
“Eih, benar. Yi Cai, tumben sekali kau sedikit pintar. Sedikit saja daripada Jia Yun,” puji Jia Rong, walaupun pujiannya tetap terkesan mengejek Yi Cai, apalagi Jia Yun adik kembarnya sendiri.
“Sialan!” umpat Jia Yun.
“Baiklah. Kalau begitu, kita mendarat di sana,” himbau Jia Rong. “Hei, Jia Yun! Apa kau mendengar perkataanku barusan?” tanya Jia Rong dengan suara lantang, karena ketika berbicara di udara, suaranya kerap terbawa angin.
“Aku tahu! Aku dengar!” jawab Jia Yun dengan suara lantang pula.
“Baiklah,” ucap Jia Rong.
Jia Rong dan Jia Yun mulai bersiap untuk mendarat ke sebuah desa yang berada tepat di bawah mereka saat ini. Sebagai bentuk kesopanan, mereka berdua tidak langsung masuk ke dalam desa, melainkan jauh di luarnya.
Ketika telah mendarat, Jia Rong dan Jia Yun bergegas memasukan pedangnya masing-masing ke dalam sarungnya. Tentu saja karena mereka tak ingin penduduk desa merasa terancam dengan kehadiran mereka, apalagi kehadiran seseorang yang membawa pedang di tangannya.
Namun, ketika mereka pertama kali masuk. Yang mereka lihat ….
“Kenapa sangat sepi? Di mana penduduk desa di tempat ini?” gumam Jia Rong. Dia bertanya-tanya tentang apa yang dia lihat di depan mata.
Tepat pertama kali mereka memasuki gerbang desa, tak ada satu pun penduduk yang terlihat di depan mata, melainkan hanyalah sebuah desa kosong yang terlihat sudah lama tak berpenghuni. Namun, atmosfer yang mereka rasakan cukup aneh.
Tak ada satu pun makhluk hidup yang terlihat di depan mata. Akan tetapi, energi spiritual mereka merasakan tekanan yang begitu dahsyat dari dalam desa tersebut. Entah energi semacam apa, mereka belum bisa memastikannya.
“Jia Yun, Yi Cai, apa kalian merasakan sesuatu?” tanya Jia Rong, meminta pendapat dari keduanya.
“Cukup aneh. Kenapa aku merasa … energi spiritual di dalam tubuhku seakan ditekan dari dalam, lalu perlahan berkurang,” ujar Jia Yun.
“Yi Cai, bagaimana denganmu?” tanya Jia Rong.
“Aku juga merasakan hal yang sama,” jawab Yi Cai.
“Desa ini cukup aneh. Terlihat tak berpenghuni, tetapi semuanya tersusun begitu rapi. Mungkinkah … sebenarnya desa ini terdapat penghuninya, tetapi mereka mengunci diri?” pikir Jia Rong.
“Jia Rong, hati-hati!” Yi Cai memperingatkan Jia Rong untuk lebih berhati-hati.
Sepontan, Jia Rong pun was-was dengan peringatan yang diberikan oleh Yi Cai. Mereka bertiga bergegas untuk memindah posisi mereka, dari tanah yang saat ini tengah mereka pijak.
“Buruk. Ini bukan tanah. Ini lumpur hisap!” cetus Jia Rong.
Dengan sigap, Jia Rong meraih lengan Yi Cai untuk menaiki salah satu atap rumah desa itu. Sedangkan Jia Yun, dia mengambil rute yang berbeda dengan Jia Yun dan Jia Rong. Meski mereka bertiga tidak sepenuhnya yakin bahwa mereka akan selamat tatkala menaiki atap, tetapi hal yang mereka lakukan dapat menunda waktu, sekaligus memantau apa yang sebenarnya tengah terjadi.
“Apa ini? Apa semua tanah di desa ini adalah lumpur hisap?” gumam Jia Rong.
“Tapi, bagaimana rumah-rumah ini berpijak di permukaannya?” pikir Yi Cai.
“Benar, rumah-rumah ini … .” Ucapan Jia Rong tergantung, kala Jia Yun menyahutnya.
“Jia Rong, apa kau meraskan sesuatu?” tanya Jia Yun dari seberang.
“Tidak! Bukan gempa. Lebih tepatnya … .”
JLEEBBB!!! Belum sempat Jia Yun menyelesaikan perkataannya, sepontan saja ketiganya terserap ke dalam lumpur hisap dalam hitungan detik.
