ICE & FIRE IMMORTALITY

ICE & FIRE IMMORTALITY
PERTIKAIAN



“Tidak perlu repot-repot memberikanku kesan mendalam. Cukup sehari saja, aku pasti akan melupakannya,” balas Yi Cai.


‘Bedebah arogan! Dia tahu cara bersilat lidah. Tampaknya, 3 tahun terakhir ini, dia banyak belajar. Sudah waktunya memberi pelajaran agar dia tidak bisa menyomobongkan dirinya yang hina,’ batinnya geram.


Pemuda itu mengepalkan lengannya, dan semakin mencengkram eras cambuk halilintar di genggaman tangannya. Yi Cai melirik sekilas cambu yang digenggam erat oleh pemuda itu. Cukup sekali lirik, Yi Cai dapat menebak apa yang akan dilakukan pemuda itu selanjutnya.


SLEREEETT… CTARRRR!!! Pemuda itu melayangkan cambuknya ke arah Yi Cai. Yi Cai menepis serangan cambuk halilintar dengan pedangnya. Kekuatan spiritual dari cambuk halilintar milik pemuda itu tak bisa diremehkan. Sekuat tenaga Yi Cai menahannya dengan pedang yang dililit oleh cambuk halilintar itu.


“Apakah kebiasaanmu menyelinap secara tiba-tiba ketika kita berbicara baik-baik?” Yi Cai melontarkan perkataannya.


“Pembicaraan baik-baik? Aku pikir, aku tidak perlu memperlakukanmu secara baik-baik. Aku akan memberi pelajaran kepada orang sok pahlawan yang ikut campur masalah orang lain. Cambuk halilintar milikku lebih tahu bagaimana cara melakukannya,” cetusnya geram.


“Baiklah! Kalau begitu, tunjukkan kemampuanmu! Jangan hanya membualkan kehebatanmu tanpa bukti!” tantang Yi Cai.


Dengan sigap, Yi Cai menarik pedangnya dari sarungnya. Ia menepis serangan dari pemuda yang menentangnya, lalu mengembalikan serangan cambuk halilintar itu kepadanya.


Pemuda itu sedikit terkejut, tatkala serangannya berbalik melawannya. Akan tetapi, ia tidak panik karena dialah seorang Tuan yang mengendalikan senjatanya. Sangat mudah baginya untuk mengontrol kestabilan energi spiritual pada cambuk halilintar miliknya.


Cambuk halilintar kembali stabil, lalu ia menjuntaikannya ke bawah. Pemuda itu menatap wajah Yi Cai dengan kebencian mendalam, karena geram bahwa Yi Cai berhasil menepis serangannya. Akan tetapi, baginya semua itu bukanlah apa-apa. Hanya pemanasan pembukaan saja, penyerangan sesungguhnya belum dimulai. Itulah yang dia pikirkan dalam batinnya.


Yi Cai pun balas menatap wajah pemuda itu dengan tatapan santainya, karena ia merasa tak memiliki dendam apa pun terhadap apa yang dilakukan pemuda itu kepadanya.


PROK! PROK! PROK! Suara tepukan telapak tangan yang terdengar nyaring sampai ke telinga Yi Cai.


“Menakjubkan! Aku akui keberanianmu. Sangat jarang orang yang berani menentangku secara terang-terangan,” ucapnya terselip tawa yang terkesan penuh dengan kelicikan.


“Itu karena mereka pengecut, bukan karena kau yang pantas ditakuti,” balas Yi Cai tanpa sedikit pun perasaan takut di kala harus menanggung konsekuensi atas perkataan yang diucapkannya.


‘Sialan! Berani sekali dia meremhkanku,’ batinnya. “Baiklah. Karena kau merasa bahwa dirimu bukan pengecut, maka bertarunglah denganku satu babak lagi,” tantangnya sembari menampilkan senyum tersungging.


“Siapa takut!” Yi Cai menantangnya balik.


“Hekh! Arogan!!! Hiatttt!!!” Pemuda itu pun melayangkan cambuknya sekali lagi ke arah Yi Cai.


“Berengsek!!!” umpatnya kepada Yi Cai. “HIAATTT!!!” Sekali lag, dia meluncurkan serangannya ke rah Yi Cai, membuat retakan tanah yang lebih dalam dari pukulan pertama. Sayangnya, sekali lagi dia gagal memukulkannya ke tubuh Yi Cai.


