I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Detik Kebenaran



Keadaanku sudah agak membaik. Andre dan Angga pun selalu datang ke kamar ku meski dengan cara yang sembunyi-sembunyi.


Tapi kali ini, nampak sepi. Andre sedang pergi bekerja dan Angga pun sedang ke sekolah. Sementara aku hanya duduk di tepi kamar sembari terdiam seperti orang yang tidak waras.


Pintu terbuka membuat ku kaget dan langsung berteriak histeris. Aku takut jika itu ibu tiri ku, dan jika itu dia maka dia akan menyiksa ku lagi. Dan aku benar-benar tidak kuat untuk itu.


"Non Agel..."


"Bibi Arum" kata ku dengan pelan. Sementara bibi Arum langsung tersenyum ke arah ku.


"Non Agel gak apa-apa kan?" aku hanya mengangguk samar.


Agel beruntung karena yang datang adalah pembantu yang ada di rumahnya. Bibi Arum, namanya. Beliau sudah bekerja dari tempo dulu. Beliau juga sangat dekat dengan mendiam mama.


"Sebenarnya kedatangan bibi ke sini untuk..." ucapan Bibi Arum menggantung saat tiba-tiba pintu kembali terbuka.


Bibi Arum terlihat pucat. Begitupun dengan aku. Karena yang datang adalah ibu tiri ku. Tanpa melanjutkan ucapannya, bibi Arum pun pamit dengan alasan ingin ke dapur.


Kini hanya aku dan ibu tiri ku di dalam kamar ini.


"Ayahmu ingin bicara."


Kemudian ibu tiri ku bergegas keluar meninggalkanku. Aku pun bernafas lega. Setidaknya aku tidak kembali di lukai. Aku berdiri dan memberbaiki penampilanku yang nampak acak-acakan. Tangan ku meraih rambut ku yang panjangnya hanya sampai pertengahan punggung ku. Padahal dulu rambut ku menjuntai indah.


Kemudian tanganku dengan telaten menguncir satu rambut ku dengan rapih. Setelah selesai aku bercermin.


Pipi ku nampak semakin tirus, guratan rasa lelah jelas tergambar di wajahku.


Setelah keluar dari kamar, aku berjalan ke ruangan ayah. Saat berada di dalam ayah menyuruh ku duduk. Dan aku langsung duduk. Entah apa yang akan dia katakan pada ku. Tapi ini terlihat penting.


Penting untuk dirinya, mungkin.


"Kamu tahu kan jika ayah memiliki beberapa club ternama di beberapa tempat!"


Aku pun mengangguk. Aku tahu jika ayah ku adalah pemilik club ternama di beberapa tempat. Club ternama yang selalu terkenal di mana pun lokasi club itu.


"Aku tidak mau, Ayah." kata ku dengan penuh penekanan. Maksudnya aku di suruh menjadi ***** di tempat haram itu. Aku sungguh tidak mau.


"Kamu ini tidak tahu diri yah, apa susahnya bekerja di sana."


"Aku bilang aku tidak mau!"


Apa ada ayah yang seperti dia? Apa ada ayah yang menginginkan kehancuran anaknya. Bukankah sebagian besar ayah di dunia ini malah melindungi anaknya mati-matian, bukan malah sebaliknya.


"Ayah tidak mau peduli. Besok malam, kamu akan memulai pekerjaan kamu."


"Kumohon ayah, jangan!" aku bersujud di depan kakinya sembari menangis tersedu.


"Kamu pikir ayah akan kasihan, cihh..."


Aku semakin merasa tak kuasa menahan tangis. Saat berada di dalam kamar tak ada yang kulakukan selain menangis.


Haruskah kisah ku berakhir setragis ini? Mengapa sosok ayah yang ku miliki berbeda dengan orang lain. Aku ingin ayah yang melindungi bukan malah sebaliknya.


Hari itu berlalu dengan tangisan. Pikiran ku benar-benar bercabang. Tak ada yang bisa ku lakukan sekarang. Aku ingin kabur dari sini, tapi Angga akan mendapatkan sanksi atas apa yang kulakukan.


Kepalaku rasanya ingin meledak saat memikirkan itu. Saking lelahnya aku pun tertidur dalam keadaan masih menangis.


Saat aku terbangun suasana telah berubah menjadi tengah malam, rasanya tenggorokan ku kering. Hingga aku pun bangkit meraih segelas air putih dan meminumnya.


Aku kembali terdiam dan merenung. Aku tidak ingin hari itu terjadi. Tidak akan mau membiarkan diri ku hancur. Aku tidak mau.


Dengan perasaan yang kalut, aku pun bangun kembali dan bergegas untuk mengambil air wudhu. Membiarkan perasaan ku tenang dengan bercerita kepada sang pencipta.


Tak lupa aku meminta pertolongan agar semua tak benar terjadi. Aku tahu semua sudah memiliki garis tepi. Dan ini semua pasti ada hikmahnya.


🌈🌈🌈