
"Jangan khawatir, Putri. Sebentar lagi dia akan sadarkan diri," ucap Xiao Liu.
"Aahh ... Syukurlah jika begitu. Ah benar." Tao Hua bergegas melepaskan pelukannya terhadap Xiao Liu. "Xiao Liu, kau bisa menyandarkan orang ini di pohon itu," perintah Tao Hua.
"Baik." Tanpa banyak berkata, Xiao Liu pun menyandarkan tubuh sang pemuda itu di sebuah pohon besar. "Putri, apa yang akan kau rencanakan selanjutnya?" tanya Xiao Liu karena dia benar-benar penasaran dengan isi pikiran tuannya.
"Shuutt! Cukup turuti perkataanku saja," cetus Tao Hua.
"Yasudah, baiklah." Xiao Liu menyerah untuk mengetahui rencana yang akan dilakukan oleh tuannya terhadap pemuda yang berhasil ditolongnya.
"Xiao Liu, lihat! Dia mulai membuka matanya!" kata Tao Hua kegirangan.
Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya pemuda itu sadarkan diri. Perlahan-lahan, sang pemuda membuka kelopak matanya.
Samar-samar dilihatnya seorang gadis berpakaian warna merah tengah memperhatikannya, bersama dengan seorang pria yang berkostum bulu yanh terlihat aneh.
Gadis yang dilihatnya adalah Tao Hua. Sesuai dengan ciri-ciri yang dilihatnya, Tao Hua mengenakan gaun panjang berwarna merah cerah. Sedangkan Xiao Liu, dia tetap mengenakan kostum bulu rubah, sekali pun tahun ini adalah tahun kemarau yang mataharinya cukup terik.
"S-siapa kalian?" gagapnya.
Ketika sang pemuda mulai angkat bicara, Tao Hua bergegas menghampirinya. Namun, tatkala wajah Tao Hua sangat dekat dengan wajahnya, pemuda itu reflek memundurkan tubuhnya. Sayangnya, dia tak menyadari jika punggungnya telah menyentuh batang pohon yang disandarinya.
"Aku? Apa kau bertanya siapa aku?" goda Tao Hua.
Pemuda itu mengernyitkan alisnya, tak mengerti mengapa gadis itu balas bertanya.
Pemuda itu pun menjawab, "Ya, tentu saja kau. Apa ada orang lain yang harus kutanyakan?" balasnya.
"Ada. Apa kau tak menyadari kehadiran orang lain selain aku di sini?" uji Tao Hua.
"Maksudmu dia?" tunjuknya pada sosok pria berstelan bulu rubah yang tak lain adalah Xiao Liu.
Meskipun Xiao Liu sadar jika dirinya tengah dibahas, dia sengaja acuh tak acuh dan tetap berdiri memalingkan wajahnya ke arah lain. Sedangkan Tao Hua, dia pun berbalik menatap Xiao Liu yang tak balas menatapnya.
"Iya, benar. Dia adalah penjagaku. Acuhkan saja dia. Dia memang selalu acuh tak acuh terhadap orang lain," kata Tao Hua.
"Kalau boleh tahu, kenapa kalian seakan mengawasiku? Sebenarnya, apa yang telah terjadi?" tanyanya.
"Eh? Bukannya seharusnya aku yang bertanya apa yang terjadi padamu. Apa mungkin ... Kau sendiri tak mengingat apa pun? Tidak bisa. Setidaknya, kau harus mengingat siapa dirimu dan identitasmu. Kau terlihat tidak biasa. Jika kau tidak tahu siapa identitasmu sendiri, bagaimana caraku memanfaatkanmu?" celetuk Tao Hua.
Sepontan Xiao Liu menatap punggung Tao Hua yang tengah membelakanginya.
"Tentu saja. Aku tidak menolong orang lain secara gratis. Bagaimana pun, dia harus membayar biaya pengobatan. Tapi, apa benar kau tidak mengingat siapa dirimu? Tidak boleh. Kau harus mengingat siapa dirimu. Penampilanmu tidak kampungan. Kau pasti bukan seorang petani di desa. Apa kau punya uang? Aku menginginkannya," pinta Tao Hua dengan terus terang.
Permintaan aneh dari Tao Hua membuat pemuda itu reflek memundurkan wajahnya dan membulatkan matanya. Dalam hatinya, dia merasa bahwa Tao Hua adalah gadis yang aneh, tetapi juga unik.
