
"Hei, lalu apa yang kau lakukan sejak tadi? Ha?!" sentak Yi Cai.
Jia Yun tersontak tatkala Yi Cai menyentaknya. Dia tak berkutik dan membiarkan Yi Cai memarahinya begitu saja, karena Jia Yun menyadari kesalahannya, dan menyadari kebodohannya.
"Jadi, bagaimana ciri-ciri bunga patah hati yang kau maksud?" tanya Jia Yun dengan nada datarnya.
"Huftt ... ." Yi Cai menghela nafasnya perlahan, guna menurunkan emosinya. Jia Yun benar-benar berhasil membuat Yi Cai tak habis pikir. "Baiklah, aku tidak ingin bertele-tele karena kita harus segera menyelamatkan Jia Rong. Hei, simak baik-baik yang kujelaskan! Awas jika sampai nanti menanyakan pertanyaan yang membuatku emosi. Hei, Jia Yun, apa kau ini benar-benar tolol atau kenapa? Jika dari awal kau memang tidak tahu bagaimana ciri-ciri bunga patah hati, seharusnya kau bertanya padaku? Malu bertanya, sesat di jalan. Tidak bertanya, sekan paling pintar, membuat kita terlihat semakin bodoh," cetus Yi Cai.
"Tidak seperti yang kau pikirkan. Aku hanya lupa karena terlalu terbuka-buru menyelamatkan Jia Rong," sangkalnya.
"Hmmm ... Baiklah. Kita harus segera menemukan bunga patah hati. Kau bisa mencarinya bersamaku. Aku akan menjelaskan ciri-cirinya. Bunga patah hati adalah bunga yang sering digunakan oleh para tabin sihir. Dia hanya tumbuh di balik rerumputan, dan hanya memilih satu batang lurus, tak memiliki cabang. Warnanya ... Aku ingat, sepertinya putih bening," jelas Yi Cai.
"Hei, bagaimana bisa kau ragu soal warnanya? Bagaimana jika salah mengenali dan ternyata bunga racun?!" protes Jia Yun.
"Nah, aku mendapatkannya. Jia Yun, kita harus segera memberikannya kepada Jia Rong!" kata Yi Cai dengan bersemangat.
Tanpa memperdulikan komentar dari Jia Yun, Yi Cai bergegas menyeretnya kembali menemui Jia Rong, tatkala dia berhasil mendapatkan bunga patah hati yang ciri-cirinya mirip dengan yang tertulis di suatu buku yang pernah dia baca.
***
"Tunggu!" Xiao Liu menghentikan Tao Hua yang selangkah menginjakkan kakinya ke dalam gua.
Tao Hua reflek menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap wajah Xiao Liu.
"Ada apa? Xiao Liu, kenapa menghentikanku lagi?" tanya Tao Hua serah menyipitkan kelopak matanya.
"Putri, apa sebaiknya kita biarkan saja? Kita tidak tahu apa yang dilakukan manusia itu di dalam. Jika bahaya ... ." Belum sempat Xiao Liu menyelesaikan perkataanya, Tao Hua langsung menyahutnya begitu saja.
"Xiao Liu, aku tidak takut. Sekalipun aku takut, ada kau yang melindungiku. Ada dirimu, untuk apa aku takut dengan bahaya?" ungkap Tao Hua.
Perlahan-lahan dilepaskannya cengkraman tangan yang menyekal pergelangan tangan Tao Hua. Xiao Liu akhirnya tak menghentikan tindakan Tao Hua lagi.
Dia membiarkan Tao Hua melangkahkan kakinya memasuki gua, dengan diikuti Xiao Liu yang bertugas melindungi Tao Hua dari bahaya yang sewaktu-waktu mengancamnya.
"Apa ada orang di dalam?" seru Tao Hua, mencari keberadaan manusia yang dikatakan Xiao Liu berada di dalam gua. Suara Tao Hua menggema di dalam gua, terus mencari sosok manusia yang dikatakan oleh Xiao Liu.
"Xiao Liu, di sini gelap," ucap Tao Hua.
"Eh?" Xiao Liu tak mengerti mengapa Tao Hua mengucapkan perkataan yang nyata-nyata sebuah fakta.
"Hei, kau ini tidak peka. Karena gelap, maka nyalakan sinar," perintahnya.
"Ah, benar. Tunggu."
Xiao Liu tak mengerti dengan maksud Tao Hua sebelumnya, karena indera penglihatannya dapat melihat dengan jelas di tengah kegelapan. Berbeda dengan Tao Hua yang hanya seorang manusia biasa, dan tak memiliki kemampuan spesial seperti Xiao Liu sang monster roh rubah berekor sembilan.
