
Jika harus kamu tahu, kamu bagaikan magnet dan aku bagaikan besi yang selalu tertarik paksa untuk mendekat. Selalu sama, hanya aku yang tertarik tapi kamu tidak.
🌈🌈🌈
Aku terbangun dengan perasaan yang sudah baik. Aku melirik jam dindingku yang kini menunjukkan pukul setengah tujuh lewat. Dengan kecepatan yang luar biasa aku pun berlari memasuki kamar mandi dan mandi singkat.
Entahlah, aku mengeluarkan jurusku untuk mandi secepat kilat.
Hanya sekitar butuh sepuluh menitan lebih aku sudah rapi dengan seragam dan atribut sekolah ku. Dengan langkah terburu-buru aku mulai berlari ke luar kosan ku.
Aku yakin jika Angga sudah berangkat. Pasti Angga merasa tak enak membangunkan ku. Aku mengerti itu.
Dan sepertinya keberuntungan berpihak pada ku. Sebuah angkutan umum lewat dan langsung saja aku naik.
Dengan cemas-cemas aku meremas rok ku. Pastilah aku yakin akan terlambat lagi.
Dan benar saja, saat aku ada di hadapan pagar sekolah ku. Keadaan sudah mulai sepi. Tapi tetap saja pagar belum tertutup rapat. Dengan cepat aku berlari.
Dan aku kembali bertemu dengan guru BP, salah satu diantara mereka menggeleng-geleng melihatku. Tanpa di suruh aku pun berjalan menuju lapangan upacara.
"Hey, kita ketemu lagi." sapa ku dengan senyuman kecut ke arah tiang bendera.
Aku pagi ini memang berangkat ke sekolah dengan menggunakan angkutan umum. Karena motor ku masih ada di sekolah. Ingatkan saat Langit memaksa ku ikut bersamanya dan meninggalkan motorku di sekolah.
Seperti biasa, aku akan berdiri di hadapan tiang bendera ini sampai jam pelajaran pertama habis.
Bertambah lagi poin pelanggaranku. Dengan tekad, aku ingin datang lebih cepat besok agar tidak terlambat lagi.
Perutku juga sudah keroncongan karena tak sarapan tadi. Peluh pun membanjiri wajahku.
Tapi tak apa, kata orang sinar matahari pagi itu sehat.
Saat pertanda jam pelajaran berakhir, aku kembali bersorak. Dengan langkah tergopoh aku menarik tas punggungku dan menyeretnya di sepanjang trotoar yang sepi.
Saat aku masuk ke dalam kelas semua menatap ku dengan tatapan biasa saja.
"Telat lagi?" aku hanya mengangguk pelan menanggapi pertanyaan teman sekelas ku.
Ada yah orang seperti itu. Bertanya tapi nyatanya jawabannya ada di depan jidat mereka.
Tapi aku bahagia, karena terlihat jika mereka itu peduli kepadaku.
Aku pun terduduk sambil menyeka peluhku. Tak lama jam pelajaran selanjutnya pun di mulai saat guru pelajaran Sejarah ku masuk.
Jujur aku suka dengan pembawaan materi yang beliau jalankan. Nama guru ku itu Ibu Tima, dia guru yang selalu mau membagi pengalaman hidupnya, selalu memberi motivasi-motivasi yang penuh manfaat.
Beliau juga termasuk guru yang agak cerewet. Apa yang dia lihat maka akan dia komentari. Dan itu membuat ku kadang terkekeh saat ada satu dua orang teman-teman ku yang kadang mencibir.
Tapi kali ini suasana berubah menjadi menegangkan saat Ibu Tima mengatakan akan mengadakan ujin harian. Teman-teman sekelas ku pun mendesah kecewa.
Ibu Tima memberi kami pilihan, ingin diberi soal dari beliau atau membuat soal sendiri. Saat Ibu Tima mengadakan Voting, kebanyakan teman kelas ku memilih untuk membuat soal sendiri. Dengan alasan itu lebih mudah.
"Soal yang dibuat berapa nomor, bu?" tanya salah satu teman ku.
"Lima nomor saja, tapi buat soal yang berbobot yah!" kata Ibu Tima dengan suara lembut dan pelan yang hampir tak terdengar.
Kami semua pun mengangguk mengerti. Menurut ku ini tak terlalu sulit sebab semua sudah di bahas oleh Ibu Tima dan semua masih tersimpan di otak ku ini.
Lagi, lagi aku bersyukur karena aku tidak ketinggalan jam pelajaran kali ini. Karena hari ini nyatanya ada ulangan harian mendadak.
Waktu yang diberikan lumayan lama. Tapi bagi yang sudah selesai boleh di kumpul dan keluar untuk istirahat lebih awal. Aku pun bangkit dan mengumpulkan hasil kerja ku dan pamit keluar.
Aku berniat ke kantin, untuk mengisi perut ku yang keroncongan. Hari ini aku pun tidak membawa bekal karena kesiangan.
Tiba-tiba aku kepikiran Angga, dia juga tidak membawa bekal. Dan tidak meminta uang jajan kepada ku. Tapi, meski begitu tak ada yang perlu dikhawatirkan karena Angga tipe orang yang suka menabung. Menyisihkan uang jajannya.
Tapi saat melewati koridor yang masih sepi samar-samar aku mendengar isak tangis seseorang. Seraya memohon meminta maaf.
Dengan penasaran, aku langsung mendekat ke suara itu dan ternyata pilihan ku salah.
Di depan mata ku aku melihat Langit yang tengah di peluk oleh seorang di sana. Aku tersenyum samar. Meski kalian tahu, jika aku sakit melihat itu.
"Gue minta maaf," suara Fana terdengar bergetar. Dan itu membuat Langit tak berdaya.
"Lupain, gue udah maafin." singkat Langit dan membalas pelukan Fana.
Sementara aku yang melihat itu hanya mampu menahan tangis. Rasa laparku pun sudah lenyap entah kemana. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi untuk menenangkan perasaan dan hatiku.
Saat berada di dalam kamar mandi, aku hanya bisa menangis hingga hidung ku tersumbat dan mata ku sembab.
Kenapa harus sesakit ini? Rasanya hatiku remuk seketika.
Fana dan Langit. Mereka bersahabat. Tapi aku tahu jika Langit menaruh perasaan lebih kepada Fana. Meski ku tahu jika Fana sudah punya pacar. Tapi Langit tak bisa berbohong jika Langit masih menaruh perasaan kepada Fana.
Mereka cocok. Tapi aku seperti tak terima. Aku sakit saat melihat mereka berdekatan.
Tapi memang aku siapa Langit? Kami hanya terjerat oleh suatu hubungan yang hanya berlandaskan status saja. Ini bukan kenyataan, ini layaknya rekayasa belaka. Dan bodohnya aku menerima saja. Bahkan di saat aku disakiti.
🌈🌈🌈