ICE & FIRE IMMORTALITY

ICE & FIRE IMMORTALITY
TRAGEDI AWAL MULA



"Yi Cai, sebelum kau melawannya, kau harus mengenali lawanmu," cetusnya.


Serbuk emas beraroma cendana menyerbak di hidung Yi Cai. Kemudian, ia pun terhipnotis tak sadarkan diri.


“Ayah, Ibu!” seru seorang pria berkisar umur 20-an tahun. “Lihat, apa yang kubawakan!” serunya sembari menampilkan senyum semringahnya.


Pemuda itu membawakan seekor rusa perburuannya di hutan. Ketika melihat pemuda itu mendapatkan tangkapan yang bagus, keluarganya pun turut bahagia dan tersenyum kepadanya.


“Xiao Fan, dari mana saja kamu? Sini, datang makan bersama kami.” Mengajak anaknya yang bernama Xiao Fan untuk bergabung di meja makan bersama dengan keluarga kecilnya.


“Ibu, bagaimana dengan tangkapanku kali ini? Bukankah menakjubkan? Sangat jarang kita mendapatkan tangkapan yang bagus. Kali ini, kita bisa makan enak,” ucapnya kegirangan.


“Kakak, bagaimana caramu menangkapnya?” tanya adik laki-lakinya yang umurnya tak jauh dengan Xiao Fan.


“Awalnya, aku bersembunyi di atas pohon, lalu ketika melihat seekor rusa melintas di bawahku, ternyata dia berhenti untuk memakan rerumputan di sekitar. Sepertinya, keberuntungan memang berpihak padaku hari ini. Aku langsung turun dari atas pohon dan menyergapnya, menindingnya agar tak bisa melarikan diri dan bergegas menggorok lehernya,” jelasnya secara terperinci.


“Wah, hebat sekali. Keberuntungan memang berpihak padamu,” balas adiknya.


“Tidak hanya untukku saja, tetapi untuk kita semua. Kali ini, kita akan kita masak seperti apa?” tanya Xiao Fan sembari menatap wajah ibunya.


Sontak ibu Xiao Fan pun berhenti menyantap makanannya. Dia menatap Xiao Fan seraya berkata, “Bagaimana jika malam ini kita memanggangnya?” Meminta pendapat kepada keluarga kecilnya.


“Ide bagus. Aku yakin, jika ibu kalian yang memasaknya, makanan biasa pasti rasanya akan istimewa,” ujar kepala keluarga itu.


“Baiklah. Aku akan segera menyiapkannya. Tapi, apa akan termakan? Kita sudah makan seperti ini,” pikirnya.


“Kalau begitu, jangan makan terlalu kenyang. Xiao Fan, Xia Nai, jangan makan terlalu kenyang. Nanti Ayah yang akan menghabiskan daging rusa sendirian,” godanya.


“Ayah!” seru keduanya serempak.


“Tidak, tidak. Ayah hanya bercanda,” ujarnya.


“Baiklah, Ibu sudah selesai. Kalian lanjutkan saja. Ibu akan mulai mempersiapkan bumbu-bumbunya,” ujarnya seraya bangkit dari posisinya.


“Aku juga sudah selesai,” ucap Xiao Nai adik Xiao Xiao Fan. “Kalau begitu, aku akan membantu Ibu mempersiapkan bumbu-bumbu,” sambungnya.


Keduanya pun menuju dapur untuk mempersiapkan bumbu-bumbu yang digunakan untuk memanggang daging rusa. Sementara Xiao Fan tetap lanjut menyantap makanannya. Beberapa saat kemudian, ia pun berhenti menyantap makanannya. Dia mengajak ayahnya untuk mempersiapkan bahan bakar untuk memanggang daging rusa.


Tak dapat diprediksi, tiba-tiba terjadi gempa di desa tempat mereka tinggal. Guncangan desa itu begitu dahsyat. Akan tetapi, faktanya tidak seperti gempa biasa. Desa itu berguncang hebat, membuat permukaan tanah menjadi sangat gembur seperti lumpur.


Sekejap saja, seluruh rumah yang ada di desa itu beserta penduduknya terserap ke dalam tanah yang berubah menjadi lumpur hisap. Ketika semua lenyap, Xiao Fan masih sempat bertahan hidup menyaksikan kesedihan yang dia lihat di depan mata kepalanya sendiri. Semua rumah dan penduduk desa, termasuk keluarganya, mereka semua menghilang terserap lumpur hisap.


Xiao Fan benar-benar putus asa. Ia tak bisa bergerak karena semakin dia menggerakkan tubuhnya, tubuhnya semakin terserap ke dalam lumpur. Di kala lumpur telah mencapai lehernya, dia memejamkan matanya dan benar-benar menyerahkan hidupnya. Dia memejamkan matanya dengan berlinangan airmata karena keputusasaan dan kehilangan segala yang dia miliki.


