ICE & FIRE IMMORTALITY

ICE & FIRE IMMORTALITY
MEREBUT KELERENG SPIRITUAL



Para master roh menyerang secara bersamaan di setiap bagian tubuh yang familiar sebagai titik kelemahan para monster roh yang selama ini pernah mereka buru.


Bagian jantung, bagian kepala, bagian tangan dan kaki, perut, hingga bagian ekornya. Para master roh bekerjasama untuk mengalahkan ayah Xiao Liu. Serangan dari para monster roh itu membuat ayah Xiao Liu seakan diikat oleh rantai yang mengekang tubuhnya bergerak bebas.


Para master roh tak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan mengendurkan penyerangan mereka terhadap ayah Xiao Liu. Karena, jika mereka melakukannya, mereka pasti akan kehilangan kesempatan untuk mengetahui di mana titik kelemahan monster roh rubah berekor sembilan seperti ayah Xiao Liu.


"Aaaargggghhh!!!" ayah Xiao Liu mengerang kesakitan tatkala titik fatal bagian tubuhnya diserang secara bertubi-tubi.


Kemudian, ayah Xiao Liu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melepaskan cengkraman para master roh yang menyerangnya secara bertubi-tubi dan membuatnya tak bebas bergerak, apalagi melancarkan serangan balik.


"AARRGGGGHHH!!!" Dengan segenap kekuatannya, ayah Xiao Liu menghempas para master roh yang menyerangnya dengan cara mengepungnya.


Singkat saja, para master roh yang menyerang ayah Xiao Liu terpelantang jauh karena kuatnya kekuatan spiritualnya. Namun, para master roh tetap tak menyerah. Mereka segera bangkit dari posisinya, dan bersih untuk menyerang ayah Xiao Liu sekali lagi.


Ketika para master roh telah bersiap menyerang sekali lagi, tiba-tiba salah seorang master roh menghentikan tindakan mereka.


"Tunggu!!! Aku tahu di mana titik kelemahannya. Titik kelemahannya adalah ekornya!!!" ungkapnya.


Informasi dari salah seorang master roh itu sangat berguna bagi para master roh lainnya.


"Bagus! Kerja bagus!!! Lalau begitu, kita semua harus menyerang bagian ekornya secara bersamaan!!!"


"Bunuh dan rebut kelereng spiritualnya!!!"


"Bunuh dan rebut kelereng spiritualnya!!!"


"Bunuh!"


"Bunuh!!!"


"HIAAATTTT!!!"


Para master roh tak menunda waktu untuk mengalahkan ayah Xiao Liu yang tak lain adalah monster roh rubah berekor sembilan yanh telah berumur 900 tahun. Karena mereka telah mengetahui di mana titik kelemahan ayah Xiao Liu, mereka pun bergegas untuk menyerang titik kelemahan ayah Xiao Liu secara bersamaan dengan cara membabi-buta.


"AAARRRRRGGGHHH!" Raungannya menggelegar, lalu tubuh selestial berwujud manusianya benar-benar kembali sempurna menjadi sosok rubah berekor sembilan raksasa.


Meskipun dia adalah monster roh yang telah berkultivasi mencapai umur 900 tahun, tetapi setiap makhluk pasti memiliki titik kelemahannya. Tidak ada makhluk yang tak memiliki titik kelemahan di dunia ini, begitupula monster roh rubah yang telah mencapai umur 900 tahun.


Karena titik kelemahan ayah Xiao Liu terus-terusan diserang, kekuatan spirualnya pun mulai melemah, hingga daya tahan tubuhnya melemah dan tak seimbang.


Semakin diserang secara bertubi-tubi, ayah Xiao Liu tak bisa berkutik lagi. Hingga pada akhirnya, ia pun tak sadarkan diri.


"Berhenti!" perintah salah seorang master roh pelindung.


Serempak lara master roh dan murid-murid balai roh pelindung yang menyerah ayah Liu Wei akhirnya menghentikan aksinya.


"Dia sudah pingsan. Sekarang, waktunya kita mengunci kekuatannya. Setelah itu, kita harus membawanya ke sel gembok suci agar dia tidak bisa melarikan diri," himbaunya.


"Baik! Biar aku yang mengunci kekuatannya," usul salah seorang master roh bertubuh kekar yang mengajukan diri untuk mengunci kekuatan milik ayah Xiao Liu.