Kali ini, dia tak ingin perhitungan lagi. Dia mulai menargetkan Yi Cai secara membabi buta. Dia tak lagi memikirkan sekelilingnya yang telah hancur karena perbuatannya.


Yi Cai kewalahan jika terus menghindari serangan darinya. Akan tetapi, ia pun tak memiliki kesempatan untuk melakukan perlawanan. Yang bisa dia lakukan hanya terus menghindari serangannya. Sedangkan sang pemuda yang menyadari bahwa Yi Cai telah kelelahan, semakin mempercepat serangannya. Dia sengaja tak menghentikan serangannya, karena tak ingin sedikit pun memberi waktu untuk Yi Cai beristrahat. Ia dengan sengaha mengulur waktu hanya untuk membuat Yi Cai kelelahan, lalu setelahnya, ia akan menyerangnya tanpa belas kasih.


Yi Cai benar-benar kewalahan. Hingga akhirnya, HIAATTT!!! Cambuk halilintar datang ke arahnya, sedangkan Yi Cai hanya bisa menutup matanya, seraya mengacungkan pedang untuk menepisnya. Walaupun dia sendiri sangat paham, jika pedangnya tak akan lagi bisa menepis cambuk halilintar yang menyerangnya secara membabi buta.


DUAARRRR!!!! Terdengar suara ledakan secara tiba-tiba di telinga Yi Cai. Tak tahu apa yang tengah terjadi, karena Yi Cai menutup kedua netranya. Kala ia membuka mata, yang dia lihat hanyalah kabut tebal. Di tengah-tengah kabut, samar-samar ia melihat dua sosok pria berbaju putih bersih, dengan pedang agung yang mereka genggam masing-masing di tangan kekarnya.


‘Siapa mereka?’ Yi Cai hanya bisa bertanya-tanya dalam batinnya, mengenai kedua sosok pemuda yang tiba-tiba muncul di hadapannya, tetapi kedua pemuda itu memunggungi Yi Cai.


Kabut tebal pun akhirnya mulai menghilang. Yi Cai akhirnya bisa melihat apa yang baru saja terjadi di hadapannya saat ini.


“Okh… okh … okh … .” Pengaruh kabut asap tebal itu membuat beberapa orang batuk.


“Sialan! Siapa berengsek yang berani ikut campur lagi?!” sentak pemuda yang beberapa saat lalu, menyerang Yi Cai secara membabi buta.


“Kami!” jawab kedua pemuda berpakaian serba putih itu dengan lantang.


“Siapa? Aku tidak kenal kalian!!!” sentaknya geram.


“Kau tidak mengenal kami, tapi kami mengenalmu. Kau salah seorang murid balai roh pelindung yang sering berbuat onar, bukan? Dari kejauhan, kami mendengar jika ada salah seorang murid dari balai roh pelindung yang memporak-porandakan pasar, dan mengusik seorang pedagang dan Nona muda. Ternyata, bedebah itu kau?” cetus salah satu dari kedua pria yang memakai pakaian serba putih itu.


“Jika iya, lalu kenapa? Sialan! Kenapa banyak sekali orang yang suka ikut campur! Dari awal, semua ini adalah urusanku. Kenapa kalian terus mencampurinya? Aku tidak mengusik mereka tanpa alasan. Pertama, pedagang miskin itu meminjam uang kepadaku, tapi tak juga mengembalikan bunga dari uang yang dipinjamnya. Sudah seharusnya, seorang anak membalas budi orangtuanya. Di samping itu, dia adalah seorang wanita. Wanita lebih mudah menghasilkan uang, dengan menjadi gadis penghibur di rumah bordil. Sialnya lagi, si topeng buruk rupa itu muncul hanya untuk ikut campur. Memberinya sedikit pelajaran tidak akan cukup untuk menyadarkannya. Tentu saja aku harus memberi pelajaran agar ia bisa mengingat dengan benar, jika seorang buruk rupa hanyalah makhluk menjijikan yang tak pantas bersikap arogan!” balasnya, menjelaskan dan menyampaikan pandangannya.


“Benarkah?” Hanya satu pertanyaan yang keluar dari mulut salah seorang pria berbaju putih itu. Jenak, keduanya menoleh ke belakang. Kedua pria berbaju putih itu menatap wajah Yi Cai, seakan meminta pendapat kepada Yi Cai.


Yi Cai terpaku di tempatnya. Ia hanya membisu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


“Ada satu saksi di sini. Dia yang lebih pantas membenarkannya, dibandingkan manusia hina yang tak lebih baik dari anjing yang suka menggonggong.”