
Aku cemburu pada dia yang selalu kamu pedulikan, yang selalu kamu prioritaskan. Sementara aku, akulah yang selalu kamu abaikan.
🌈🌈🌈
"Jadi gimana? Mau ikut?"
"Gue ada urusan, lagipula lo tahu gue gak suka musik."
"Tapi,"
"Gue bilang nggak yah nggak!"
Langit pun pergi meninggalkan ku, bentakan lagi yang akhirnya aku dapat. Padahal hari ini aku sangat bahagia, karena dari sekian banyak peserta akulah yang terpilih untuk mewakili sekolah ku.
Niat ku ingin mengajak Langit untuk ikut, tapi sayang dia sama sekali tak tertarik untuk datang.
"Kasihan, di tinggal Langit yah?" aku menoleh sebentar ke asal suara dan menatap orang itu dengan tenang.
"Lagipula Langit itu udah janji sama gue, buat temenin gue milih baju untuk gue pake di hari ulang tahun gue."
Mendengar itu aku hanya mampu berdiam diri.
"Dan lihat, Langit lebih milih gue daripada elo, yang katanya pacarnya."
Aku mencoba sabar. Meski rasanya aku sakit mendengar itu. Lagipula semua yang dikatakan Fana itu benar. Jika Langit di suruh memilih antara aku dan Fana maka jawaban Langit pasti memilih Fana.
"Asal lo tau, Agel. Jujur gue nyesel udah nolak Langit dulu dan sekarang gue bakal rebut dia dari elo..."
Untuk apa merebut, bukankah sudah jelas, jika Langit masih berharap lebih dengan Fana.
"Lo tunggu aja, gak akan lama lagi Langit pasti minta putus sama elo."
Tanpa dia memberitahu ku aku pun sudah tahu. Jika hubungan ku dan Langit tak akan bertahan lama.
Tapi tak apa, jika dengan melepaskan Langit itu bisa membuat Langit bahagia maka tak apa.
"Tapi saran gue, mending elo nyerah aja deh. Langit jelas-jelas bakal milih gue." Fana tertawa mengejek di hadapan ku.
Byur...
"Upss! Gue gak sengaja loh!"
Aku menunduk melihat seragam ku yang sudah basah dan lengket gara-gara jus jeruk yang di tumpahkan Fana di seragam ku.
Orang yang melihat adegan ku dengan Fana hanya mencibir, tapi tak satu pun yang membantu ku.
Aku terisak pelan. Setelah Fana pergi dari hadapan ku, aku pun berlari ke arah kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya di dalam sana.
Setelah merasa lebih baikan, aku pun melangkah keluar.
Aku tersentak saat sebuah tangan menarik ku dan menghempaskanku ke lantai. Aku meringis kesakitan dan aku langsung mendonggak.
Aku melihat Langit menatap ku dengan berang. Tapi aku berpikir apa yang sudah aku lakukan, kenapa dia bisa semarah itu?
Bahkan untuk mengucapkan mantera penyelamat pun aku sudah tak bisa. Rasanya aku bisu dan kehabiskan kata-kata.
Aku mengerutkan alis ku bingung, memangnya tidak terbalik. Bukannya Fana yang telah melakukan hal buruk kepada ku. Tidakkah dia melihat, seragam ku yang basah gara-gara tumpahan jus.
"Jawab!" teriaknya semakin berang.
Aku memilih menunduk takut. Dari caranya ini, aku sudah semakin yakin jika dia belum bisa melupakan Fana. Dan kalian harus tahu, betapa sakitnya aku saat ini.
"A-ku gak ngelakuin a-pa-apa," kata ku dengan menggigil. Tubuh ku bergetar hebat.
Tangan Langit pun beralih memegang kedua bahu ku kencang. Dan aku bisa merasakan sakit yang amat sakit saat dia menekannya keras.
Air mata ku pun sudah berjatuhan, aku terisak pilu. Sembari menunduk dalam.
"Lo jangan bohong, sialan!" aku tersentak kaget saat Langit menghempaskan tubuh ku kembali ke lantai.
"Fana bilang lo nyiram jus ke seragamnya. Iya?"
Aku menggeleng kuat. Fana berbohong, itu sebuah kebohongan dan yang sebenarnya adalah Fana yang menyiram jus ke seragam ku.
"Jadi kamu percaya sama Fana?" aku mendonggak dan menatapnya dengan tatapan pilu.
Di matanya tampak emosi yang menggebu. Dan tatapannya kepada ku berisi keraguan yang semakin membuat ku hancur.
"Emang lo siapa gue?" emosi Langit melambung ke udara. "Hubungan kita itu..."
"Hanya status, iya aku inget! Kamu gak usah ngulang-ngulang terus aku ngerti dan aku paham. Sampai kapan pun, ini..." aku bangkit dan menunjuk dadanya dengan emosi.
"Ini, di dalam sini aku gak akan punya ruang! Karena semuanya sudah terisi sama Fana, Fana dan Fana." kata ku dengan terengah. Aku meninju udara yang semu sambil menghapus air mata ku
"Dan aku bodoh, karena aku berpikir kalau aku bertahan maka aku akan nempatin satu titik di dalam hati kamu, tapi itu gak akan mungkin!"
"Bahkan untuk percaya sama aku aja kamu gak bisa, di mata kamu aku adalah orang jahat yang udah ngelakuin kebohongan yang paling menjijikan di dunia ini."
"Sekarang, udah! Aku capek dan denger ini kamu gak akan peduli." Isakan ku semakin menggema di ruang sepi ini. Aku merasa jika hati ku sudah tak berbentuk lagi. Semuanya hancur.
"Bahkan karena kecintaan kamu sama Fana, kamu gak bisa bedain mana yang benar dan mana yang salah."
"Sekarang dengar baik-baik, aku pengen kita putus. Akhiri semua hubungan bodoh ini, supaya kamu bahagia, supaya kamu bisa bareng terus sama Fana." aku mundur beberapa langkah membuat jarak dengan Langit yang terdiam.
"Kita mulai dari awal, awal di mana aku belum punya rasa ke kamu dan awal di mana kamu gak kenal aku. Jika memang kamu mau ngasih satu nama untuk hubungan kita di hari esok mungkin itu gak usah, rasa sakit ini udah lebih dari yang aku butuhin."
Ini yang terbaik, ini jalan yang harus ku jalani. Dia bukan untuk ku. Dan aku juga bukan untuknya. Melepaskan adalah jalan terbaik.
"Good bye" setelah mengatakan itu aku pun berlari kencang. Membiarkan kaki ku melangkah kemana pun yang dia suka.
Aku yakin Langit bahagia setelah ini, dan tak ada yang lebih penting selain melihat dia bahagia. Meski tak besama ku.
Hubungan singkat, berakhir tanpa kenangan yang berarti hanya luka yang membebani.
Tapi luka adalah satu tanda jika kamu mencintai orang yang salah.
Itu dia.
🌈🌈🌈