ICE & FIRE IMMORTALITY

ICE & FIRE IMMORTALITY
ENERGI QI KACAU



"Jia Yun, sadarlah!" Yi Cai mengguncang-guncang tubuh Jia Yun agar ia tersadar. Namun, Jia Yun tak juga tersadar. "Tidak bisa begini terus. Dia mungkin sulit dibangunkan karena kehilangan banyak darah. Aku harus menyalurkan energi spiritual," cetus Yi Cai.


Yi Cai menyalurkan energi spiritual dalam tubuhnya kepada Jia Yun agar Jia Yun lebih mudah disadarkan. Yi Cai melakukannya dengan cepat agar mereka dapat segera keluar daei gua yang hampir runtuh.


Ketika asupan energi yang diberikan Yi Cai berhasil menyadarkan kesadaran Jia Yun, mereka pun segera bangkit dan menggotong tubuh Jia Rong yang tergeletak lemah di atas tanah. Untungnya, mereka bertiga berhasil keluar dari gua, tepat sebelum gua benar-benar runtuh hancur lembur.


"Hufffttt ... Melelahkan sekali." Yi Cai akhirnya bisa menghela nafasnya setelah ia berhasil menyelamatkan Jia Yun dan Jia Rong dari dalam gua.


Yi Cai merebahkan tubuhnya di atas rerumputan, bersama tubuh Jia Rong yang masih terbaring tak sadarkan diri. Sedangkan Jia Yun, ia tetap pada posisi duduk. Dia terlihat ling-lung dan berusaha mengingat apa yang sebenarnya telah terjadi.


Kala melihat Jia Yun terlihat bingung, Yi Cai pun memanggilnya, "Jia Yun!" serunya.


Jia Yun reflek menoleh ke arah Yi Cai. "Eh? Kenapa?" gagapnya.


"Apa yang kau lamunkan?" tanya Yi Cai.


"Pertanyaan yang tepat. Yi Cai, sebenarnya, apa yang telah terjadi sebelumnya? Mengapa aku tidak bisa mengingat apa pun? Terakhir kali, aku ingat kita berjalan-jalan di luar pada malam hari, setelah itu aku tidak mengingat apa pun lagi. Dan, mengapa kita berakhir di gua yang hampir runtuh? Apa yang terjadi padaku? Dan Jia Rong ... Apakah dia akan baik-baik saja?" Jia Yun langsung mencecar Yi Cai dengan banyak pertanyaan.


"Baguslah jika kau tidak mengingatnya. Sebaiknya, kau tidak perlu mengingatnya. Yang terpenting sekarang, kita berhasil keluar dari desa terkutuk itu," ujar Yi Cai.


"Yi Cai, aku serius. Setidaknya, aku harus mengetahui apa yang sedang terjadi. Kepalaku juga terasa sangat pusing, dan pandanganku berkurang-kunang. Sebenarnya, apa yang telah terjadi? Aku benar-benar penasaran. Yi Cai, tolong ceritakan. Aku ingin mengetahui segalanya," desak Jia Yun.


Jia Yun tetap memaksa agar Yi Cai menceritakan kepadamu tentang sesuatu yang sebenarnya telah terjadi kepada mereka, karena tidak mengingat apa pun membuatnya semakin merasa buruk dan kebingungan.


"Pffff ... Baiklah, aku akan menceritakannya." Akhirnya, Yi Cai pun bersedia menceritakan segalanya kepada Jia Yun.


Yi Cai menceritakan cerita keseluruhan tentang apa yang sebenarnya telah terjadi secara panjang lebar. Jia Yun pun mendengarkannya dengan seksama, karena ia benar-benar ingin tahu sesuatu yang tak dialaminya secara langsung.


"Ternyata begitu. Syukurlah kita berhasil selamat. Itu artinya, misteri tentang hilangnya para pengungsi telah terpecahkan. Lalu, Yi Cai ... ." Jia Yun menggantung perkataannya.


"Kenapa?" tanya Yi Cai.


"Aku dan Jia Rong tak sadarkan diri. Lantas, apa kau yang mengalahkan roh jahat biadab itu sendirian?" Pertanyaan dari Jia Yun sepontan membuat Yi Cai terhenyak.


Yi Cai membisu, menatap Jia Yun dengan tatapan kosong, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Yi Cai, kau terlihat mencurigakan." Jia Yun mulai curiga dengan Yi Cai, seraya menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan yang dia pendam di dalam batinnya.


