ICE & FIRE IMMORTALITY

ICE & FIRE IMMORTALITY
PENGECUALIAN



Baru saja usai Yi Cai menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba mereka merasakan ruangan mulai bergerak dan menyempit.


“Jia Rong, apa kau merasakannya? Ruangan ini semakin bergeser. Aku rasa … ruangan ini semakin menyempit,” tebak Yi Cai.


“Aku juga merasakannya,” jawab Jia Rong.


“Aku juga. Lalu, apa yang harus kita lakukan? Jika kita terus-terusan mengulur waktu, kita tidak tahu kapan ruangan ini akan mengapit kita. Di saat seperti ini, berasumsi tentang hal terburuk yang paling utama. Kita tidak bisa berpikir positif jika ruangan ini akan menetap seperti ini,” cetus Jia Yun.


“Yi Cai. Sebelumnya, kau bilang memiliki cara. Apa itu? Katakan saja tanpa ragu.” Jia Rong mempersilakan Yi Cai untuk berterus terang.


“Sebenarnya, aku juga belum yakin jika caraku ini akan berhasil. Tapi, tidak ada salahnya jika kita mencobanya!” cetusnya. “Pertama-tama, kita harus memastikan jika ruangan ini benar-benar ilusi. Sebelumnya, kita membahas tentang pedang kita dan rumah-rumah yang tidak terseret ke dalam lumpur hidap. Dari situ, mungkin ada cara untuk kita keluar dari sini. Jika benda-benda mati pengecualian, maka kita harus menggunakan pengecualian itu,” jelas Yi Cai.


“Apa maksudmu?” Jia Rong kurang mengerti dengan penjelasan dari Yi Cai.


“Benda mati … kita harus menggunakannya,” ujar Yi Cai.


“Tapi, di sini tidak ada benda mati. Mungkin akan ada satu, Jia Rong harus mati terlebih dahulu, baru kita memiliki benda mati,” celetuk Jia Yun.


“Hei, kau! Bisakah lebih serius?!” protes Jia Rong dengan suara lantangnya.


“Aku selalu serius, tidak pernah bermain-main,” balas Jia Yun dengan entengnya.


“Lupakan hal itu. Kita harus lebih fokus kepada inti permasalahan kita, jika kita tidak ingin mati konyol di tempat ini.” Kali ini, Yi Cai bena-benar serius. Dia tak ingin membuang waktu lebih lama, menunggu tanah semakin bergeser mengapit mereka bertiga. “Kalau begitu, aku lanjutkan. Jika kita memiliki tali, kita bisa menggunakan tali. Tapi, menemukan tali atau benda sejenisnya di tempat ini adalah sesuatu yang mustahil. Pertama, aku ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu,” cetus Yi Cai.


Dengan tenaganya, Yi Cai menyobek pakaian miliknya. Dia hanya menyobek bagian kecil sepanjang 5 cm, dan lebar 2 cm. Kemudian, ia menggulungnya dan melemparkannya ke dinding ruangan hampa yang sudah mulai terlihat. Dari sini, dapat diketahui jika ruangan hampa itu benar-benar semakin menyempit. Karena sebelumnya, di samping ruangan yang terlalu luas, mereka bertiga tidak bisa menemukan dinding dan sudut-sudut ruangan.


Tatkala Yi Cai melemparkan gulungan kain itu ke arah dinding, sekejap saja kain itu menghilang. Yi Cai, Jia Rong, dan Jia Yun pun saling pandang, dengan tatapan penuh keyakinan. Kali ini mereka yakin, jika mereka bertiga bisa keluar.


Ruang yang saat ini mereka bertiga singgahi, ternyata benar-benar sebatas ilusi. Hanya sebuah perangkap yang membuat pikiran kalut dan kebingungan, hingga meyakini jika semuanya adalah kenyataan.


“Selanjutnya, apa yang harus kita lakukan?” tanya Jia Yun dengan polosnya.


“Jia Yun … oh Jia Yun. Aku tidak tahu tepatnya. Kau ini benar-benar polos, atau memang bodoh?” celetuk Jia Rong.


“Tutup mulutmu!” balas Jia Yun.


“Kau! Awas saja. Aku pasti akan memperhitungkannya nanti,” ancam Jia Rong.


“Selanjutnya, lepaskan pakaian kalian berdua!” perintah Yi Cai.


