
“Ya, begitulah ajaran sekte kami,” sahut Jia Yun.
“Terimakasih, karena kalian tidak jijik berteman denganku,” ucap Yi Cai dengan nada yang sangat rendah.
“Aiih… Yi Cai, apa yang kau katakan? Untuk apa juga kita merasa jijik? Toh kita sama-sama manusia yang bukan apa-apa,” balas Jia Rong.
“Tetap saja, aku merasa senang. Kalian adalah orang yang sangat langka,” ujar Yi Cai.
“Itu karena kau belum bertemu banyak orang. Di dunia ini, memang banyak orang yang jahat, tapi orang baik juga tidak sedikit,” sambung Jia Rong.
“Ah, benar. Kalian berasal dari sekte mana? Apa nama sekte kalian?” tanya Yi Cai penasaran.
“Kami berasal dari sekte Xuehua,” jawab Jia Rong.
Xuehua yang beratikan serpihan salju. Sebuah sekte yang terletak di Xianjiang selatan, sekte tempat Jia Rong dan Jia Yun berguru. Salah satu sekte terkenal di dunia Jianghu, sebelum penemuan roh pelindung dalam diri manusia.
Sebelum ditemukannya roh pelindung dalam tubuh manusia, banyak berdiri kokoh sekte yang berlatih kultivasi di jalan pedang. Namun, para kultivator mengetahui bahwa tubuh mereka memiliki roh pelindung yang lebih kuat dibandingkan kultivasi pedang, banyak dari mereka yang beralih melatih roh pelindung dari tubuh mereka.
Semenjak saat itu, banyak roh pelindung yang didirikan. Tujuannnya yaitu, melatih para murid yang ingin memperkuat roh pelindung dalam tubuhnya. Oleh sebab itu, banyak kultivator jalan pedang yang beralih memilih jalan untuk menjadi Master roh. Karena hal itu, banyak murid sekte yang keluar untuk berguru kepada pelatih yang mendirikan balai roh pelindung.
Setiap orang memiliki roh pelindung yang berbeda-beda. Jika mereka mengetahui bahwa roh pelindung mereka adalah hewan gagah perkasa seperti harimau, serigala, elang, atau hewan perkasa lainnya, mereka memutuskan untuk melatih roh pelindung mereka. Jikalau mereka mengetahui roh pelindung mereka bukanlah hewan-hewan gagah perkasa, maka mereka lebih memilih berlatih di sebuah sekte beladiri, hingga beberapa hanya memutuskan jalan hidup menjadi manusia biasa.
Dunia kultivasi terbagi menjadi dua macam, yakni jalan roh pelindung, dan jalan pedang. Kultivator yang memilih jalan roh pelindung, dapat menggunakan senjata, sekadar bantuan atau pegangan mereka. Sedangkan kultivator jalan pedang, hanya bisa melatih kultivasi pedang, karena jindan (inti elixir) mereka saling terhubung. Jika memaksa melatih keduanya, maka energi spiritual dalam tubuh mereka akan hancur berkeping-keping, apalagi jika roh pelindung mereka hanyalah hewan-hewan tingkat rendah dan menengah.
“Jadi, alasan kalian memilih jalan pedang, karena kalian tak bisa melatih roh pelindung?” tanya Yi Cai penasaran.
“Bisa dibilang begitu,” jawab Jia Yun.
“Lalu, apa roh pelindung kalian?” tanya Yi Cai.
“Hanya hewan kelas menengah. Rusa,” ungkapnya.
“Rusa? Roh pelindung kalian tidak terlalu buruk. Sedangkan roh pelindungku adalah capung. Tapi, meskipun kalian tidak melatih roh pelindung, tetapi kalian sangat mahir dalam ilmu pedang,” puji Yi Cai.
“Sekejap saja, aku mulai mengangumi kalian berdua. Meskipun murid sekte sudah tidak banyak, kalian tetap membuktikan diri kalian. Dan, sepertinya kalian mewujudkannya. Kalian berdua berhasil mengalahkan murid balai roh pelindung yang semena-mena sebelumnya. Sangat mengesankan!” Yi Cai tak henti-hentinya mengagumi keduanya.
