I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Happy Birthday Mom's



Dia adalah sosok wanita, yang kuat dan tangguh. Senyumannya selalu membuat orang-orang tenang dan nyaman. Dia adalah, ibu.


🌈🌈🌈


Terima kasih sudah mengandung ku selama 9 bulan lamanya. Merawat ku hingga aku bisa tumbuh dan hidup melihat dunia.


Meski kini engkau dan ragamu tak ada lagi di sisiku namun kasih sayangmu selalu membelai lembut tubuh ku. Bahkan tawamu masih membekas dalam ingatanku, caramu menjaga ku, caramu membuat ku bahagia dan caramu mengorbankan hidupmu untuk ku.


Tetaplah bahagia disana, meski kita tak bisa bertemu dalam waktu dekat ini tapi kumohon jika dirimu punya waktu. Maka luangkan waktumu untuk sekadar mampir dalam mimpi singkat ku. Untuk sekadar menyapa dan memeluk. Itu sudah cukup. And I Love You More My Angel.


Di hari ulang tahun mu ini aku datang lagi untuk menemuimu, untuk merengkuh pusaramu, untuk meluapkan rasa rinduku untukmu. Di hari ulang tahunmu ini aku kembali datang.


Untuk sekadar membawa satu kue tar dan setangkai bunga mawar kesukaanmu dengan harapan kau suka. Happy Birthday Mom's. - Dari Anakmu, Avagella Chartill.


Mungkin hanya itu yang bisa aku tulis dalam surat itu. Apa kalian tahu, aku selalu bergetar tak sanggup saat aku mengunjungi pusara Mama ku.


Rasanya semua kata yang telah ku rangkai hilang seketika bagaikan debu yang tertiup angin.


Hari ini tepat hari ulang tahun Mama ku, tanggal 11 Februari. Dan itu juga tapat pada hari kepergiannya untuk selama-lamanya. Meninggalkanku berjuang di dunia yang kejam ini.


Meski aku selalu meyakini, jika hanya raganya lah yang pergi tapi hatinya masih selalu bersarang di tubuh ku.


Jika boleh aku meminta, aku hanya ingin dia kembali. Dan berikan aku satu hari saja untuk melewati hari bersama. Agar aku bisa merasakan lagi kasih sayang seorang ibu yang sebenarnya.


Meski ku tahu itu tak akan nyata, itu hanya mimpi tapi aku yakin kelak pasti kami akan bersatu.


Dengan gemetar aku memegang kue tar yang bertuliskan ucapan ulang tahun. Bunga mawar pun sudah aku letakkan di pusara malaikat ku itu.


Tangis ku pun tak bisa terbendung. Dan selalu seperti ini. Bahkan setiap aku berkunjung ke sini hanya tangis yang bisa ku beri. Oleh karena itu aku tak lupa menuliskan sebuah surat untuk mewakili apa yang ingin ku katakan kepada mama ku.


Tangan ku meraih korek api dan menyalakan lilin yang ada pada kue tar itu.


Menyanyikan lagu ulang tahun untuknya, lalu meniup sendiri lilin itu. Memotong kuenya sendiri dan memakannya sendiri dan aku selalu berandai-andai jika sosok mama ku selalu ada mendekap ku.


Aku menarik nafas dan menggeleng. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah rela atas kepergiannya yang selalu membawa luka mendalam untuk ku.


Aku mematung menatap pusara itu dan tak lama aku pun berhambur memeluk pusara itu dengan penuh kerinduan. Seakan-akan sosok mama lah yang aku peluk.


Lama aku menangis disana hingga aku merasa tenggorokan ku tercekat.


Aku memejamkan mata ku pelan dan menunduk, menengadahkan tangan untuk mendoakan agar mama ku selalu baik dan dijaga oleh Tuhan di sana.


Meski berat, aku harus pergi dari sini. Sebelum suruhan Ayah ku datang. Tapi aku sepertinya terlambat, karena beberapa orang yang serba memakai baju hitam tengah berjalan ke arah ku.


Ini akan menjadi masalah jika aku tertangkap oleh orang suruhan ayah ku. Dan aku tak mau kembali ke sana. Aku tidak mau.


Aku membekap mulut ku kuat agar isakan ku tak keluar. Aku melihat satu di antara mereka mengeluarkan telpon genggamnya dan memotret pusara mama ku.


Aku yakin pasti mereka ingin memperlihatkannya kepada Ayah sebagai bukti jika aku sudah berkunjung ke sana.


Mereka sempat menyebar untuk melacak keberadaan ku tapi untungnya aku bisa lolos dari mereka. Dengan sekuat tenaga aku berlari menjauh agar mereka tak melihat ku.


Aku tak peduli dengan tatapan orang-orang yang seperti keheranan melihat ku. Sebisa mungkin aku melangkahkan kaki ku untuk bergerak menjauh.


Aku menyeberang jalan sembari berlari tanpa memperhatikan arah kendaraan yang ternyata padat. Hingga klakson mobil seperti meneriaki nama ku untuk minggir.


Rasa bersalah pun menghampiri, tapi untuk saat ini aku tidak mungkin berhenti dan menghampiri satu persatu para pengemudi itu dan meminta maaf.


Itu terlalu konyol.


"Apa lo udah gila?"


Aku menoleh saat mendengar suara datar yang membuat rasa rindu ku menguap entah kemana.


Setelah seharian lamanya tak bertemu. Akhirnya hari ini aku di pertemukan. Meskipun aku langsung di bentak habisan-habisan, tapi bertemu dengannya membuat ku cukup bahagia.


"Aku gak akan buat kamu susah, gak akan buat kamu malu dan gak akan ngebantah perintah kamu."


Aku mengatakannya dengan cepat, untung saja aku tak lupa. Jika aku lupa maka keselamatanku akan terancam.


Langit menatap ku dengan datar. Dan itu membuat ku menyengir karena gugup.


"Lo gila." ketusnya sambil memajukan wajahnya ke arah ku.


"Lo kenapa lari-larian di tengah jalan gitu, entar kalau lo ketabrak pasti lo bakal nyusahin orang-orang!"


Sebegitu tak berartinya kah diri ku untuk mu, hingga kamu lebih memikirkan orang lain dibanding aku.


Jujur hati ku teriris mendengar itu, tapi aku hanya bisa menampilkan senyuman yang bisa membuatnya berpikir aku baik-baik saja.


"Langit, cepetan! Nanti filmnya keburu main." aku menengok ke arah mobil Langit dan melihat Fana yang berada di dalamnya.


Aku tersenyum kecil, menguatkan hati ku sendiri. Lagipula aku bukan siapa-siapa Langit, mungkin kami memiliki status tapi itu sama sekali tak berarti untuk Langit.


🌈🌈🌈