Serempak, keduanya saling pandang, lalu menatap Yi Cai dengan tatapan penuh dengan pertanyaan yang terselip dalam benak mereka berdua.


“Hei, Yi Cai! Apa maksudmu? Kenapa kita harus melepaskan pakaian kita? Untuk apa?” tanya Jia Rong berterus terang.


“Jika kita bertiga ingin keluar, kalian harus melakukannya. Tapi, jika kalian ingin terperangkap di sini, aku tidak akan memaksa,” cetus Yi Cai.


“Weh! Setidaknya, kau harus memberi kami alasan, mengapa kami harus melepaskan pakaian kami. Bukannya kami tidak ingin melakukannya. Siapa pun dari kita pasti ingin keluar dari sini. Kita bertiga tidak ada yang ingin terjebak di sini. Tapi, kami juga perlu alasan untuk melakukan tindakan kami,” tutur Jia Rong.


“Di saat seperti ini, apa pentingnya memikirkan alasan? Tinggal melakukannya saja, apa susahnya? Memikirkan alasan, hanya membuang-buang waktu,” sahut Jia Yun seraya melepaskan pakaian, lalu menyerahkannya kepada Yi Cai. “Nah!” Jia Yun melepaskan jubahnya yang langsung diberikan kepada Yi Cai.


“Terimakasih. Maaf sebelumnya. Aku meminta kalian melepaskan pakaian kalian, karena pakaian kalian memiliki lapisan dalam. Sedangkan aku hanya memiliki satu lapis pakaian. Maaf karena telah merepotkan. Tapi, aku hanya ingin kalian mempercayaiku, dan kita harus saling percaya. Aku yakin, dengan caraku ini, kita pasti bisa keluar dari tempat ini,” cetusnya sangat yakin dan gentar.


Jia Rong trhening tak mengatakan apa pun, tetapi dia membuktikannya dengan tindakan. Jia Rong turut melepaskan pakaiannya dan memberikannya kepada Yi Cai.


Sedang Yi Cai tak langsung menerimanya. Dia menatapnya beberapa lama, selang ia menatap wajah Jia Rong. Jia Rong menaikkan kedua alisnya, membuat keningnya sedikit berkerut.


“Tunggu apa lagi? Aku memberikannya. Bukankah sebuah kepercayaan? Ini kepercayaanku. Aku percaya kau akan berhasil melancarkan rencanamu. Kita bertiga harus keluar dari tempat ini. Benar begitu?” Jia Rong terlihat santai, tak mempermasalahkan apa pun yang terjadi sebelumnya. Benar, karena dia telah memutuskan untuk mempercayai tindakan yang akan dilakukan Yi Cai.


Jia Rong dan Jia Yun percaya jika mereka bisa keluar, bersama dengan Yi Cai pula.


“Kita terseret ke tempat ini bertiga. Dan, kita harus keluar dari tempat ini bersama-sama,” cetus Jia Yun.


“Hei, Jia Yun! Aku merasa sedikit tidak biasa. Hari-hari biasa, kau lebih banyak diam tak banyak bicara. Kenapa sekarang kau lebih banyak bicara, dan … seakan bersikap sok bijak? Apa yang salah denganmu? Apa ada sesuatu yang merasuki kepalamu?” celetuk Jia Rong sembari menggaruk-garuk dagunya yang tak gatal.


Tatapan Jia Rong membuat Jia Yun sangat risih, bukan sedikit risih lagi. Akan tetapi, dia benar-benar sangat risih dengan tingkah laku Jia Rong yang terkesan menyebalkan dan selalu mengomentari segala sesuatu yang dia lakukan.


“Apa tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan, selain terlalu memperhatikan semua gerak-gerikku? Kau benar-benar bosan,” balas Jia Yun.


“Kalian berdua seakan menganggapku sebatas patung di sini,” sindir Yi Cai.


Kemudian, Yi Cai meraih jubah milik Jia Rong yang diberikan kepadanya.


“Bagaimanapun, terimakasih karena kalian berdua telah percaya padaku. Akan kupastikan rencanaku ini tidak akan gagal. Meski harus mati, kita harus mati berjuang hidup, bukan mati seperti pecundang yang menunggu kematian,” cetus Yi Cai dengan semangat membara, berkobar layaknya bara api.