
“Apa yang kau rencanakan?” Jia Rong yang penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Yi Cai, tak igin tinggal diam dan mengandalkan Yi Cai tanpa membantunya.
“Maaf, tapi aku akan membuat jubah kalian menjadi sebuah tali. Seperti lumpur hisap yang bisa menghisap kita ke dalam ruang ini, aku yakin mekanisme nya pun tak akan berbeda,” jelas Yi Cai.
“Maksudnya?” tanya Jia Yun, karena ia tak mengerti dengan perkataan yang diucapkan oleh Yi Cai.
“Jika lumpur hisap ini bisa menghisap kita ke dalam. Aku yakin, benda mati dapat membantu kita menariknya dari luar,” jelas Yi Cai.
“Meski teorimu sedikit tidak masuk akal, tapi tidak ada salahnya mencobanya,” ucap Jia Rong.
“Benar, memang tidak masuk akal. Tak ada yang menarik kita dari luar. Bagaimana kita bisa tertarik ke luar dengan benda mati seperti itu?” pikir Jia Yun.
“Aku akan mencobanya lebih dulu,” cetus Yi Cai.
“Kau yakin? Bagaimana jika tidak membawa keluar, tetapi membawa ke ruang lain?” Jia Rong mengutarakan asumsinya.
“Kalau begitu, tidak masalah. Aku yang pertama masuk ke ruang lain.” Suara Yi Cai terdengar begitu pelan.
“Kau! Apa kau gila?! Tidak! Ini semua terlalu beresiko. Aku yakin, akan ada jalan keluar lain. Jika kita terjebak, kita akan terjebak bersama. Bagaimana mungkin kita mengorbankan orang lain.” Jia Rong tidak setuju dengan satu hal yang ingin dilakukan oleh Yi Cai.
“Tidak masalah. Jika bertindak akan terjebak ke jebakan lain, maka menetap pun tetap akan terjebak. Kita tidak berada dalam keadaan memilih. Kedua pilihan … semuanya beresiko. Jika pada akhirnya akan mati, aku tidak perlu mengulur waktu kematian,” cetus Yi Cai.
“Kau benar-benar gila. Tidak masalah jika kau bodoh, tapi kau juga tidak waras!” cerca Jia Yun.
“Yi Cai, jika kau ingin menghadang kematian, atau mempercepat kematian, kami juga akan mati bersamamu. Kami tidak pernah takut mati,” cetus Jia Rong.
“Lalu, apa kalian setuju dengan caraku? Apa kita akan mencobanya bersama?”
Ketiganya saling terhening tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mereka berada dalam fase dilema dan dipenuhi dengan keragu-raguan. Namun, sejujurnya Yi Cai sangat yakin dengan apa yang akan dilakukannya. Hanya saja, Jia Rong dan Jia Yun melarangnya. Mereka tidak setuju jika Yi Cai mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Jia Rong dan Jia Yun.
“Begini saja, aku akan melakukannya terlebih dahulu. Tidak masalah, aku tidak takut. Bagaimana kita tahu, sebelum mencobanya? Jika aku terserap dinding, pastikan kalian memegag ujung tali. Jika tali bergerak, itu artinya, aku berhasil keluar. Jika tidak ada respon, maka rencanaku gagal,” usul Yi Cai.
Jia Rong dan Jia Yun saling pandang. Mereka saling pandang, beberapa saat. Kemudian, Jia Rong angkat bicara terlebih dahulu, “Jika kau seyakin itu, maka cobalah! Kami juga tidak akan menghambat semata untuk mencegah karena ragu. Kami memang ragu, tapi kau orang yang paling yakin. Kami percaya padamu,” cetusnya.
Yi Cai menarik ujung bibirnya. Bukan tersenyum, tetatpi hanya menampilkan eskpresi dengan isyarat jika Jia Rong dan Jia Yun dapat mempercayakannya.
“Baiklah. Aku tidak akan menunda waktu lebih lama lagi. Kalian lihat! Ruangan ini semakin menyempit, seiring berjalannya waktu.”
“Yi Cai benar. Kita tidak boleh mengulur waktu dan berlama-lama di tempat ini. Apa pun itu, kita harus mencobanya bagaimana pun resikonya,” cetus Jia Rong.