Yi Cai adalah orang yang pertama sadar di antara yang lainnya. Ketika ia sadar, ia pun bergegas membangunkan Jia Yun dan Jia Rong yang tebaring di sampingnya.
“Jia Rong! Jia Yun! Bagunlah!” Yi Cai mengguncang-guncang tubuh keduanya secara bersamaan, agar mereka berdua segera sadar.
Jia Yun lebih dulu tersadar, hingga disusul Jia Rong. Samar-samar mereka berdua melihat ke sekelilingnya. Begitupula Yi Cai, yang baru sadar dengan sekitarnya, karena ia terlalu sibuk membangunkan Jia Yun dan Jia Rong terlebih dahulu.
“Di mana ini?” gumam Jia Rong.
Mereka menyadari sekelilingnya yang tampak tidak biasa. Mereka bertiga terperangkap ke suatu tempat berbentuk ruang hampa luas yang memiliki background dan hamparan cokelat gelap. Tidak ada apa pun dan siapa pun yang mereka lihat di sana. Hanya mereka bertiga yang bertemankan ruang hampa nan sunyi.
“Apa ini … yang disebut ruang ilusi? Apa kita terperangkap ke ruang ilusi?” pikir Jia Yun.
“Tidak! Ini bukanlah ruang ilusi. Semua ini terlalu nyata,” sahut Yi Cai.
“Ilusi memang seperti itu, terasa sangat nyata.” Jia Yun menguatkan gagasannya.
“Tidak, ini bukan ilusi, juga tidak tepat disebut nyata. Sepertinya, ini adalah ruang lain di dimensi berbeda,” cetus Jia Rong.
“Kenapa kau berpikir demikian?” tanya Jia Yun.
“Tidak penting disebut apa ruang ini sesungguhnya. Yang jelas, kita harus mencari cara agar kita bisa keluar dari sini. Kita tidak boleh terperangkap di dalam sini. Apa pun awal kejadiannya, tidak ada ruang yang tidak bisa ditembus, jika kita bisa menembus masuk ke dalamnya,” cetus Jia Rong.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Yi Cai.
Sekilas, Jia Rong menatap wajah Jia Yun. Sejenak kemudian, ia menatap wajah Yi Cai.
“Kalian berdua … tidak bisakah kalian memikirkan sesuatu? Kenapa kalian terus-terusan mengandalkanku? Aku juga tidak tahu. Ini juga pertama kaliku datang ke tempat misterius semacam ini. Jika kalian bertanya padaku, aku harus bertanya pada siapa? Bertanya pada ruang hampa ini? Ruang hampa, bagaimana cara kita keluar? Begitu yang kalian maksud?” celetuknya.
Keduanya pun hanya terdiam. Ya, karena pikiran mereka benar-benar buntu. Di saat seperti ini, tak ada hal lain yang bisa mereka pikirkan. Mereka bertiga terlihat putus asa.
“Bagaimanapun, kita harus keluar dari sini. Kita tidak boleh menyerah dan mati konyol di tempat seperti ini. Ksatria sejati tidak akan menyerah hany menunggu kematian menghampirinya. Ksatria sejati akan mati di ujung pedang musuh, ataupun peperangan!” cetus Jia Rong.
Jia Rong bangkit terlebih dahulu dari posisinya. Ia menatap Jia Yun dan Yi Cai yang masih dalam posisi terduduk.
“Jia Rong benar. Kita tidak boleh mati di sini seperti ini,” cetus Yi Cai. Semangat Jia Rong yang bangkit, turut mengalirkan semangat dalam diri Yi Cai. Ia pun bangkit dari poisisinya, seraya menatap Jia Rong dengan sorot mata penuh keyakinan.
Kemudian, disusul Jia Yun yang turut bangkit pula dari posisinya. Namun, Jia Yun paling berbeda. Tidak munafik, Jia Yun sama sekali tak bersemangat dan tak menunjukkan semangatnya sedikit pun. Entahlah, karena Jia Yun selalu seperti itu.
Dalam keadaan apa pun, dia tak pernah berlebihan. Baik dalam hal semangat, ataupun perasaan takut. Semuanya datar, baginya biasa-biasa. Dia tipe orang yang masa bodo dengan segala hal yang menimpanya.
“Baiklah. Silakan kalian temukan jalan keluar. Setelah kalian mendapatkannya, aku hanya perlu mengikuti di belakangnya,” ujar Jia Yun.