“Semua kultivasi itu sama, hanya kekuatan saja dan tekad yang beda tipis. Semua tergantung niat. Jika pedang digunakan dengan baik, maka kita bisa melindungi diri sendiri dan orang lain. Tapi jika digunakan dengan buruk, maka hanya akan menimbulkan kekacauan tak berujung. Dunia jianghu selalu seperti itu. Pentingnya melatih kultivasi hati, agar kita tidak berambisi yang mengakibatkan kehancuran. Jika kita bisa hidup dengan damai, untuk apa mencari permasalahan?” tutur Jia Yun.
Yi Cai terdiam, sejenak ia menyeruput teh traktiran dari si kembar itu.
“Oh, ya. Kemunculan kalian berdua kali ini, pasti bukan sesuatu tanpa alasan. Jarang sekali aku melihat murid-murid sekte di sekitar sini. Apa sekte sengaja mengirim kalian?” tanya Yi Cai berterus terang.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Jia Yun.
“Aku hanya menebaknya,” jawabnya singkat.
“Benar. Akhir-akhir ini, banyak kekecauan yang terjadi. Kekacauan itu terdengar hingga ke Xianjiang selatan. Yongzhou, Qizhou, Youzhou, Qingzhou, keempat prefektur ini tidak asing dengan sistem kekuasaannya. Sebagai orang dari dunia Jianghu, kami tidak perduli dengan urusan politik dalam suatu Negara. Namun, jika terjadi sesuatu yang mengganggu ketentraman rakyat, sebagai pendekar, kami pasti akan membantu rakyat dengan sepenuh jiwa. Aku dengar, Yongzhou baru saja merebut kota milik Qizhou, setelah berperang selama 2.700 hari. Banyak rakyat yang mengungsi karena hal itu. Kedatangan kami di sini, sekaligus untuk menyalurkan bantuan kepada rakyat,” jelas Jia Rong.
“Namun, tujuan utama kita datang ke Yongzhou bukan untuk hal itu,” sambung Jia Yun.
Yi Cai mulai antusias menyimak penjelasan dari keduanya. Kali ini, mereka bertiga telah terlarus dalam pembicaraan yang lebih serius.
“Lalu, apa tujuan kalian?” tanya Yi Cai dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Perburuan malam, penyelidikan. Banyak kejadian aneh yang perlu kami selidki. Masalahnya, bukan tentang peperangan, atau para rakyat yang mengungsi semata. Namun, tentang banyaknya rakyat pengungsi yang hilang dari kamp,” ungkap Jia Yun.
Yi Cai tercengang tatkala mendengar pernyataan dari Jia Yun. Tidak pernah terpikirkan dalam dirinya, jika kejahatan yang terjadi di klan manusia sangatlah beragam.
“Menghilang? Apa artinya, ada orang yang sengaja menculik mereka? Sepertinya, tidak mungkin rakyat pengungsi seperti mereka melarikan diri. Sekalipun mereka melarikan diri, apa tujuannya? Mereka tidak punya rumah untuk kembali.” Yi Cai turut menuangkan asumsinya.
Sebelum Yi Cai terjun ke klan manusia, dia banyak belajar tentang mereka dan bagaimana cara manusia bersoisalisasi. Semua yang dia pelajari berasal dari tumpukan buku yang ditinggalkan oleh gurunya, Master Topi Bambu. Selama tiga tahun terakhir, Yi Cai banyak belajar dari buku-buku yang diberikan oleh gurunya.
“Benar, tebakanmu tepat sekali. Logikanya memang seperti itu. Namun, yang kami herankan, apa tujuan mereka menculik para penyintas itu? Mereka hanyalah rakyat lemah yang mengungsi karena kehiangan rumah mereka. Apa untungnya mereka menculik mereka?” pikir Jia Rong.
“Apa pun itu, tidak ada orang lain yang melakukan sesuatu tanpa alasan. Jika benar pengungsi itu diculik, orang yang menculiknya pasti memiliki tujuan besar. Entah apa pun itu, kita tidak boleh membiarakan rencana mereka berhasil,” cetus Yi Cai.