ICE & FIRE IMMORTALITY

ICE & FIRE IMMORTALITY
MENGENDARAI PEDANG



“Iya, benar,” jawab Yi Cai singkat.


“Tidak mungkin. Manusia pada umumnya hidup bersama manusia lainnya. Jika hidup di hutan, berarti kau orang hutan,” ejek Jia Yun dengan nada datar seperti biasa.


“Hei, Jia Yun!” tegur Jia Rong.


“Kenapa? Apa yang kukatakan salah? Tidak, kan? Orang yang hidup di desa, disebut orang desa. Yang hidup di Kota, disebut dengan orang Kota. Jangn bilang yang hidup di hutan, tidak mau disebut orang hutan. Yaampun.” Jia Yun tetap melanjutkan ejekannya terhadap Yi Cai.


Yi Cai hanya terdiam, sembari memasang raut wajah yang sedikit ditekuk. Ia tak melawan perkataan Jia Yun, karena ia pun merasa bahwa perkataannya tak ada salahnya.


“Sudahlah. Daripada banyak bicara, lebih baik kita lanjutkan tujuan kita,” himbau Jia Rong. “Kompas penunjuk arah milikmu sudah rusak. Kita gagal menemukan arah jalan,” ujar Jia Rong sembari memberikan kompas penunjuk arah kepada Jia Yun.


“Ah? Benarkah? Aisshh …! Kompas kesayanganku. Gara-gara monster roh sialan itu!” desisnya. Jia Yun hanya melampiaskan kekesalannya kepada monster roh nirwana yang telah mati menjadi abu.


“Oh benar. Lalu, apa yang harus kita lakukan dengan kelereng spiritual itu?” tanya Yi Cai sembari menunjuk kelereng spiritual berwarna merah yang masih saja melayang-layang di udara.


“Tidak ada yang bisa kita lakukan. Kelereng spiritual milik monster roh. Dan juga, hanya bisa digunakan para kultivator roh pelindung. Sedangkan kita hanyalah seorang kultivator jalan pedang. Kita tidak bisa mengekstrak kelereng yang tidak ada hubungannya dengan kita,” jelas Jia Rong.


“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Yi Cai sekali lagi.


“Apa lagi, selain menghancurkannya?” Jia Rong tengah bersiap untuk menghancurkan kelereng spiritual itu. Akan tetapi, tindakannya itu dihentikan sepontan dihentikan Yi Cai.


“Tunggu!” Yi Cai menghentikan Jia Rong yang hampir menghancurkan kelereng spiritual.


Jia Rong yang tengah mengeluarkan kekuatan spiritual di ujung telapak tangannya, sepontan menghilangkannya kembali.


“Kenapa kau menghentikanku?” tany Jia Rong dengan alis berkerut.


“Aku ingin memilikinya!” cetus Yi Cai.


“Kau? Untuk apa kau ingin memilikinya? Bukankah kau mengambil jalur kultivasi pedang? Jika kau memaksakan diri menyerapnya, jindan dalam tubuhmu tidak akan kuat menahannya,” tutur Jia Rong. Dia sedikit heran tentang alasan mengapa Yi Cai ingin memiliki kelereng spiritual milik monster roh tingkat empat yang berhasil mereka musnahkan.


“Aku hanya ingin menyimpannya. Aku tidak akan menyerapnya,” ujar Yi Cai.


“Untuk apa?” tanya Jia Yun.


“Hanya ingin. Siapa tahu, di lain kali, aku akan membutuhkannya,” ujar Yi Cai.


“Hufft … .” Jia Rong menghela nafasnya. “Baiklah. Kau boleh memilikinya,” ujar Jia Rong.


Jia Rong menarik kelereng spiritual yang melayang-layang di udara, lalu memberikannya kepada Yi Cai. Yi bergegas menyambutnya, lalu menyembunyikannya di dalam kantung spiritual.


“Ayo! Kita lanjutkan perjalanan,” himbau Jia Rong.


“Ke mana?” tanya Jia Yun.


“Ke mana saja. Apa kalian ingin menetap di hutan tanpa tujuan? Bahkan, Yi Cai yang berasal dari hutan pun dapat mendatangi Yongzhou. Aku sempat mendapatkan penglihatanku. Di arah sana, ada sebuah desa.” Jia Rong menunjuk ke arah barat daya.


“Apa kau yakin? Jangan sampai kita tersesat nanti.” Jia Yun merasa tidak yakin dengan apa yang disampaikan oleh Jia Rong.