Xiao Liu mengumpulkan kekuatan spiritualnya di manik matanya, hingga membuat manik matanya bersinar cerah seperti cahaya lampu yang berwarna jingga.
Bersama Xiao Liu, Tao Hua tetap melanjutkan pencariannya. Keduanya saat ini semakin masuk ke dalam gua, tetapi tak juga mereka temukan sosok manusia yang dikatakan oleh Xiao Liu. Akan tetapi, aroma pekat yang tercium oleh Xiao Liu tak bisa membohonginya jika benar ada sesosok manusia yang bersembunyi di dalam gua.
"Xiao Liu, apa kau yakin ada seseorang di dalam sini? Kita telah masuk jauh ke dalam gua, tetapi tak ada sesosok manusia yang terlihat," kata Tao Hua.
"Dia mungkin sedang bersembunyi. Kita tidak tahu apa rencananya. Putri, kita tidak boleh memandang remeh para manusia. Aku pastikan ada seorang manusia yang berada di dalam gua ini, karena aku dapat mencium aromanya yang semakin kuat," tutur Xiao Liu.
"Baiklah, maka jangan sampai lengah. Kau bertugas melindungiku." Tao Hua sama sekali tak khawatir tentang keselamatannya, karena dia yakin bahwa Xiao Lu pasti akan melindunginya.
"Dingin sekali ... Panas ... ."
"Tunggu ... ." Tao Hua reflek menghentikan langkahnya, dan menghalangi Xiao Lu yang juga reflek menghentikan langkahnya karena Tao Hua menghalangi langkahnya dengan lengan membentang di hadapannya.
"Ada apa, Putri?" tanya Xiao Liu. Dia penasaran dengan alasan mengapa Tao Hua tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Xiao Liu," panggilnya.
"Iya, ada apa, Putri?" tanya Xiao Liu
"Apa kau mendengar suara samar seseorang?" tanya Tao Hua dengan sikap antusiasnya.
"Ya, aku juga mendengarnya," jawab Xiao Liu dengan santainya.
"Bagaimana menurutmu? Apa dia berbahaya? Apa dia orang jahat? Apa kau bisa mengatasinya?" cecar Tao Hua karena ia sudah mulai panik.
Xiao Liu tertawa kecil ketika dia melihat Tao Hua mulai waspada. Padahal, sebelumnya Tao Hua terlihat percaya diri dan berani.
"Hei, Xiao Liu! Apa kau baru saja menertawakanku?" protesnya sembari menekuk wajahnya.
"Tidak, bukan maksudmu menertawai Anda. Hanya saja ... Sudahlah. Anggap saja tadi aku tidak tertawa." Xiao Liu mencoba mengalihkan pembicaraan. "Aku tidak waspada karena semakin dekat, semakin aku dapat merasakan energi spiritual di tubuhnya. Energi spiritual dalam tubuhnya sepertinya sedang kacau," ungkap Xiao Liu.
Pernyataan dari Xiao Liu seketika membulatkan kedua manik mata Tao Hua.
"Hei, bukankah seharusnya kita menolongnya? Kekacauan energi Qi yang tak seimbang dalam tubuh dapat berakibat fatal. Dia pasti sedang sekarat," kata Tao Hua.
"Lantas, bagaimana cara Putri menolongnya?" Pertanyaan dari Xiao Liu sengaja ditujukan untuk menguji Tao Hua.
Tao Hua terdiam merenung. Dia membisu tanpa bisa berkata-kata. Hatinya bimbang, tetapi hati polosnya memaksanya untuk menolong seseorang yang bahkan tak dikenalnya.
"Bagaimanapun caranya, aku harus menolongnya. Kita harus menemukan keberadaannya terlebih dahulu," cetus Tao Hua.
Dengan sigap Tao Hua mencekal lengan Xiao Liu dan menyeretnya berjalan bersamanya. Tao Hua berinisiatif untuk menemukan sosok orang asing berdasarkan sumber suara yang dia dengar beberapa saat lalu.
Pada akhirnya, Tao Hua dan Xiao Liu menemukan sesosok manusia yang tengah dicarinya, mengikuti sumber suara yang dia dengar. Tao Hua mengernyitkan kedua alisnya kala ia melihat sesosok pria yang terlihat sangat tersiksa.
"Xiao Liu, kita harus segera menolongnya," cetus Tao Hua.