
Aku kira ini awal bahagia kita, nyatanya ini awal permainanmu untuk menghancurkan hatiku hingga tak berbentuk.
πππ
"Kita mau kemana?" sedari tadi memang aku lelah saat Langit menyeretku berjalan tanpa jeda.
Langit sendiri bingung dia ingin kemana, dia hanya menyeret cewek bodoh ini keliling tanpa ada arah tujuan.
Sebenarnya Langit masih kesal karena kecerobohan cewek itu.
"Langit, kita mau kemana?" Langit menoleh dan menatap ku tajam. Aku pun bungkam.
"Lo bisa diem gak sih? Atau lo mau gue buat pingsan lagi?" mata ku membulat penuh saat mendengar ucapan Langit. Dengan cepat aku menggeleng.
"Aku diam," kataku dan membungkam mulutku.
Saat Langit hendak menyeretku, suara panggilan pun menghentikan langkah kami.
"Langit?" Langit yang merasa terpanggil hanya diam tak bergeming. Karena Langit hafal betul siapa yang memanggilnya.
"Langit, gue mau minta maaf." Langit menoleh dan menatap Fana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Gue gak maksud buat, " ucapan Fana terhenti saat tangan Langit terangkat seperti memberi kode agar Fana diam.
"Udah?" tanya Langit tegas dan tangannya beralih meraih pinggangku dan menarikku agar lebih dekat.
Aku yang kaget hanya bisa terdiam, sembari mendonggak menatap Langit yang agak tinggi dariku.
"Gue gak ada waktu, gue mau jalan sama pacar gue dan gue gak mau buat dia nunggu." kata Langit dan semakin mempererat pegangannya di pinggangku dan itu jujur membuatku gugup.
Tangan satunya beralih mengusap pucuk kepalaku dengan lembut.
Fana sedikit terkejut mendengar pernyataan Langit, Fana pikir Langit masih belum bisa melupakannya tapi nyatanya tidak.
Nyatanya waktu bisa membuat perasaan berubah. Meski tak secepat yang diinginkan.
"Kalian jadian, selamat yah!" Fana pun akhirnya tersenyum bahagia. Berbeda dengan Langit yang hanya tersenyum miring.
Aku pun hanya diam.
Fana mengulurkan tangannya, "Gue Fana, sahabatnya Langit."
Aku yang ragu, langsung mendonggak lagi menatap Langit dan Langit memberikan kode untukku agar membalas uluran tangan itu.
"Avagella Chartill, panggil Agel aja." singkat ku dan tersenyum.
"Hay Agel, lo cantik pantas aja Langit suka dan lo beruntung bisa sama Langit, dia cowok baik kok."
Mendengar itu aku tak menggubris. Sementara Langit malah mempererat pegangannya di pinggangku. Aku yang risih langsung mendonggak dan bersamaan dengan itu dia juga menatapku.
Lalu dengan cepat Langit mengalihkan pandangannya dari ku.
"Gue duluan, Na." Langit pun merangkulku sambil berjalan cepat dan aku berusaha melepaskan rangkulan itu karena aku merasa gugup.
Ditambah lagi degup jantungku yang sama sekali tak bisa terkontrol rasanya jantung ku mencelos ke bawah dan kupu-kupu berterbangan di perutku.
Pipiku pun memanas dan tak ingin berhenti tersenyum.
"Lo gak usah kepedean," sentaknya dan mendorong tubuhku hingga aku pun kembali jatuh tersungkur.
Kenapa Langit selalu kasar seperti ini. Tidakkah dia sadari jika sikapnya itu membuatku terluka.
"Sakit? Makanya jangan mimpi ketinggian." hatiku rasanya remuk mendengar itu.
"Hubungan kita hanya sebatas status, hanya status..." air mataku pun tumpah saat dengan mudahnya Langit mengatakan itu.
Aku mengangguk pelan. Jika dengan ini aku dan Langit bisa dekat maka tak apa, apapun untuknya. Meski aku harus terluka parah.
"Bangun!" aku terdiam dan tak bergeming.
Aku merasakan sakit di telapak tangan dan di lututku.
"Lo ngerti gak sih? Gue nyuruh lo bangun!" Langit langsung menarik lenganku dengan kasar hingga aku tersentak.
Nafas ku pun tertahan, ingin rasanya aku menangis dan berteriak. Tapi lagi-lagi aku hanya bisa menahannya. Jika aku melakukan itu maka Langit akan meninggalkanku.
"Ikut gue!" aku menggeleng, aku tak bisa ikut dengannya. Setelah pulang sekolah aku akan langsung ke cafe untuk bekerja. Dan aku tidak mau kemana-mana.
Langit langsung emosi melihat penolakan cewek yang ada di hadapannya itu.
"Lo nolak gue?" aku langsung menggeleng, bukan begitu maksudku. Hanya saja aku benar-benar tak bisa ikut dengannya.
"Lo gagu yah? Kalau gue ngomong lo harus ngejawab! Ngerti?"
"Iya,"
"Bagus."
Aku melihat cuaca yang sedang mendung. Aku suka saat cuaca seperti ini dan itu pertanda akan turun hujan.
Hujan adalah salah satu hal favorit ku dan selanjutnya Langit.
Entahlah hujan seolah membawa kenyamanan untukku. Meski membawa dampak buruk bagi tubuhku.
Langit pun menarik tanganku dengan tergesa, menuntunku untuk masuk ke dalam mobil mewahnya itu.Β
"Aku, aku ke sekolah naik motor!" ucapku dengan terbata-bata, namunΒ Langit tetap tak menggubris.
Aku semakin tak bisa diam.
"Motorku," lirih ku saat mobil sudah berjalan meninggalkan area parkir sekolah.
Bersamaan dengan jatuhnya rintik hujan yang awalnya pelan hingga berubah menjadi deras. Di tambah dengan angin yang bertiup agak kencang. Kaca mobil pun berembun hingga aku hanya mampu menatap lekat embun-embun itu.
Aku tidak bisa berpikir jernih. Apa yang akan dikatakan Ibu Lili saat aku tidak datang bekerja hari ini? Meski dia menganggap ku sebagai anaknya sendiri tapi tetap saja aku merasa tidak enak.
"Turun!" hati ku kembali mencelos saat mendengar satu kata yang terdengar datar itu.
Nafas ku tiba-tiba memburu, mataku menatap sekitar dan ini tepat di pinggir jalan.
"Lo budeg? Gue bilang turun yah turun!" teriak Langit.
Aku menoleh menatap Langit dengan tatapan sendu. Bagaimana bisa dia memaksaku ikut dengannya lalu sekarang dia ingin menurunkan aku di tengah jalan seperti ini.
"Tapi di luar hujan,"
Jujur aku ketakutan. Hal favorit itu bisa membawa dampak yang buruk untuk diriku.
"Lo pikir gue buta?"
"Tapi,"
"Turun atau gue seret?" potong Langit dengan cepat.
Dengan cepat aku melepaskan seatbelt dan membuka pintu mobil. Setelah aku melangkah keluar Langit pun langsung memacu mobilnya dengan kecepatan maksimal.
Aku menarik nafas kasar, lalu menunduk merasakan bulir hujan menerpa tubuhku.
πππ