
Hujan turun di waktu yang tidak tepat. Setidaknya aku tadi bersyukur saat Langit pergi keluar. Katanya ingin mengurus sesuatu dan itu berarti aku sendiri di apartemen ini. Tadinya aku merasa senang, karena tak akan ada yang memaksa ku minum obat. Tapi ketika hujan turun. Rasanya aku menyesal telah membiarkan Langit pergi.
Aku bergerak tak karuan di kasur. Cahaya yang remang membuat ku meringis takut. Hujan yang turun sangat deras di sertai dengan suara petir yang membuat jantung ku berdetak tak karuan.
Saat mendengar suara krasak-krusuk di luar aku memilih menenggelamkan diri di dalam selimut tebal. Tak berani untuk menyembulkan kepala ku.
Ceklek...
Pintu terbuka dan menampakkan cahaya yang meremang di dalam kamar Langit. Dengan gundukan di kasur yang nampak sesekali bergerak risih. Langit paham betul siapa orang yang ada di dalamnya. Dengan langkah pelan, Langit pun mendekat.
Duduk di pinggiran kasur dan menarik selimut sedikit memaksa. Tapi sepertinya Agel yang berada di dalam selimut itu merasa tak mau kalah. Agel juga ikut menarik selimut. Langit yang kesal langsung menyelinapkan tangannya masuk ke dalam selimut menggenggam lengan kiri Agel yang kecil dan menarik selimut hingga terbuka secara paksa.
"Langit?!" suara ku terdengar ngos-ngosan karena merasa takut.
Langit menatap wanitanya dengan senyum yang tertahan. Melihat wajah Agel yang sedikit pucat saja sudah membuat Langit ingin tertawa hebat.
"Kau kenapa?" meski ada raut khawatir di wajah Langit tapi itu semua dia coba untuk menyembunyikannya.
Bahkan tanpa bertanya Langit pun sudah tahu jika wanitanya itu mempunyai ketakutan terhadap hujan dan lebih parahnya lagi wanitanya itu sangat tidak bisa terkena air hujan. Meski hanya dalam sekejap saja.
Aku yang merasa tak enak di tatap seperti itu oleh Langit langsung menarik selimut dan menjauhkan tangan ku dari Langit. Rasanya sangat canggung.
"Sudah minum obat?" tanya Langit dan seketika aku menjadi makin gugup. Apa Langit akan marah jika mengetahui aku belum minum obat?
"Belum." cicitku pelan. Tapi yakin, jika Langit bisa mendengar.
Langit berdecak sebal dan berlalu mengambil beberapa macam obat yang sudah mereka tebus. Ada empat biji yang harus Agel minum dan itu dalam 2 kali sehari.
Agel sendiri merasa sangat bosan. Ketidakmampuannya dalam mengonsumsi obat itu membuat Agel merasa tak enak saat ingin meminumnya.
Tangan Langit meraih segelas air putih di atas nakas. Kemudian membantu Agel untuk bangkit. Agel mestinya menolak tapi apalah daya. Ia terlalu takut untuk melakukan itu.
"Minumlah!" Agel berdecak gemas. Seraya menggeleng cepat. Matanya mulai berkaca-berkaca. Tangannya tiba-tiba mencekal jas yang Langit kenakan.
Tatapan matanya mengisyaratkan jika Agel sudah tidak mau menyentuh obat itu.
"Aku tidak mau." rengek Agel dan menunduk.
Langit menarik nafas pelan. Memang susah. Dan Langit rasanya tidak mau memaksa Agel. Tapi itu semua harus dia minum. Agar kesehatannya bisa kembali pulih.
"Minum." nada suara Langit pun kembali melembut. Membawa kehangatan berlebih di hati Agel. Detakan jantung Agel tiba-tiba berpacu lebih tepat.
Luapan rindu di hati Langit rasanya sudah tidak bisa terbendung. Melihat wanitanya saja itu sudah membuat batas akal sehatnya melayang. Apalagi saat ini? Saat jarak di antara keduanya mulai menipis.
Tahukah jika rindunya ini bukan rindu biasa? Rindunya ini bukan rindu yang hanya berat saja. Tapi rindu yang menikam perlahan dan membunuh perlahan pula.
Saking dekatnya keduanya sama-sama bisa merasakan kehangatan dan deru nafas yang saling beradu. Tapi tak kalah detak jantung mereka.
"Minum, agar kau lekas sembuh!"
"Pahit."
"Jangan keras kepala nyonya, minumlah dan kau akan lekas sembuh."
Bahkan keduanya seakan melupakan jarak. Langit sendiri merutuki dirinya yang seakan tak mampu menahan diri. Bahkan kini tangan Langit sudah menjelajahi wajah Agel, mengelus pipinya dan membelai kepalanya lembut.
Agel menahan napas. Lalu memejamkan mata takut.
Langit sedikit memiringkan wajahnya dan,
Duar....
Suara petir membuat Agel kaget dan langsung melompat masuk ke dalam pelukan Langit.
Langit sendiri mengumpat kesal. Sangat kesal kepada keadaan yang malah merusak suasana.
Pelukan Agel yang erat membuat Langit tersenyum samar. Mau tidak mau, Langit pun membalas pelukan Agel. Dan begitulah keduanya hingga keduanya tertidur dalam posisi yang kurang nyaman.
🌈🌈🌈
Apartemen yang luas. Disertai dengan dapur yang memiliki peralatan lengkap.
Suara gaduh dari peralatan dapur itu diakibatkan oleh Agel. Wanita itu sudah bangun dari beberapa menit lalu, hingga nekat berjalan ke arah dapur dan mulai memasak makanan sebisanya. Tak terlalu sulit bagi Agel.
Aku berpikir akan memasakkan nasi goreng untuk Langit. Semoga saja dia suka.
Saat tiba-tiba aku sibuk memasak. Sebuah tangan langsang melilit di perut ku. Tangan kekar itu memelukku erat dari arah belakang. Dengan dagu yang dia sandarkan di pundak ku.
Aku yang kaget langsung tersentak dan hampir saja tangan ku terkena wajan panas. Untungnya aku bisa menghindarinya.
Aku semakin kaget saat tangan kekar itu mengelus perut ku pelan. Lalu memutarku untuk berbalik. Tangan Langit tak pernah lepas dari pinggang ku.
Hingga aku merasa tangan Langit berlalu ke belakang ku dan mematikan kompor. Mengangkat tubuh ku dan mengangkat ku naik ke atas meja. Dengan tubuhnya yang masih bertumpuh ke arah ku.
Jarak yang dekat semakin membuat ku risih. Di tambah lagi tatapannya yang sangat tajam.
Ciuman bertubi-tubi pun mendarat di kedua pipi dan dahi ku. Aku mendengus dan Langit langsung bergerak menjauh. Itu karena ponselnya yang berdering nyaring.
🌈🌈🌈