
“A-aku… tidak bisa,” gagap Pangeran Fengxi. Tangannya bergetar ketika ibunya, Ratu Chu Xia menyuruhnya mengambil pedang yang digenggam Ratu Chu Xia.
Pangean Fengxi membeku, sama sekali tak bisa menggerak-gerakkan sendi-sendi tubuhnya. Tidak, dia tak mampu melakukannya. Pedang yang ia lihat di hadapannya saat ini, layaknya musuh terbesar baginya. Ia tak bisa menyentuhnya, ataupun meraihnya.
Pangeran Fengxi takkan pernah mampu meraih pedang itu untuk membunuh Pangeran Yongping, kakaknya sendiri, seorang Kakak yang sangat menyayanginya dan memperhatikannya selama ini.
“Tidak berguna! Dasar anak lemah! Inilah alasanku melarangmu berteman dengannya. Pilih, bunuh dia, atau Ibu akan bunuh diri,” ancamnya. Ratu Chu Xia tidak main-main mengancam anaknya sendiri.
Pangeran Fengxi reflek menajamkan kedua netranya seketika, tatkala ibunya memberi pilihan yang sangat membebaninya. Ia sangat tahu betul bagaimana sikap ibunya yang sangat keras kepala. Jika ia mengatakan sesuatu, tidak mustahil ia dapat mengingkari perkataannya.
“Ibu tanya sekali lagi. Pilih Ibu, atau dia? Jika kau memilih tidak membunuhnya, maka, Ibu akan bunuh diri di hadapanmu sekarang juga. 1, 2 … .” Ratu Chu Xia mulai mendekatkan bagian tajam pedang yang ada di genggamannya ke lehernya.
“Tidak! Ibu, aku mohon jangan lakukan itu!” pinta Pangeran Fengxi, memohon agar ibunya berhenti melakukan tindakan bodoh yang menyakiti dirinya sendiri.
“Ibu tidak akan berhenti sebelum kau memutuskan. Jika menurutmu, detik-detik nyawa anak ini lebih penting dari Ibu, maka, Ibu akan bunuh diri.” Ratu Chu Xia tak henti mendesak dan mengancam Pangeran Fengxi, untuk menentukan pilihannya.
“Ibu … .”
“Fengxi, bunuh aku!” Tiba-tiba terdengar suara lain yang lebih lemah. Ya, dia adalah Pangeran Yongping. Setelah disiksa sedemikian rupa, Pangeran Yongping tetap memaksakan diri untuk berbicaara kepada Pangeran Fengxi, dengan sedikit tenaga yang tersisa.
“Kakak … kau sudah sadar?” tanya Pangeran Fengxi. Ia berniat menghampiri Pangeran Yongping yang terbaring lemah, dengan rantai yang membelenggu seluruh tubuhnya. Akan tetapi, Ratu Chu Xia dengan sigap menghentikan langkah Pangeran Fengxi dengan cara menghadang jalannya, dengan pedang yang ada di genggaman tangannya.
“Ibu … .”
“Jangan pernah berani memanggilku dengan sebutan itu, jika kau tidak pernah menganggapku ibumu. Ibu bukanlah orang yang sabar menunggu dan mengulur waktu. Jika kau tidak segera menetapkan pilihanmu, kau tidak akan pernah menyebut kata ‘Ibu’ lagi,” ancamnya.
“Fengxi, bunuh aku!” ucap Pangeran Yongping sekali lagi. Kali ini, volume suaranya lebih keras dari sebelumnya.
“Kau dengar apa yang baru saja dia katakan? Dia bahkan dengan sukarela menyuruhmu membunuhnya. Bahkan, sampai di detik terakhir hidupnya, dia masih saja bersikap sok pahlawan. Aku sangat tidak menyukainya, terlebih dengan sikapnya itu. Bagus jika dia lebih pengertian dan ingin lebi cepat mati. Aku tidak perlu khawatir lebih lama membencinya dan keberadaannya,” ujar Ratu Chu Xia dengan dinginnya.
“Kasih sayang palsu? Hekh! Sebelum kau saling menghubungkan dua kata ini, seharusnya kau memahami dasarnya. Kasih sayang? Palsu? Seharusnya keduanya tidak bisa digabungkan. Sebelum kasih sayang palsu, ada baiknya kau memahami ‘kasih sayang’ terlebih dahulu. Dari awal, kata ‘kasih sayang’ tidak pernah ada untukmu. Bagaimana itu bisa palsu? Kau adalah anak dari wanita itu. Bagaimana mungkin aku bisa menyayanginya. Bahkan, dengan kepalsuan sekalipun, kau tidak pantas mendapatkannya dariku. Kau… aku tidak pernah menyayangimu, bahkan dengan kata ‘palsu’ sekalipun,” tutur Ratu Chu Xia.
