ICE & FIRE IMMORTALITY

ICE & FIRE IMMORTALITY
HANCURKAN TUBUH TEMANMU



“Benar juga. Kau dilahirkan di dunia dengan wujud seperti ini. Kau pasti tidak akan mengingat siapa dirimu dan bagaimana masa lalumu. Tidak masalah. Anggap saja ini pertemuan pertama kita,” ujarnya.


Yi Cai semaki tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Xiao Fan.


“Tidak perlu bertele-tele. Selesaikan pertarungan dan tentukan pemenangnya!” cetus Yi Cai.


“Hahahaha. Kau memang tidak pernah berubah, selalu percaya diri dan arogan! Baiklah, mari selesaikan ini semua. Kesempatanku untuk bisa bertarung denganmu. Hiaaatttt!!!” Xiao Fan kembali menyerang Yi Cai.


Yi Cai tetap santai berdiri di balik tirai tabir yang melindunginya. Xiao Fan menyerang tirai secara membabi buta untuk melemahkan formasi. Akan tetapi, formasi yang diciptakan cukup kuat untuk menangkis serangan Xiao Fan. Hingga terakhir kalinya, Xiao Fan tidak mengira jika formasi akan menampung semua serangannya, dan memantulkan serangan kepada dirinya sendiri.


Ketika bola api yang dipantulkan dari tirai tabir formasi itu balik menyerangnya, Xiao Fan pun bergegas menghindar.


DUAAARRR!!! Ledakan akibat serangan balik itu menghantam dinding batu hingga membuat dinding itu meruntuh. Sedangkan Xiao Fan, dia berhasil menghindari serangan balik yang dia dapatkan.


Kemudian, ia pun berkata, “Pengecut! Sampai kapan kau akan berlindung di balik situ. Kalau berani, lawan aku secara langsung, buka bersembunyi dengan nyaman di balik tabir! Itu baru disebut pertarungan sesungguhnya!” cerca Xiao Fan karena kesal tak mengakui kekalangannya.


“Xiao Fan atau siapa pun kamu, aku bukan pengecut! Tabir ini adalah kekuatanku. Sekali pun aku keluar untuk melawanmu, kau tidak akan bisa mengalahkan kehebatan tabir ini. Bukan aku yang pengecut, tapi kau yang lemah. Kau bukanlah tandinganku, tapi kau hanya tidak ingin mengakui kekalahanmu,” balas Yi Cai.


“Hekh!” Menyeringai seraya menampilkan senyum liciknya. “Tidak kusangka, Dong Hua dunia manusia sepengecut ini. Dong Hua yang kukenal akal maju paling depan, sekalipun dia tak memiliki banyak kekuatan untuk melakukan perlawanan,” ujarnya.


‘Dong Hua? Siapa yang disebutkannya?’ batin Yi Cai. Dia terdiam tanpa mengatakan apa pun. Satu nama yang terlintas baru saja membuatnya sangat heran. “Dong Hua? Sayang sekali, aku bukanlah Dong Hua yang kau kira. Aku adalah Yi Cai, juga tidak mengenal siapa Dong Hua,” balas Yi Cai.


“Tentu saja kau tidak mengenalnya. Karena kau harus mengenal dirimu sendiri,” cetusnya.


Semakin dipikirkan, Yi Cai semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Xiao Fan.


“Berhenti mengatakan omong kosong! Pertarungan kita belum selesai,” balas Yi Cai.


“Pertarungan hanya akan selesai jika salah satu dari kita mati. Jika kau terus berada di balik tabir, kau hanya akan bertahan hidup. Sedangkan aku, aku tidak akan menyerang tabir yang akan balik menyerangku. Kau pikir aku bodoh, apa? Untuk apa aku mengantarkan kematianku sendiri? Untuk apa menyerang sesuatu yang sudah kutahu akan balas menyerangku? Jika ingin mengakhiri pertarungan, keluarlah dan hadapi aku secara langsung. Ah, benar. Tidak banyak waktu tersisa. Gua batu ini akan segera runtuh. Jika kau terus berlindung di balik tirai air itu, kau tetap akan mati terkubur di gua ini. Oh ya, kau juga tidak akan bisa menyelamatkan teman-temanmu ini,” cetusnya.