Yi Cai menggeleng-gelengkan kepalanya, pertanda dia tak bisa melakukan satu hal yang ditanyakan oleh Jia Rong.


“Hufftt … .” Jia Rong menghela nafasnya sekali lagi. “Baiklah, tidak masalah. Kau bisa ikut bersamaku. Kau, Jia Yun! Jangan bermain-main dan tetap serius. Kau terbang dengan pedangmu sendiri.” Jia Rong mengingatkan Jia Yun.


“Aku tahu. Banyak bicara!” celetuknya, dengan wajah masam yang sedikit ditekuk.


Jia Rong mulai menarik pedang miliknya dari sarungnya. Kemudian, ia meletakkannya di atas tanah. Ia menyalurkan kekuatan magisnya ke pedang miliknya, hingga pedang pun mengambang sekitar 30 Cm dari permukaan tanah.


Selanjutnya, Jia Rong naik di atas pedangnya, dan mengajak Yi Cai naik bersamanya.


“Yi Cai, naiklah! Kau bisa ikut di belakangku,” perintah Jia Rong.


“Baiklah, terimakasih,” ucapnya.


Memang sedikit tidak nyaman, karena Yi Cai merasa dirinya merepotkan dan beban perjalanan bagi Jia Rong dan Jia Yun. Namun, Yi Cai hanya memendamnya, karena ia terlalu untuk mengungkapkan ketidakompetennya.


Jia Rong mulai menerbangkan pedangnya, dan disusul Jia Yun di belakangnya. Ketika Jia Rong mulai menerbangkan pedangnya, Yi Cai sedikit kesulitan menyesuaikan keseimbangannya di atas udara.


“Yi Cai, jangan banyak bergerak. Jangan panik, dan jangan melihat ke bawah. Fokuskan batinmu. Anggap saja kau tengah berjalan di daratan. Jika kau tidak bisa melakukannya, cukup tutup matamu. Lalu, bayangkan hal yang paling menyenangkan.” Jia Rong memberi tips agar Yi Cai tidak panik.


Berkat arahan dari Jia Rong, akhirnya Yi Cai pun mulai bisa mengatur keseimbangannya di atas pedang yang terbang di udara. Yi Cai tak ingin terlalu dipandang lemah. Oleh sebab itu, ia lebih memilih bersikeras mengatur nafas dan mengosongkan kegundahan dalam batinnya, dibandingkan memilih cara kedua yang terkesan kekanakan.


“Jia Rong, terimakasih. Aku sudah mulai bisa mengatur keseimbanganku,” ucap Yi Cai.


“Sialan! Jia Yun sudah berada jauh di depan. Baiklah, Yi Cai. Kalau begitu, aku akan meningkatkan kecepatanku. Bersiaplah!” Memperingati Yi Cai.


“Aaaaa!!!” Yi Cai berteriak kencang, tatkala Jia Rong menambahkan kecepatannya. Jia Yun secepat angin, membuat membuat Yi Cai tak bisa melihat apa pun lewat pandangan matanya.


“Hei, Jia Yun!” seru Jia Rong, tatkala ia telah mengimbangi Jia Yun yang berdampingan di sampingnya.


“Kenapa?” Sebenarnya, Jia Yun sangat malas menjawab panggilan Jia Rong.


“Kau terbang secepat itu … apa kau tahu ke mana arah tujuanmu?” tanya Jia Rong.


“Tidak tahu. Kau mengatakan barat daya. Artinya, aku hanya perlu terbang ke arah barat daya,” jawabnya cuek.


“Anak bodoh dari mana ini ini? Hei, kau mungkin bisa tersesat di udara juga,” ledeknya.


“Aku tidak perduli. He, wajah kita mirip. Jika kau terus mengatakanku tolol dan bodoh, itu artinya, kau mengatai dirimu sendiri,” balas Jia Yun.


“Aku juga tidak perduli. Kita hanya memiliki wajah yang mirip, tapi tubuh kita terpisah. Lagian, kau yang meniru wajahku. Ingatlah, aku yang lahir terlebih dahulu,” cetus Jia Rong.


“Aisshh! Bosan!” desis Jia Yun kesal karena perkataan basa-basi dari Jia Rong.


“Jia Rong, lihat! Di sana ada sebuah desa!” tunjuk Yi Cai ke arah depan bawah, tatkala pandangannya mendapati peradaban kecil yang berjarak sekitar 20 meter dari tempat mereka melayang di udara.