"Kenapa? Apa itu? Apa kau curiga kalau aku bekerjasama dengan roh jahat itu? Yang benar saja. Jia Yun! Apa kau meragukanku?" timpal Yi Cai dengan suara tegasnya.


"B-bukan begitu maksudku. Hanya saja ... aku merasa ... ." Perkataan Jia Yun terdengar gagap. "Ah, lupakanlah! Anggap saja semua tidak pernah terjadi. Ah, mungkin tidak bisa, karena kau sendiri yang mengalaminya. Aku tidak tahu detailnya, tetapi aku tetap harus berterimakasih kepadamu. Terimakasih. Jika tidak ada kau, aku dan Jia Rong mungkin akan menghilang dari dunia Jianghu. Bertemu denganmu adalah suatu berkah terbesar bagi kami," tutur Jia Yun dengan setulus hati.


Yi Cai tertegun tatkala mendengar ungkapan rasa terimakasih dari Jia Yun. Bukan hanya itu saja, Jia Yun bahkan berpikir bahwa pertemuan mereka adalah sebuah berkah.


Tidak pernah terlintas dalam diri Yi Cai, jika ia berhasil menemukan teman setulus dan sebaik Jia Yun dan Jia Rong. Ia pun tak pernah menyangka jika dia dapat melindungi teman-temannya dengan segenap jiwa raga dan tenanganya.


Pertama kali, awalnya dia berpikir bahwa manusia adalah makhluk yang sangat egois dan manipulatif. Namun ternyata, tidak semua manusia itu sama. Semua memiliki ciri khas masing-masing, dan memiliki perilaku yang berbeda-beda.


Jika ada manusia jahat, juga ada manusia yang baik seperti teman-teman yang dia kenal selama perjalanan kali ini. Faktanya, Yi Cai tak merasa rugi keluar dari gunung untuk melakukan perjalanannya di peradaban manusia.


"Aku juga. Bertemu dengan kalian berdua, juga merupakan keberuntungan terbesar dalam hidupku. Aku punya banyak kekurangan yang dikata orang lain sangat menjijikan dan tak pantas disebut sebagai manusia. Namun, kalian berdua menerimaku apa adanya, tanpa memandang siapa aku dan bagaimana rupaku. Xie Xie." Yi Cai pun mengungkapkan rasa syukurnya kepada Jia Yun.


Jia Yun hanya membalasnya dengan senyuman tipis, lalu memalingkan wajahnya menatap langit. Bukan karena Jia Yun sinis dengan Yi Cai, tetapi memang begitulah sikapnya. Dia hanya mengungkapkan seperlunya, dan jika tak ada yang ingin dia katakan, maka dia memilih untuk tetap diam memandangi lingkungan sekitarnya.


"Jia Rong belum juga terbangun. Apa dia tidak apa?" tanya Jia Yun tanpa menatap wajah Yi Cai, karena pandangannya tetap tertuju pada langit yang cerah.


Cuaca siang itu memang cerah dan sangat terik. Pantas saja sebelumnya Jia Yun merasa heran dengan detail yang dia lewatkan, karena terakhir kali ia sadarkan diri adalah pada malam hari. Ternyata, semalam lebih mereka terperangkap dalam jeratan roh jahat di desa terkutuk.


"Energi dalam tubuh Jia Rong tidak stabil. Darahnya baru saja menyatu dengan energi roh jahat, membuat suhu tubuhnya semakin menurun. Dia akan kedinginan siang ini," ujar Yi Cai.


"Benarkah? Kalau begitu, aku harus menyalurkan energiku untuk menghangatkannya," cetus Jia Yun.


Belum sempat Jia Yun menyalurkan energi spiritualnya kepada Jia Rong, Yi Cai bergegas menghentikan dengan merdeka lengannya yang telah mengambang di depan dada Jia Rong.


Jia Yun mengernyitkan kedua alisnya, menatap Yi Cai dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Yi Cai, lepaskan tanganmu! Aku harus menyalurkan energiku untuk menghangatkan tubuhnya," cetus Jia Yun.


"Jia Yun, jangan bertindak tanpa berpikir. Kau telah kehilangan 1 ⅓ darahmu. Kondisi tubuhmu juga sangat lemah. Jika kau memaksakan diri untuk menyalurkan energi kepada Jia Rong, Qi energi tubuhmu akan tidak seimbang dan kau akan jatuh sakit. Cukup Jia Rong yang tidak sadarkan diri. Jangan menambah bebanku dengan mengatur kondisi tubuhmu juga. Aku menghentikanmu bukan karena khawatir, tapi karena aku tidak ingin kerepotan."