Xiao Fan ingin agar lumpur hisap segera menyerapnya saat itu juga. Namun, tatkala lumpur hisap telah berhasil menelan hampir ke tenggorokannya, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara yang menyerukan namanya.


“Xiao Fan,” panggilnya.


Reflek Xiao Fan membuka kedua matanya. Namun, tak didapatinya siapa pun di hadapannya, Hingga selang beberapa menit kemudian, muncullah seorang Kakak tua memegang tongkat kayu di tangannya.


“Siapa kau?” tanya Xiao Fan.


“Jika kau meminta, aku bisa menyelamatkan dirimu,” ujarnya memberikan tawaran kepada Xiao Fan.


Xiao Fan terhening dalam diamnya. Hingga akhirnya, ia pun angkat bicara, “Untuk apa menyelamatkanku? Untuk apa membiarkanku hidup jika orang-orang tersayangku sudah pergi? Untuk apa aku hidup tanpa mereka? Mati lebih baik. Aku akan menemani mereka ke alam baka. Kau tidak perlu repot-repot menolongku.” Xiao Fan menolak tawaran pria tua itu secara mentah-mentah.


“Janga langsung menolak pertolonganku. Jika kau menyelamatkan dirimu sendiri, kau bisa menyelamatkan semua keluargamu,” cetusnya.


“Tidak mungkin. Kau berbohong! Mereka semua telah terserap ke dalam lumpur hisap. Bagaimana caramu menolong mereka?” Xiao Fan tak ingin percaya dengan perkataan pria tua itu begitu mudahnya, karena ia pun berpikir bahwa semua itu mustahil.


“Aku tidak butuh kau percaya perkataanku atau tidak. Semuanya tergantung pilihanmu. Jawabannya hanya ‘Ya/ Tidak.’ Selain itu, aku hanya perlu membantumu jika kau bersedia. Namun, jika kau tidak bersedia, aku akan membiarkanmu mati terserap lumpur hisap bersama dengan keluargamu,” cetusnya.


“Bagaimana caranya? Bagaimana caraku menyelamatkan mereka? Tolong beritahu aku,” pinta Xiao Fan dengan sungguh-sungguh.


“Sebelum menyelamatkan keluargamu, tentu saja kau harus menyelamatkan dirimu sendiri. Aku akan memberitahumu setelah kau memilih tawaran dariku. Yang kuinginkan hanyalah sebuah jawaban dari dua pilihan itu. Kau harus memilih di antara keduanya. Jika kau tidak ragu, maka aku akan memberitahu bagaimana caramu menyelamatkan keluargamu. Dan segala sesuatu yang ada di desa ini akan pulih seperti sediakala. Dan kalian semua akan hidup tentram dan damai seperti sebelumnya,” ujarnya.


Xiao Fan terhening seraya memikirkan pilihan mana hal yang harus dia pilih. Dia sangat ingin menyelamatkan dirnya dan keluarganya. Namun, di sisi lain dia tak percaya jika pria itu dapat mewujudkan harapannya.


“Apa kau masih ragu dengan perkataanku? Jika kau memilih untuk menyalamtkan dirimu dan keluargamu, aku akan memberimu kekuatan besar agar bisa menjalankan misimu. Bukan aku yang akan menyelamatkan keluargamu, tapi pilihan ada di tanganmu. Jika kau menyelamatkan dirimu sendiri, maka kau pasti bisa menyelamatkan keluargamu.” Pria itu tak henti membujuk Xiao Fan. Entah apa tujuannya, tak ada yang tahu. “Jangan terlalu lama berpikir. Jika kau membuang-buang waktu berhargamu, kau tidak akan bisa menyelamatkan dirimu sendiri, terlebih keluargamu. Tidak banyak waktu, lumpur hisap akan menenggelamkanmu.” Memperingati Xiao Fan dengan cara mendesaknya.


“Apa benar, aku bisa menyelamatkan keluargaku jika aku menyelamatkan diriku sendiri? Apa kau tidak menipuku?” Xiao Fan masih saja belum yakin dengan pilihannya.


“Kau bisa mempertimbangkannya setelah aku menyelamatkan dirimu terlebih dahulu. Lihat bagaimana aku menyelamatkanmu, kemudian memberikan kekuatan besar untuk menjalankan rencanamu. Aku hanyalah sarana yang membantumu. Sedangkan tujuanmu, tergantung bagaimana pencapaianmu,” tuturnya.


“Baiklah. Aku menjawab YA. Aku ingin kau menyelamatkan diriku!” cetusya.