
Kamu gak sayang aku, itu karena kamu gak mau peduli. Coba deh peduli dikit, lama-lama pasti kamu sayang aku.
๐๐๐
Hari ini entah keajaiban apa yang datang menghampiri ku, tiba-tiba aja aku datang sepagi ini dan otomatis aku tidak datang terlambat.
Dengan langkah riang aku berjalan melewati koridor sekolah yang sudah ramai sembari kedua tangan ku mendekap buku tulis Bahasa Indonesia ku yang berselimutkan kalender yang dibalik hingga warna sampulnya pun putih polos.
Mata ku berbinar saat aku melihat Langit yang berjalan mendekat, aku pun ingin meloncat-loncat karena bahagia.
Saking senangnya kedua tangan ku pun mengepal gemas. Aku pun tak memperdulikan buku ku yang jatuh ke lantai keras.
Tap..tap...
Langkah Langit pun kian mendekat. Senyum semakin mengembang di bibir ku, ingin aku menyapa tapi aku ragu.
Mata ku pun tak pernah lepas dari Langit, saat dia lewat di hadapan ku aku pun tak berkedip.
Saat punggungnya sudah mulai mengecil dan menghilang di balik tembok aku pun mendesah kecewa. Aku kira dia akan membalas senyuman ku, ternyata tidak. Parahnya lagi, melirik pun dia seperti tak sudi.
Aku yang mulai tersadar langsung memanyunkan bibir ku. Semangat ku pun mengendor hebat, saat tersadarย akan satu hal mata ku kembali membulat.
"Buku ku..." aku meringis seraya menunduk dan, "Ya ampun, kenapa jadi begini?" tubuh ku pun membungkukย dan tangan ku meraih buku tulis ku yang sudah kotor karena terkena stempel dari sepatu Langit.
Yah, dia menginjak buku ku. Pasti dia sengaja, bohong jika dia tidak melihat buku ku itu.
"Gimana nih, sampulnya jadi kotor." aku mendesah kecewa, dan akhirnya aku kembali berjalan.
๐๐๐
P
erdebatan kembali terdengar.
"Jadi gimana?"
"Apanya?"
"Lo jadi ikut gak?"
"Gak."
"Ayolah Langit, lo harus ikut! Supaya kelas kita punya perwakilan."
Langit tak habis pikir, kenapa sahabatnya ini sekarang berubah jadi seorang yang hampir dia tak kenali.
"Lo itu kenapa sih Na? Lo itu berubah tahu gak sih?"
Fana terdiam mendengar itu.
"Maksud lo apa sih? Gue cuman pengen lo ikut lomba ini aja."
"Gue gak mau, lo tahu itu. Dan lo tahu kenapa alasan gue gak mau, lo tau..." teriak Langit penuh emosi.
"Kenapa lo jadi kasar gini sih?"
Langit memilih pergi.
Percuma ia berdebat dengan Fana, sebab ia akan kalah. Rasa cintanya itu membuatnya lemah saat berhadapan dengan Fana.
Sekarang rasa sakitnya itu kian bertambah, saat Fana benar-benar berubah menjadi orang asing yang seolah tak mengerti tentang Langit.
Padahal, nyatanya Fana mengetahui semua. Langit benci kebenaran itu.
Dengan langkah yang lebar Langit pun menyusuri koridor. Matanya sempat menangkap sosok cewek yang juga terkena hukum di lapangan kemarin.
Langit juga sempat melihat senyum cewek itu dengan ekor matanya tapi Langit memilih mengabaikannya.
Langit pun merasa jika ia menginjak buku cewek itu, tapi Langit mencoba tak mau ambil pusing.
Langit benar-benar harus menenangkan dirinya untuk saat ini. Langit pun bergegas ke atap sekolahnya dengan sedikit berlari dan saat sampai di atas, Langit pun melangkah mendekat ke ujung pembatas gedung yang langsung menampilkan pemandangan keseluruhan sekolahnya yang nampak luas.
Langit berdiri tegak di sana, seraya memejamkan mata merasakan setiap belaian angin yang menerpa tubuhnya. Tak lama kedua tangannya pun ia rentangkan hingga jika ada orang yang melihatnya maka akan berpikiran jika Langit akan bunuh diri.
"Kenapa harus ada cinta, kalau gue gak bisa ngerasain itu dan lo gak bisa ngebalas itu ke gue, Na?" cicit Langit sambil menahan emosi yang meluap-luap.
Apa cinta harus semenyakitkan ini? Jika jawabannya iya. Bisa berikan alasan!
"Gue gak minta lo untuk ngebales Na, gue cuman pengen lo ngerti. Udah gitu aja," Langit rasanya ingin berteriak keras saat ini juga. Tapi apalah daya, Langit tidak mau menjadi pusat perhatian saat ini.
Lama, Langit membiarkan posisinya seperti ini. Langit berharap beban dan rasa sakitnya akan terbang dan tertiup oleh angin. Agar Langit bisa merasa lega.
๐๐๐
Sementara aku yang sedari tadi memutuskan mengikutinya langsung terkejut. Ini gila, masa dia ingin bunuh diri. Dengan cepat aku langsung berlari ke arahnya sebelum hal yang tidak di inginkan terjadi.
"Kamu gila?!" dengan sekali sentakan aku menarik tangannya untuk turun. Namun karena dia kaget akan sentakanku dia pun linglung dan jatuh tepat menimpa tubuh ku.
Harus ku akui jika aku kehabisan nafas, karena berat badannya jauh lebih berat di bandingkan aku. Jadinya aku ngos-ngosan menahan beratnya.
Aku melihat Langit mendonggak dan menatap ku sambil menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan, hingga aku pun tak terlalu merasa berat lagi.
Bukannya senyuman yang ku terima, tapi malah tatapan tajam membunuh dari Langit. Nyali ku pun menciut.
"Lo yang gila, ****!" aku yang kaget reflek memejamkan mata ku karena takut. Suara Langit sangat keras dan itu tepat di depan wajah ku.
Aku merasa tangan ku pun berkeringat dingin. Jantungku pun berdegup tak karuan.
"Cewek gila, gak tau diri lo!" Langit langsung bangkit dan langsung menarik lengan ku dengan kasar. Kemudian menyentakannya dengan keras.
"Sakit," ringis ku tapi aku menunduk, takut menatap matanya.
"Sakit? Lo bilang sakit? Sialan!" kedua tangan Langit pun memegang kedua bahu ku dengan keras membuat ku kembali meringis.
Kenapa dia kasar sekali?
"Lepasin," aku meronta, karena aku yakin pasti bahu ku sudah membiru karena dia menekannya dengan kuat.
"Sialan," dengan satu hentakan dia pun mendorong tubuh ku hingga aku tersungkur. Aku merasakan perih di area telapak tangan dan lutut ku yang kurasa terluka karena pasir yang menyebar di atas atap ini.
Aku meringis dan berusaha menahan tangis ku, aku mendonggak dan melihat Langit sudah berjalan pergi.
Aku menarik nafas pelan, lalu berusaha bangkit. Membersihkanย pakaian ku dan melihat lutut kiri ku mengeluarkan darah segar. Lagi-lagi aku menarik nafas.
Untungnya rok ku menjuntai hingga ke bawah lutut ku jadi luka ku tak terlalu terekspos.
๐๐๐