I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Keterkejutan



Sinar matahari masuk dengan lancangnya ke dalam kamar yang bernuansa putih itu. Membuat sepasang manusia sama-sama terbangun dalam mimpi indahnya.


Meski yang benar-benar mendapatkan kesadaran seutuhnya adalah sang lelaki. Tapi samar-samar wanita itu mampu melihat siluet wajah lelaki yang ada di dekatnya.


Lelaki itu memeluk erat perut wanita itu. Seakan-akan jika pelukannya itu lepas maka wanita itu akan terbang tertiup angin.


Rasa takut akan kehilangan jelas membuat lelaki itu merasa tersiksa. Meski dia hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, tapi sebisa mungkin untuk wanitanya itu dia akan menghindari berbagai macam kesalahan.


Aku yang masih samar-samar melihat siluet itu langsung terdiam, seperti mengenalinya tapi aku tak mengingatnya jelas. Hingga lelaki yang ada di samping ku itu berbisik tepat di telinga ku, "Menikah dengan ku."


Itu jelas membuat ku terkejut setengah mati.


Berbeda dengan lelaki itu, semuanya nampak terlihat biasa.


Lelaki itu bangkit dan membuat ku menganga, aku bisa melihat siapa sebenarnya lelaki itu.


"Langit." cicit ku pelan sembari memejamkan mataku karena rasanya kepalaku sangat berat. Perutku juga terasa aneh.


"Kau sakit." singkat Langit dan mengelus dahi ku pelan.


Sementara aku yang masih terkejut hanya mampu terdiam. Rasanya ketidakpercayaan membuat ku merasa aneh.


"Sekarang kamu memiliki dua jawaban saja, yaitu iya dan mau. Ayo pilih salah satunya?"


Aku menyipitkan mataku bingung, bagaimana aku bisa menolak jika begitu.


"Aku menganggap jawabanmu iya."


Tatapan Langit seolah menembus pertahanan ku. Aku meringis dan menahan nafas kuat.


"Kau telah meninggalkan ku dan aku akan membuat mu tersiksa untuk kesalahanmu itu," kata Langit penuh dengan ketegasan, tapi terselip kebohongan.


"Kau tahu, aku berbohong! Aku mana bisa menyakitimu. Aku sangat mencintaimu, sayang." Langit membatin dengan pelan. Untuk saat ini semuanya belum bisa dia ungkapkan. Masih ada misi yang harus dia jalankan.


Aku membuang wajah ku ke arah lain, enggan menatapnya. Rasa pegal dalam diri ku membuat ku melenguh pelan.


Kepala ku agak pusing dengan tenggorokan yang agak pahit.


"Jangan bergerak!" entah angin apa yang mengenai Langit. Lelaki itu justru memijat kaki ku dengan pelan membuat ku sedikit nyaman karena rasa pegal ku mulai berkurang.


Setelah beberapa menit berlalu, Langit mendekat dan memegang kedua bahu ku. Membantu ku untuk bangun.


"Aduh." aku meringis kecil saat Langit memegang bahu ku yang kurasa membiru akibat ulah ibu tiri ku.


Mata Langit menatap bahu Agel yang membiru, meski dengan amarah yang jelas. Langit tetap berusaha untuk menahannya agar tidak melampiaskannya ke Agel.


"Katakan, siapa yang melakukan itu!"


Aku memilih diam dan menunduk. Aku takut melihat tatapannya yang tak pernah berubah.


"Baiklah, tak usah kau katakan sebab aku juga tidak peduli." kata Langit dengan santai, " Tak peduli, tapi orang itu harus mendapatkan hukuman karena telah berani melukaimu." lanjut Langit dengan membatin.


Aku hanya menarik nafas dengan pelan. Tak peduli katanya. Tapi kenapa dia ingin menikah dengan ku. Jika benar ingin menyiksa bisa saja dia menyiksaku tanpa harus ada ikatan yang lebih serius.


"Ganti bajumu!"


Langit memberiku hoodie berwarna pink lembut dan celana jeans yang tak terlalu ketat. Aku mendengus dan menatapnya malas.


"Keluar!" kata ku membuat Langit menyipitkan matanya.


"Ini apartemen ku."


"Tapi aku ingin ganti baju."


"Ganti saja, apa susahnya?"


"Kamu mau menjadikanku tontonan gratis?"


"Apanya yang menarik dari tubuh papan kayu mu itu?"


"Kalau begitu, keluar!"


"Tidak!"


"Keluar!"


"Oke."