Hatinya yang polos membuatmu tak segan-segan untuk mengatakan permintaan yang sebenarnya, permintaan itu bukanlah permintaan yang jarang dikemukanan.
"Uang? Maaf, sepertinya aku tidak punya. Aku bahkan tidak mengingat siapa namaku," ujar pemuda itu.
"Bahkan, nama sendiri kau juga tidak ingat?" Tao Hua histeris, sesaat kemudian menoleh nafasnya karena kecewa. Dia menunjukkan kepalanya, lalu melihat liontin yang menggantung di pakaian milik sang pemuda. "Bagaimana jika aku memintamu menyerahkannya kepadaku? Kelihatannya, liontin itu bisa menghasilkan uang. Bagaimana?" Meminta pendapat kepada sang pemuda.
Pemuda itu reflek menundukkan pandangannya, menatap liontin yang dimaksud oleh Tao Hua. Namun, dia merasakan perasaan lain tatkala melihat liontin miliknya.
Meski saat ini ia gagal mengingat siapa identitasnya, tetapi ketika melihat liontin miliknya, dia merasa jika barang itu sangat berharga baginya. Dia tak rela jika memberikannya begitu saja.
"Ini ... Sepertinya, aku tidak bisa memberikannya. Walaupun saat ini aku tak bisa mengingat apa pun, termasuk identitasku, aku tetap tak bisa menyerahkannya. Aku merasa ... Liontin ini sangat berharga bagiku," ujar sang pemuda seraya mengelus liontin giok berbentuk bulan setengah miliknya.
Tao Hua menghela nafasnya. Meski sedikit kecewa, tetapi ia tak bisa memaksa orang lain menyerahkan barang yang terlihat sangat dihargainya. Ia memang berniat memalaknya untuk kebutuhan dirinya sendri. Akan tetapi, memaksanya seperti itu sama saja merampok.
"Baiklah. Anggap saja aku beramal karena telah menyelamatkanmu. Pastikan, kau mengingat kebaikanku kali ini. Kau harus membalasnya suatu hari nanti. Mengerti?" kata Tao Hua.
Pemuda itu mengagguk, lalu bertanya, "Apa kau telah menyelamatkanku? Kalau boleh tahu, apa yang terjadi padaku?" tanyanya.
"Iya sih, nama sendiri saja kau tidak tahu. Pasti kau juga tidak mengingat apa yang telah terjadi kepada dirimu sendiri. Aku juga tidak tahu. Aku menemukanmu di dalam gua dan terlihat tersiksa karena energi Qi dalam tubuhmu tak seimbang. Tidak tahu apa yang terjadi, hingga membuat energi Qi dalam tubuhmu tak seimbang," jelas Tao Hua.
"Jadi begitu. Bagaimanapun, Terimakasih karena telah menyelamatkanku. Aku pasti akan mengingatnya dan membalas suatu hari nanti, jika kau membutuhkan bantuan," tuturnya. "Jadi, bisakah kau melepaskan pengikat di tubuhku ini?" pintanya tanpa ragu.
"Eiittt ... Tidak bisa begitu. Bagaimanapun, aku yang telah menolongmu. Aku harus memastikan bahwa kau benar-benar tidak ingat apa pun. Jika sampai aku melepaskanmu dan menyadari bahwa kau hanya bersandiwara, aku yang akan rugi. Ingat, tak ada yang gratis di dunia ini. Jika kau mengetahui caraku menyelamatkanmu, kau pasti tidak akan berpikir untuk lari dariku," cetus Tao Hua.
Sejenak kemudian, Tao Hua bangkit dari posisinya, meninggalkan sang pemuda yang masih terikat dalam posisi menyandar di bawah pohon.
Tao Hua berjalan menghampiri Xiao Liu karena ia penasaran akan sesuatu. Ia harus menanyakan sesuatu yang menggajal di pikirannya kepada Xiao Liu yang lebih tahu dan berpengalaman.
"Xiao Liu, menurutmu, apa dia benar-benar lupa ingatan? Apa kau juga berpikir, dia hanya pura-pura tidak ingat?" tanya Tao Hua dengan cara berbisik agar sang pemuda itu tak bisa mendengarkan pembahasannya.
"Aku tidak berpikir begitu. Sepertinya, dia benar-benar tak mengingat apa pun," jawab Xiao Liu.
"Benarkah? Apa kau yakin?" Tao Hua masih merasa tak yakin dengan jawaban dari Xiao Liu.
"Yakin 100%," jawabnya.