I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Bisu



Saat bersama mu aku tahu akan satu hal. Satu hal itu membuat ku mengerti jika untuk memiliki maka harus rela disakiti.


🌈🌈🌈


Aku memperhatikan nomor urut yang aku dapatkan, nomor 7 rupanya tak terlalu buruk. Dengan gelisah aku pun terduduk di sebuah kursi yang disiapkan untuk peserta.


Ini lomba yang diadakan oleh sekolah. Setiap kelas minimal harus mempunyai 1 perwakilan untuk mewakili lomba ini.


Barang siapa perwakilan kelas yang menjadi juara pertama dalam lomba tingkat kelas ini maka dia akan mewakili sekolah dalam festival musik yang diadakan setiap tahun dan ini adalah program baru di sekolah ku.


Dengan harap-harap cemas aku pun menunggu. Mataku menatap sekeliling dan semuanya penuh dengan siswa-siswi. Lomba kali ini di adakan di tengah lapangan upacara. Dengan panggung mini yang ada di tengahnya.


Lapangan upacara pun seolah di sulap menjadi tempat konser mini.


"Panggilan pertama untuk nomor urut enam." suara nyaring dari MC mulai mendominasi. Seakan panggilan itu membuat semua orang mencari-cari.


"Panggilan kedua untuk nomor urut enam." mendengar itu semua orang semakin penasaran. Siapakah orang dibalikΒ  nomor urut enam itu? Dan kemana dia? Apa dia tuli dan tidak mendengar nomor urutnya di sebutkan?


"Panggilan terakhir untuk nomor urut enam, jika dalam satu menit peserta nomor urut enam tidak datang maka terpaksa akan di diskualifikasi."


Beberapa detik pun berlalu dan si nomor enam itu belum datang.


Hingga suara gaduh dari sudut lapangan mulai terdengar.


"Kesempatan terakhir, untuk peserta nomor enam dengan nama peserta Langit Elmelgantara harap ke sumber suara. Sekarang!"


Mataku membulat sempurna saat nama Langit di sebut. Dia mewakili kelasnya? Aku menyipitkan mataku ragu.


Langit sudah naik ke panggung, dia sekarang tengah berdiri di depan Mic dengan wajah malas dan begitu datar. Di matanya tersimpan emosi yang menumpuk tapi masih berusaha dia padamkan.


Semua terdiam melihat Langit, sementara Langit ikut terdiam. Bukan bernyanyi, Langit hanya diam menatap kosong ke arah depan. Dan itu membuat semua yang ada di sana bungkam karena bingung.


Bahkan untuk menyoraki Langit saja semua orang tak berani. Wajah Langit mengeras, menandakan jika ia tengah marah besar.


Kurang ajar, maki Langit dalam hati, kini Langit hanya diam di hadapan beratus pasang mata yang menatapnya.


Ini yang terbaik, bukankah sudah Langit katakan jika Langit tak suka akan pemaksaan. Jadi apa peduli Langit?


Merasa bosan, Langit pun dengan santainya kembali turun dari panggung dan semua orang yang ada di sana langsung menganga. Senekat itu kah Langit?


Langit benci situasi ini.


Dengan masih terkejut, MC pun melanjutkan acara dan mempersilahkan aku untuk naik menampilkan apa yang aku akan tampilkan. Dengan sedikit gugup aku pun naik ke atas panggung.


Itu membuat semua orang beralih menatap ku, sementara aku malah mengedarkan pandanganku melihat Langit yang berniat melangkah pergi.


Jika saja aku punya kekuatan, aku akan membuat Langit berhenti di tempat.


Saat aku mulai menyanyi, semua orang nampak terdiam seolah mendengarkan apa yang aku nyanyikan.


Dan sulit di percaya, Langit menoleh ke arahku dan melemparkan tatapan tajam yang seolah-olah ingin membunuh. Aku hampir kehilangan konsentrasi, lupa lirik dan pingsan di tempat gara-gara kelakuannya itu.


Itu tak berlangsung lama, karena Langit langsung melangkah pergi dan seolah tak peduli padaku.


Setelah selesai, suara gemuruh tepuk tangan pun memekik telingaku. Seraya menunduk aku pun berlalu turun.


Dengan sedikit berlari aku menerobos segerombolan orang, seperti sebelumnya tujuanku adalah, atap sekolah. Sebab aku tahu Langit selalu akan ada di sana.


Saat melewati anak tangga mulutku pun tak henti komat-kamit. Sepertinya lebih baik tangga ini di ganti dengan lift agar tidak terlalu menyusahkan. Nah, sekarang perlahan aku mulai tahu kenapa Langit menjadikan atap itu sebagai basecamp. Selain karena lokasi itu sulit dilacak, lokasi itu juga sangat melelahkan apabila ditempuh dengan menggunakan kedua kaki saja, lokasi itupun aman menurutku dan sangat sepi senyap. Hanya ada suara tiupan angin yang berbisik-bisik pelan.


Saat berhasil melewati tangga terakhir, aku pun melihat Langit yang dengan santainya berdiri atap itu.


Seolah menyadari keberadaan ku, Langit pun menoleh menatapku.


Niat Langit untuk kembali datang adalah menenangkan diri karena kejadian tadi. Emosi Langit benar-benar membuncah.


Mata Langit yang tajam, setajam silet itu menatap cewek yang ada di hadapannya dengan kesal. Apa dia tidak kapok setelah kejadian beberapa hari lalu.


Aku yang mendapat tatapan tajam itu hanya mampu menunduk.


"Lo bener gak kapok yah?" perlahan langkah Langit pun semakin mendekat dan aku menjadi was-was.


"Kapok kenapa?" tanyaku dengan pelan.


"Ikut gue!" tanpa menunggu aba-aba, Langit pun menyeretku turun dengan tergesah-gesah. Saat aku menuruni anak tangga langkahku pun sangat susah.


Pergelangan tangan yang di cengkram Langit pun terasa sangat sakit di tambah lagi luka di lututku itu.


"Pelan-pelan, tanganku sakit!" Langit tak menggubris, dengan langkah tak peduli kurasa dia semakin mempererat cengkraman tangannya.


Langit menyeretku ke suatu tempat, saat menuruni anak tangga kakiku sudah mulai tak sanggup. Karena kecepatan langkah Langit yang sangat berlebihan.


Aku melihat tali sepatuku terlepas langsung ingin menunduk untuk mengingatnya tapi tarikan dari Langit membuatku mengurungkan niat itu.


Hingga aku menginjak tali sepatuku, rasanya aku melayang dan tepat menempel pada pundak tegap Langit.


Aku meringis dan menghentikan langkahku.


"Lo bisa jalan gak sih?" Langit berbalik ke arahku dan menatap ku tajam.


"Tadi tali sepatu aku lepas," mata ku pun mengarah ke sepatuku.


Aku berharap Langit peka dan menunduk untuk mengikatkan tali sepatuku.


"Terus ngapain lo malah liatin tali sepatu lo, cepet iket!" aku tersentak dan buru-buru menunduk.


Kenyataan memang sangat menyakitkan.


🌈🌈🌈