Merasa terdesak Langit pun keluar dan membanting pintu dengan kesal. Aku pun mengganti baju ku.


Diluar, Langit mendengus berkali-kali. Sebegitu mudahnya Langit takluk akan Agel.


Tak terasa senyum Langit mengembang tipis. Akhirnya dia bisa bersama dengan Agel lagi. Harapannya hanya satu, semoga mereka tak dipisahkan lagi.


".........."


"Apa peduli ku, aku sudah katakan dalam waktu singkat ini semua harus terbongkar."


"..........."


"Aku tidak mau tahu."


"..........."


"Kebusukan mereka harus terbongkar."


".........."


"Tidak, bahkan penjara terlalu aman untuk mereka."


"..........."


"Baiklah, aku tahu jika kau ahli dalam hal ini."


"..........."


Telepon langsung terputus secara sepihak. Tangan kekar Langit meremas keras ponselnya karena merasa kesal.


Bagaimana bisa orang jahat berkeliaran dengan mudahnya. Langit tidak akan tinggal diam. Cepat atau lambat semua akan terbongkar dan kejahatan itu akan berakhir di tangan Langit Elmelgantara. Lihat saja.


Langit buru-buru melangkah menuju kamarnya yang masih tertutup. Bukankah wanita selalu begitu jika sedang berganti baju, selalu lama.


"Apa kau sudah selesai?"


"Tunggu." teriak Agel dari dalam dengan tergesa.


"Jangan terlalu lama!" teriak Langit. "Nanti aku rindu." bisik Langit tak terdengar. Senyum jelas mengembang dibibirnya.


🌈🌈🌈


Aku masih mematung di depan cermin sembari melihat penampilanku. Kenapa rasanya aku sangat gugup harus bertemu dengan Langit diluar. Padahalkan tidak ada apa-apa di antara kami.


Aku menarik nafas dengan kasar dan itu ku lakukan secara berulang. Suara teriakan Langit dari luar membuat ku semakin gugup tak menentu. Dengan pelan aku berjalan dan membuka pintu.


Mata ku langsung menangkap sosok Langit yang tengah berdiri di depan pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Tak ada yang berubah dari penampilannya. Langit masih memakai kaos oblong berwarna putih dengan celana rumahan.


Langit menatap lekat ke arah Agel yang kini sudah menunduk malu. Wanita itu selalu cantik dan manis di setiap waktu.


"Kau lama sekali nyonya." tangan Langit pun menyentil dahi Agel dengan pelan.


Tanpa menunggu respos ku, Langit langsung menarik tangan ku untuk keluar dari apartemen dan memasuki mobil mewahnya. Membawa ku entah ke mana.


Dan kami berhenti di sebuah gedung putih yang menjulang tinggi, rumah sakit.


Saat melangkah di koridor rumah sakit ini, bau obat-obatan itu mulai menggangguku. "Ayo pulang."


Aku menarik tangan Langit dengan sekuat tenaga tapi lelaki itu masih saja tak menggubris ku. Malah lelaki itu menarik ku memasuki ruangan pribadi yang ku ketahui adalah ruangan dokter.


"Selamat siang, dokter." kata Langit dengan ramah.


"Siang, tuan Elmelgantara." balas dokter muda itu dengan senyuman yang manis disertai dengan lesung pipi yang menghiasi kedua pipinya.


"Ada yang bisa saya bantu?"


Langit mengangguk, "Calon istri saya sedang tidak enak badan, dia demam, batuk, flu dan kadang meriang."


Aku hanya terdiam mendengarkan Langit yang begitu fasih memberitahukan keadaanku saat ini. Tapi kenapa dia tahu jika aku sedang demam, batuk, flu dan meriang. Padahal aku tak pernah mengeluh.


Dokter muda itu tersenyum lagi, "Bisa saya periksa keadaannya?"


Langit merubah raut wajahnya menjadi tak suka. Membuat dokter muda itu tersenyum kaku. Mestinya dia tahu jika Langit adalah tipe lelaki yang tak suka miliknya di pegang oleh orang lain.


"Baiklah, tunggu sebentar saya akan mengambilkan resep obatnya." Dokter muda itu berlalu dan aku menatap Langit meminta penjelasan akan tingkahnya yang berlebihan.


"Apa?" sadar akan tatapan ku Langit langsung membalas tatapan ku dengan kesal.


"Kamu berlebihan."


"Apa masalah mu, aku ini calon suami mu. Kau paham?"


Aku memutar bola mata jengah dan membiarkannya melanjutkan aksi gilanya itu.


🌈🌈🌈