Perkataan Ratu Chu Xia sudah cukup memberi Pangeran Yongping lubang sedalam mungkin di hatinya. Ia kira, Ratu Chu Xia memperlakukannya dengan tulus. Namun, sayangnya semua itu hanyalah angan-angan semata.
Ratu Chu Xia memberinya perhatian, bukan karena ia menyanginya, melainkan untuk memahami gerak-gerik dan kelemahannya selama ini. Pangeran Yongping sebenarnya bukan anak yang bodoh. Dia adalah anak yang sangat pintar. Itu sebabnya, Ratu Chu Xia merasa teranca dengan keberadaannya. Oleh sebab itu, Ratu Chu Xia sengaja memberikan perhatian Pangeran Yongping, layaknya memberi perhatian kepada anaknya sendiri, bahkan lebih dari ia memperhatikan Pangeran Fengxi anaknya sendiri.
Tindakan yang dia lakukan itu dengan sengaja, hanya untuk merebut hati Pangeran Yongping dan mendapatkan kepercayaannya semata. Pangeran Yongping memang tidak bodoh, tetapi ia tidak sadar jika selama ini dibodohi kasih sayang yang membutakan pandangannya.
Pangeran Yongping menganggap perhatian Ratu Chu Xia selama ini berdasarkan ketulusan seorang Ibu kepada anaknya. Ia terbutakan kasih sayang seorang Ibu, karena ibunya meninggalkannya di usia belia. Itulah kelamahan terbesar Pangeran Yongping yang membantu Ratu Chu Xia melancarkan rencana dan aksi liciknya. Serigala berbulu domba, anggap saja Ratu Chu Xia wanita semacam itu.
“Kau memang tidak berperasaan. Lalu, izinkan aku bertanya satu hal lagi,” pinta Pangeran Yongping.
“Cukup! Aku dan putraku mengunjungimu diam-diam seperti ini, bukan untuk mengajukan sesi tanya jawab yang membuang waktu berhargaku. Jika ingin mengetahui segalanya, lebih baik kau mati saja. Mati lebih baik, mati lebih tenang. Dengan begitu, kau akan bertemu dengan ibumu lebih cepat. Bukankah kau sangat merindukannya?” Ratu Chu Xia begitu pedasnya, mengucapkan satu oatah kata demi kata tanpa perasaan.
“Benar, kau memang benar. Mati lebih baik. Aku sangat merindukan ibuku. Fengxi, datanglah… cepat bunuh aku sekarang juga!” pinta Pangeran Yongping kepada Pangeran Fengxi yang sedari tadi hanya bisa terdiam membisu, terpaku di tempatnya, tertegun dengan semua pembicaraan keduanya.
‘Pada akhirnya, ini semua hanya masalah persaningan antara Ibu dan Kakak. Lalu, kenapa mereka menyeretku ke dalamnya dan membebankan sebuah akhir di punggungku?’ lirih Pangeran Fengxi dalam batinnya.
Ratu melirik Pangeran Fengxi dengan mata nyalangnya, ketika Pangeran Fengxi tak juga menggerakkan tubuhnya untuk membunuh Pangeran Yongping yang telah mempersiapkan dirinya.
“Anak bodoh! Apa lagi yang kau tunggu? Cepat bunuh dia!” desaknya sembari menyerahkan pedang ke hadapan Pangeran Fengxi.
Pangeran Fengxi menatap pedang itu dengan tatapan sendu. Dia benar-benar sedih dengan semua yang telah terjadi kepadanya, hidupnya, dan keluarga kerajaannya. Sudah tak asing lagi bagi keluarga kerajaan, untuk menghadapi situasi perebutan kekuasaan yang dengan kejamnya mengorbankan keluarganya sendiri. Pedang tak bermata, juga tak berhati. Kekuasaan yang dinati-nanti, selalu ingin dimiliki. Mahkota dan jubah kerajaan nan elok tak seelok tampilannya, menurut intruksi kapal sang nahkoda yang berlayar ke laut pertumpahan darah, sebagai pengisi ruhnya.
“Baik, aku akan melakukannya!”