"Baiklah, kau bisa melakukannya."


Salah seorang master roh itu pun mulai mengunci kekuatan milik ayah Xiao Liu yang tak sadarkan diri. Selama kekuatan ayah Xiao Liu telah terkunci, dia tidak akan pernah bisa menggunakan kekuatan untuk perlawanan. Anggap saja, kekuatannya telah dibekukan oleh kekuatan lain yang mengekangkanya. Dan kekuatan itu adalah kekuatan milik salah seorang master roh yang bersedih mengunci kekuatan milik ayah Xiao Liu.


Ketika kekuatan spiritual milik ayah Xiao Liat berhasil dikunci, para master roh pun menggotongnya untuk dibawa ke dalam sel gembok suci yang bertempat di pusat balai roh pelindung.


***


"Ibu, di mana Ayah?" tanya Xiao Liu kepada ibunya yang tengah menjaganya di dalam sebuah gua yang ada di dalam hutan bentara, tempat para monster roh tinggal.


"Ayahmu pasti akan segera datang. Jangan khawatir, dia pasti akan menepati janjinya. Kita mengenalnya. Dia sekali pun tak pernah ingkar janji. Percayalah kepada ayahmu," ucapnya.


Ibu Liu Wei berusaha menenangkan kekhawatiran yang dirasakan oleh Liu Wei. Meskipun dia sendiri tak kalah merasa khawatir terhadap suaminya yang tak kunjung datang dari tenggat waktu yang telah dijanjikan.


"Ibu, ini semua salahku. Seharusnya, aku tetap tinggal di gua. Tidak seharusnya aku ikut bersama Ayah dan Ibu untuk menikmati hidup di dalam Kota para manusia. Ini salahku. Salahku karena membuat Ibu dan Ayah harus menderita karena melindungiku." Xiao Liu menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi terhadap keluarga kecilnya.


Xiao Liu merasa bahwa seorang monster roh yang wujudnya belum berubah menjadi manusia, tidak seharusnya mengikuti orangtuanya yang tinggal di Kota. Ia merasa bahwa semua adalah salahnya, sehingga Ibu dan Ayahnya harus menanggung penderitaan atas perburuan para manusia yang menginginkan kemaren spiritual yang dimiliki Xiao Liu.


"Xiao Liu, berhenti mengatakan hal seperti itu. Kau adalah Ayah dan Ibu, darah daging kami. Kami tidak mungkin meninggalkanmu hidup sendirian di hutan dan menikmati hidup kami di tempat para manusia tinggal. Semua bukanlah salahmu. Salah kami karena menginginkan sesuatu yang seharusnya tidak diinginkan. Manusia dan monster roh adalah dua makhluk yang berbeda. Kita tidak akan pernah bisa hidup berdampingan, meskipun telah mengambil wujud selestial seorang manusia. Mungkin, ini adalah harga yang harus kami bayar. Sejak mula para manusia berkultivasi roh pelindung, mereka selalu membunuh kaum monster roh, demi meningkatkan kekuatan. Ayah dan Ibu berpikir, jika kami mengambil wujud manusia, kami akan aman dari pengejaran mereka. Namun ternyata, pemikiran seperti itu terlalu konyol. Semakin dekat dengan para manusia, maka semakin terancamlah nyawa kami. Tidak ada rahasia yang bisa disembunyikan selamanya. Cepat atau lambat, mereka pasti akan mengetahui identitas kita sebenarnya," ucap ibu Xiao Liu panjang kali lebar.


Xiao Liu terdiam, lalu merangkak ke pangkal ibunya. Ibu Xiao Liu pun membelai tubuh rubah Xiao Liu. Tak terasa, airmata berlinang ibu Xiao Liu menetes di ubun-ubun Xiao Liu.


Xiao Liu reflek mengangkat kepalanya, menatap wajah cantik ibunya dengan tatapan berkaca-kaca. Dua Liu merasa sedih karena ibunya menangis. Akan tetapi, dia berbeda. Dia tak bisa menangis seperti ibunya, karena dia adalah monster roh rubah, bukan seorang manusia seperti wujud ibunya saat ini.


"Ibu, kenapa Ibu menangis?" tanyanya.