I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Terluka Lagi



Atas rasa ini aku bertahan dan atas keinginan tanpa hati mu aku kamu lukai, lagi dan lagi.


🌈🌈🌈


Meski masih terkejut akan perlakuan Langit, aku pun mencoba tenang. Membiarkan Langit tetap pada posisinya sekarang. Aku ingin melarang tapi aku yakin Langit akan marah.


Hingga keberanian pun muncul di dalam diri ku. Tangan ku pun terulur memegang keningnya yang bukan hanya hangat tapi sangat panas.


Aku terlonjat kaget dan hendak berdiri mengambil air kompresan. "Lo bisa diam gak sih?" meski suaranya tenggelam di perut ku tapi itu masih terdengar sangat tajam dan menusuk.


"Tapi, badan kamu panas banget!"


"Terus masalah lo apa?"


"Aku mau ambil air kompresan."


"Nggak usah!" kata Langit penuh penekanan dan semakin memeluk pinggangku. Menenggelamkan kepalanya lebih dalam di perut ku.


"Tapi, kalau gitu kamu harus perbaikin posisi tidur kamu. Nanti kamu gak bisa nafas!"


"Lo bisa diam kan? Atau mau gue perban dulu mulut lo itu?!"


Aku menarik nafas kasar. Padahal niat ku hanya ingin peduli. Tapi kenapa dia sama sekali tak bisa menghargai ku?


Hening pun mendominasi di kamar Langit. Tangan ku pun terulur mengelus rambut pirang Langit. Entahlah aku tak tahu dia tidur atau tidak. Tapi melihat dia tak bereaksi, ku rasa dia tertidur.


Padahal Langit belum tertidur. Rasa sakit di kepalanya memang membuatnya mengantuk tapi entahlah dia belum bisa tertidur. Semakin dia mempererat pelukannya di tubuh Agel maka wangi khas Agel pun menyeruak di hidung Langit membuatnya benar-benar terbuai dan ingin tertidur. Di tambah lagi elusan lembut di rambutnya itu benar-benar membuat Langit terbawa ke alam mimpi.


Sementara aku masih terjaga. Hingga benar-benar aku tidak bisa lagi menahan. Rasa kantuk ku pun membuat ku ikut tertidur.


"Fana..."


Aku mengerjapkan mata ku dengan pelan saat mendengar Langit mengeluarkan suara.


Saat aku benar sudah tersadar aku pun terdiam sembari mendengarkan apa yang akan Langit ucapkan.


"Fana,"


Aku mengernyitkan alis ku bingung. Aku merasa jika telinga ku bermasalah. Mana mungkin Langit memanggil nama Fana, sedangkan aku ada di sini. Lalu dengan ketidakpercayaan aku pun kembali memperhatikan apa yang akan Langit ucapkan lagi.


"Fana,"


Benar, aku tidak salah dengar. Langit menyebut nama Fana.


Aku merasa hati ku terluka parah. Rasanya sesak. Di saat engkau ada di sampingnya dan dia malah menginginkan orang lain.


Tak terasa air mata ku pun mengalir di pipi ku. Aku menahan isakan tangis ku dengan menggigit bibir ku kencang.


Rasanya sangat sakit. Aku benar-benar merasa terluka.


Jika ternyata Langit ingin Fana yang ada di dekatnya lalu mengapa dia malah menyeret ku untuk berada di sini? Apa dia hanya ingin membuat ku terluka.


Aku pun membekap kedua tangan ku saat isakan ku mulai lolos dari bibir ku.


Aku terdiam dan menangis dalam diam. Sampai kapan aku harus seperti ini. Tak bisa kah Langit mengerti jika aku mencintainya dan aku terluka saat dia malah mencintai orang lain.


Aku tak bisa begini terus. Tapi kenapa aku tak bisa berkutik. Aku ingin pergi meninggalkan rasa sakit ini. Tapi kenapa aku masih mencoba bertahan. Padahal jelas-jelas dia tak menginginkanku. Terlihat saat dia memperlakukanku dengan kasar. Terkadang juga menghinaku.


"Sebenarnya kamu itu hanya mainin aku aja kan?"


Tanya ku pada Langit yang masih tertidur. Aku mengelus rambutnya lembut.


"Aku emang punya raga kamu, tapi hati kamu? Ternyata untuk dia," aku tertawa hambar, inilah cara ku.


Berpura-pura bahagia, agar aku tak terlihat begitu lemah. Walau nyatanya aku sangat lemah.


"Aku capek!" lirih ku dan lagi air mata ku pun mengalir deras.


"Fana,"


Mendengar itu aku pun memejamkan mataku pelan. Rasanya hati ku teremas kuat hingga robek. Hancur dan tak berbentuk lagi.


"Kamu butuh dia, bukan aku." meski susah, senyum ku pun masih terukir. Jika kalian tahu, aku berusaha keras untuk menciptakan senyum kebohongan itu.


Aku pun melepaskan tangan Langit dari perut ku dan menjauhkan wajahnya. Membawanya ke tempat yang lebih nyaman. Dan memperbaiki selimutnya.


Tangan ku pun mengelus dahinya yang sedikit berkerut. Mungkin dia merasa sakit. Karena suhu tubuhnya masih panas.


Aku menarik nafas pelan dan berlalu keluar mengambil air kompresan dan saat kembali aku pun mengompres Langit dengan telaten.


Lalu melirik jam yang ada di kamar Langit, ini sudah cukup pagi menurut ku.


Aku berlalu ke dapur dan memasakkan sup khusus untuk Langit. Berharap dia akan suka.


"Agel, udah bangun?" tanya Bunda Langit dan berjalan ke arah ku.


Ada rasa tak enak saat aku melihat Bunda Langit.


"Maaf tante, aku lancang masuk dapur tante. Tadi, aku masakin Langit sup."


"Anggap rumah sendiri aja yah!"


Aku tersenyum kecil, " Tante punya nomor telpon Fana?"


Bunda Langit pun mengangguk.


"Boleh Agel minta?"


Bunda Langit pun memberikan ku sederet angka yang ku mau.


"Agel pulang yah tante, tapi Agel minta tolong kasih sup ini ke Langit pas dia bangun nanti."


Bunda menatap ku aneh, "Kenapa bukan kamu aja?"


"Agel, harus pulang sekarang Tante."


Bunda Langit pun tersenyum, aku langsung pamit dan pergi dari rumah Langit. Dengan sisa tangis yang masih tertahan aku pun menangis selama di perjalan pulang.


Bahkan tukang ojek online yang ku pesan sempat khawatir melihat ku. Tapi aku menjelaskan jika aku baik-baik saja. Dan tukang ojek itu pun diam dan membiarkan ku menangis.


🌈🌈🌈