I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Hari Tanpa Dia



Aku menyudahi sebuah hubungan, bukan berarti aku sudah tak punya rasa. Aku hanya ingin kamu sadar, jika tidak ada yang setulus aku dalam hal mencintai dan tidak ada yang bisa sesabar aku dalam hal disakiti.


🌈🌈🌈


Setelah kejadian itu aku sudah tak lagi ingin bertemu dengan Langit. Rasanya jika aku bertemu dengannya maka itu sama saja jika membuka luka lama yang keadaannya masih sangat perih.


Hari ini aku hanya menghabiskan waktu di kos-an ku sembari termenung. Mata ku sudah sembab akibat menangis. Untuk bekerja aku pun sudah beberapa hari meminta izin.


Setelah kupikir-pikir, mungkin hanya aku yang menyiksa diri seperti ini. Tapi Langit tidak akan kepikiran hingga seperti ini.


Aku pun sudah beberapa hari tak masuk sekolah. Terakhir setelah aku mewakili sekolah ku di perlombaan itu, setelah itu aku tak pernah lagi datang lalu aku memberi kabar dengan mengirimkan surat yang mengatakan jika aku sakit.


Aku tidak berbohong, karena aku memang sakit. Lebih tepatnya sakit hati.


Entahlah aku tidak tahu hasil perlombaan itu. Jika aku menang maka aku bahagia, tapi jika tidak maka tak apa. Yang pasti aku sudah menampilkan yang terbaik.


Jujur aku merasa bosan. Angga sedang ke sekolah dan otomatis aku sendiri di rumah.


Aku ingin keluar rumah tapi cuaca tak mengizinkan, diluar tengah hujan lebat. Dan kalian tahu, hujan bisa membuat ku merasa lemah.


Aku pun memilih terdiam sembari menatap kosong ke luar jendela. Tangan ku menimang-nimang undangan ulang tahun Fana. Rasanya hati ku menolak untuk datang. Karena pasti aku akan bertemu dengan Langit.


Tapi jika aku tak datang, maka Fana akan semakin merasa menang. Dan Langit akan berpikir jika aku belum bisa move on dengannya. Walaupun memang nyatanya aku tak bisa move on tapi aku bisa buktikan jika hari ku tanpa dia bisa berjalan biasa-biasa saja. Dan aku tetap bahagia.


Meski agak ragu, tapi aku akan datang. Apapun nanti yang akan terjadi di sana tetap saja aku harus datang.


"Aku akan buktikan jika aku bisa tanpa Langit," aku tersenyum singkat dan kembali menenggelamkan wajah ku ditempat tidur.


Sepertinya aku harus tidur siang, agar nanti malam aku tidak mengantuk saat berada di acara itu.


Masalah pakaian, aku tak mau ambil pusing. Dress berukuran bervariasi tersedia di lemari ku. Dulu, mama ku selalu memberikan dress karena menurutnya aku sangat cocok jika memakai dress.


Dulu, akupun suka memakai dress itu. Tapi setelah kepergian mama ku, aku sama sekali tak mau menyentuh itu semua.


Karena aku akan kembali teringat pada detik-detik nyawanya melayang. Mengingat itu, aku pun bangkit dan membuka lemari. Di sana ada koper yang masih baru.


Sudah bertahun-tahun koper ini selalu tertutup rapat, tapi kali ini aku ingin membukanya kembali. Meski aku tahu resikonya akan menyakiti diri ku. Tapi aku seperti di ajak untuk bernostalgia mengingat detik-detik kepergian mama ku.


Dengan masih bergetar, aku membuka koper itu perlahan. Saat berhasil terbuka sempurna mata ku berair melihat dress putih selutut yang indah namun berlumuran darah yang sudah mengering bahkan sudah menyatu dengan dress putih itu.


Warna dress itu pun sudah tidak sepenuhnya putih. Darah yang ada di sana sudah berganti warna bukan merah lagi tapi agak gelap. Khas darah yang sudah mengering selama bertahun-tahun.


Tangan ku menyentuh dress itu. Dress yang indah, namun harus ternodai oleh darah.


Alasan ku menyimpan dress ini adalah karena dress ini dress kesukaan mama ku. Dress ini aku yang membelikannya dulu. Menggunakan uang tabungan ku sendiri tentunya.


Namun saat mama ku menggunakan dress ini, mala petaka pun datang memporak-porandakan hidup ku.


"Mama," lirih ku, saat bayangan itu menguasai pikiran ku.


Darah, air mata, teriakan, permohonan dan hujan menjadi saksi saat aku kehilangan mama ku waktu itu.


Apa yang bisa membuat ku ikhlas, harus ku akui hingga sekarang kepergiannya sama sekali tak bisa ku terima.


Semakin lama aku semakin tenggelam pada luka lama.


Saat merasa lelah, aku pun menaruh kembali dress itu di dalam koper, menguncinya dan meletakannya ke tempat semula.


Mata ku meneliti dress yang berjejer di lemari pakaianku.


Dress merah maroon itu membuat ku takjub dengan desain sederhana dan ukuran yang sangat cocok di tubuh ku.


Selanjutnya aku memilih sepatu yang haknya standar. Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Yah sedang-sedang saja lah.


Setelah itu aku pun memilih tidur saja, karena aku benar-benar lelah. Hitung-hitung mengisi energi sebelum bertemu mantan pacar.


🌈🌈🌈