuk memberi pelajaran kepada para preman itu.
SLREEETTT … CTARRR!!! Suara cambuk halilintar yang berhasil menghantam punggung Yi Cai, hingga ia terbanting jauh, sekitar 10 meter dari tempat ia berpijak. Yi Cai jatuh tersungkur kesakitan, tetapi tetap berusaha untuk bangkit dari posisinya.
“Tuan, Tuan, kau akhirnya datang,” ucap preman itu. Para preman itu bergegas bangkit dari tempat, lalu berlindung di belakang seseorang yang mereka sebut sebagai tuannya.
“Tidak berguna! Mengatasi pria tua dan wanita lemah saja tidak becus!” cercanya.
“T-tuan … itu karena … karena dia! Karena anak usil ini tiba-tiba mencampuri urusan kita!!!” tunjuknya kepada sosok Yi Cai.
Yi Cai berdiri tegak, menatap sekelompok preman yang sempat ia beri pelajaran, kini bersembunyi di belakang seorang pemuda yang dapat ditebak dengan mudah, jika dia adalah Tuan dari para preman itu.
Sejenak kemudian, ia menatap sosok pemuda gagah yang juga balas menatapnya dengan tatapan setajam elang. Pemuda itu mengenakan pakaian sutra berkelas tinggi, dengan aksoseris mahal yang menghiasi pakaiannya. Di tangan kanannya, ia menggenggam sejuntai cambuk yang mengkilap karena energi spiritual halillintar terkandung keuatannya. Samar-samar, Yi Cai sepertinya pernah bertemu wajah itu. Akan tetapi, ia telah melupakannya.
‘Topeng kulit kayu? Mungkinkah … dia Yi Cai? Yi Cai? Menarik sekali. Siapa yang menyangka, jika dia muncul lagi setelah sekian lama … dengan penampilan yang lebih baik dari sebelumnya. Aku ingat, dia hanyalah anak yang kuyu, buruk rupa, dan menyedihkan,’ batin pemuda itu dengan tanggap mengingat sosok Yi Cai, hanya karena topeng kayu yang dikenakannya menutupi wajahnya. “Kalau boleh tahu, Tuan muda ini siapa? Kenapa mencampuri urusan kami?” tanyanya. Ia dengan sengaja berpura-pura baru bertemu dengan Yi Cai, meskipun ia telah mengenalnya pada waktu yang cukup lama.
Yi Cai pun menjawabnya, “Sambutan yang cukup baik. Kau memberi kesan mendalam di saat kita pertama kali bertemu,” sindir Yi Cai. Ia menyindir tentang perlakuan yang baru saja ia terima, tentang cambukan yang sempat menyiksa sekujur tubuhnya.
‘Pertama kali bertemu? Apakah dia tidak mengingatku? Atau dia pura-pura melupakanku? Jika dia tidak mengingatku, sepertinya dulu aku kurang memberi kesan mendalam pada hidupnya. Baiklah, tidak masalah. Toh setelah kemunculannya kali ini, aku masih bisa memberi kesan mendalam lainnya,’ batinnya. Pemuda itu merencanakan niat-niat liciknya terhadap Yi Cai. “Kalau begitu, sangat bagus. Setidaknya, pertemuan denganku kali ini akan menjadi kesan mendalam di hidupmu. Bukan begitu?”