Yi Cai menganggukan kepalanya, seraya menatap dengan penuh keyakinan. Kekuatan spiritual mereka tak berfungsi di dalam ruang hampa lumpur hisap itu. Mungkin karena semua benar-benar sebatas ilusi. Oleh sebab itu, mereka hanya bisa berusaha dengan sekuat tenaga.
Mula-mula, Yi Cai menyobek jubah milik Jia Rong dan Jia Yun menjadi bagian panjang, lalu menyambung-nyambungnya menjadi sebuah tali. Setelah itu, tak menunda waktu lagi, Yi Cai langsung saja melemparkannya ke dinding ruang lumpur hisap. Tatkala dia melemparkannya, seketika ruang dinding lumpur hisap menghisapnya, seperti tarikan kuat dari arah luar. Tarikan berbalik, seperti tarikan ketika seseorang terserap ke dalam lumpur hisap. Dinding itu menariknya dari cara berlawanan.
Mereka bertiga saling pandang, penuh dengan aura posistif. Kali ini, mereka sangat yakin jika mereka bisa keluar dari tempat itu.
“Tertarik dari luar!” ucap Yi Cai dengan tatapan mata berbinar penuh pengharapan.
“Yi Cai, ternyata kau sangat jenius,” puji Jia Rong.
“Kain ini semakin terhisap. Kita hanya memiliki satu kain panjang. Kita tidak boleh membuang waktu, karena hisapan terasa semakin kuat. Jika dapat menghisap keluar, kita harus keluar bersama-sama, karena kita hanya memiliki satu tali,” cetus Yi Cai.
Jia Rong dan Jia Yun menganggukkan kepalanya, penuh dengan keyakinan. Mereka yakin jika kali ini rencana Yi Cai akan berhasil. Itulah mengapa, mereka berdua tak lagi merasa ragu.
“Kekuatannya menariknya semakin besar. Berpeganglah pada tali! Kita akan segera keluar!” himbau Yi Cai.
Keduanya pun bergegas untuk berpegangan pada tali yang terserap dinding lumpur hisap. Semakin lama, kekuatan menghisapnya semakin meningkat. Hingga pada akhirnya … mereka benar-benar berhasil keluar.
Yi Cai dapat merasakan udara yang lebih segar. Ketika ketiganya berhasil keluar, seketika tanah yang mulanya bertekstur gembur dan becek, kini menjadi lebih padat, normalnya tanah-tanah kebanyakan.
Untuk memastikannya, Jia Rong menapak-napakkan telapak kakinya di atas tanah. Ternyata, tekstur tanah benar-benar berubah. Tanah yang lembab, kini berubah menjadi tanah yang padat.
“Lihat! Tekstur tanah ini telah berubah. Lumpur hisap juga benar-benar menghilang. Cukup misterius,” pikir Jia Yun.
“Selain memikirkan tekstur tanah, hal misterius lainnnya adalah rumah-rumah ini. Semuanya tampak normal seperti sebelumnya. Itu artinya, hanya kita bertiga yang benar-benar terhisap ke dalamnya,” ujar Jia Rong.
“Jika dipikir dengan benar, semuanya tidak normal. Desa ini bukan desa biasa. Tak ada satu pun penghuni desa yang berlalu lalang, tetapi kenapa aku merasa … ada banyak kehidupan yang tak terlihat?” Logika Yi Cai mulai bermain, memikirkan detail-detail yang terasa tidak biasa.
“Kau benar. Aku juga merasakan hal yang sama. Energi spiritual di sini terasa sangat kuat, hingga menekan kuat energi spiritual dalam tubuhku. Jia Yun, Yi Cai, bagaimana dengan energi spiritual kalian? Apa kalian bisa menggunakannya?” tanya Jia Rong kepada keduanya.
Untuk memastikannya, ketiganya mulai menguji energi spiritualnya. Sayangnya, tak ada satu pun dari ketiganya yang berhasil menguji cobanya. Energi spiritual mereka benar-benar ditekan dari dalam. Tak ada satu pun yang bisa menggunakan kekuatan spiritualnya.
“Ah, benar. Pedang kita? Kita harus menemukannya!” cetus Jia Rong.