Apa yang dikatakan oleh Xiao Fan memang tidak salah. Jika Yi Cai tetap berlindung di balik tirai tanpa melakukan perlawanan, sama saja dia hanya melindungi dirinya sendiri dan mengulur banyak waktu. Sedangkan Xiao Fan, dia tidak perduli untuk melanjutkan pertarungan, karena roh jahat yang merasuki tubuhnya bukanlah makhluk yang bodoh.


Tentang Jia Yun, baru saja terlintas di pikiran Yi Cai. Dia reflek menatap tubuh Jia Yun yang masih terbaring tak sadarkan diri, dengan selang kecil yang terus menyedotnya, lalu menampungnya ke kantung darah. Setengah kantung darah telah terisi. Artinya, darah Jia Yun telah terkuras setengahnya. Jika menunda waktu lebih lama lagi, takutnya Yi Cai tidak akan bisa menyelamatkan nyawa Jia Yun, hingga darah di dalam tubuhnya terkuras habis.


“Bagaimana? Apa yang kukatakan ini salah? Tidak, bukan? Aku sudah berbaik hati mengingatkanmu. Aku tidak perduli lagi tentang menyerap darah kalian. Hanya satu yang kuinginkan. Tentukan pemenang! Di antara kita harus ada yang mati, baru semua ini akan berakhir. Karena kau sudah tahu identitasku, aku tidak lagi membutuhkan tubuh manusia ini,” ujarnya.


“Aku pasti akan membunuhmu!” cetus Yi Cai.


“Hahahaha.” Xiao Fan tertawa terbahak-bahak ketika Yi Cai mengatakan bahwa dia akan membunuhnya. Tawa Xiao Fan membuat Yi Cai merasa curiga dengannya.


“Apa yang kau tertawakan?” tanya Yi Cai sembari mengernyitkan alisnya dan menatap dengan tatapan tidak senang.


“Baiklah, kau boleh membunuhku sesukamu. Tapi, sebelum kau melakukannya, aku perlu memberitahumu satu hal. Kau … tidak akan pernah bisa membunuhku!” cetusnya.


“Omong kosong! Iblis jahat sepertimu harus dimusnahkan. Kekuatanku saja sudah cukup menghancurkanmu berkeping-keping,” cetus Yi Cai dengan percaya diri.


“Benarkah? Kalau begitu, lakukan saja sesukamu! Bunuh aku dan hancurkan aku berkeping-keping seperti keinginanmu. Tapi, jangan salahkan aku jika nantinya kau akan menyesalinya,” ujarnya seraua menampilkan senyuman licik yang tertarik di ujung bibirnya.


Perkataan Xiao Fan sama sekali sukar untuk dipahami oleh Yi Cai. Makhkul yang saat ini tengah dihadapi olehnya bukanlah makhluk sembarangan. Yi Cai tidak tahu tepatnya disebut apa, tetapi dia hanya dapat menyebutnya sebagai energi roh jahat yang merasuki satu tubuh.


‘Tunggu … semua ini … .’ Akhirnya, Yi Cai teringat detail yang dari awal sudah sangat mengganjal.


Makhluk itu adalah Xiao Fan. Akan tetapi, Xiao Fan bukanlah pengendali pikiran dan hatinya, melainkan energi roh jahat yang melakukannya. Namun, di sisi lain, tubuh yang digerakkan saat ini adalah tubuh yang dikenal oleh Yi Cai.


Tubuh itu menyerupai Jia Rong. Sedangkan Xiao Fan, Yi Cai tidak tahu ke manakah jasad aslinya. Mungkinkah … tubuh yang digerakkan adalah tubuh Xiao Fan yang menyamar sebagai Jia Rong, atau mungkin … pemilik tubuh itu benar-benar Jia Rong.


“Makhluk licik!” cerca Yi Cai.


“Hahahaha. Apa kau telah memikirkannya? Bagaimana? Apa kau masih berpikir ingin membunuhku dan menghancurkanku berkeping-keping. Ketahuilah, ini bukan aku, bukan dia, tapi salah satu temanmu. Jika kau membunuhku dan menghancurkanku berkeping-keping, akan kupastikan bahwa yang mati bukanlah aku, melainkan temanmu. Jiwanya akan menyebar karena tubuhnya dihancurkan oleh tanganmu sendiri. Bukankah sangat ironis? Kau akan membunuh dan menghancurkan tubuh temanmu sendiri. Hahahaha.”