I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Hukuman Bersama



Itu hati atau batu? Di kodein kok gak ngerasa. Malah makin keras aja. Atau, gak punya hati yah?


🌈🌈🌈


Jam menunjukkan pukul 4 subuh, dan aku sudah bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Hanya sekeder untuk membasuh wajah dan mulai menyetrika seragam ku dan seragam Angga, karena tadi malam aku tidak sempat menyetrikanya, saking kelelahannya.


Setelah menyetrika, aku pun mengemasi buku-buku yang akan aku bawa dan memasukkannya ke dalam tas punggung ku.


Setelah selesai, aku pun berlalu ke kamar Angga dan membangunkannya.


"Dik, ayo bangun!" Angga terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Iya kak," aku tersenyum dan mengusap rambutnya.


"Kakak mau masak dulu yah, kamu langsung mandi aja." Angga kembali mengangguk dan aku pun berjalan keluar. Tapi sebelum aku pergi, aku pun mengajukan satu pertanyaan yang selalu aku tanyakan di setiap paginya.


"Dik, kamu mau bawa bekal?"


"Iya dong kak, masakan kakak kan enak." ucap Angga penuh dengan keyakinan.


Tapi aku malah meringis terluka. Semestinya Angga tak perlu hidup menderita seperti ini, seharusnya Angga menikmati masa-masa remajanya ini.


Jujur aku takut Angga akan mendapat ejekan dari teman seusianya jika dia membawa bekal ke sekolah. Mungkin jika cewek, itu wajar-wajar saja, tapi jika itu cowok yang membawa bekal ke sekolah maka akan menimbulkan banyak kritikan. Dan aku sangatΒ  tidak mau hal itu terjadi.


"Kakak gak usah khawatir, di sekolah Angga banyak kok yang bawa bekal. Dan kita semua makan bareng pas jam istirahat. Seru deh kak."


"Benarkah?" Angga mengangguk penuh semangat, membuat ku tertawa pelan.


"Yaudah kakak masak dulu yah,"


Aku pun berlalu ke dapur minimalis yang tersedia di kos-an ku. Aku memakai celemek yang bermotif BT21 dan mulai memasak.


Menu hari ini adalah nasi goreng dan omlet spesial. Untuk ku dan tentu untuk Angga.


Tak lama dua bekal pun terisi, satu untuk ku dan satu untuk Angga. Aku pun berlalu dari dapur dan mulai bersiap-siap ke sekolah.


🌈🌈🌈


Aku mendesah pelan, seraya mengusap peluh di dahi ku. "Bener yah kata orang-orang kalau dunia itu neraka kedua," gumam ku pelan dan kembali hormat ke sang bendera merah putih.


Rambut ku sudah lepek gara-gara keringat, baju ku pun pasti sudah di penuhi keringat. Kaki ku pun sudah pegal berdiri. Di tambah sinar matahari pagi yang sangat terik kini sudah mulai membakar kulit ku.


Yah, aku terlambat lagi! Entahlah ini sudah yang keberapa kalinya. Poin ku pun pasti sudah bertambah lagi.


Aku terlambat karena setelah aku pergi mengantar Angga aku pun lanjut mengantarkan bunga mawar pesanan Ibu Lili -- atasan ku itu.


"Langit," girang ku dalam hati dan entah mengapa hari ini adalah hari terberuntung saat aku mendapat hukuman. Dengan berdiri berdampingan dengan Langit.


"Jangan liat-liat!" sentaknya membuat ku kaget sekaligus malu, karena ketahuan mencuri pandang dengan Langit.


"Hah? Iya," ucap ku gugup. Aku merutuki diri ku kesal, kenapa aku gugup begini. "Ehmm, nama kamu Langit yah?"


Langit mengerutkan alisnya tak suka dan menoleh ke arah ku dengan tatapan kesal. "Kenapa? Apa lo mau ngomong: biar gue ramal, kita akan ketemu di kantin? Gitu?"


Aku menggeleng, "Aku bukan Dilan." yah karena setahu ku itu dialog yang diucapkan Dilan saat pertama bertemu dengan Milea.


"Emang yang bilang lo Dilan siapa?" ketusnya lagi sambil membuang muka dan mendonggak menatap bendera.


Tak terasa aku meremas ujung rok ku dengan menggunakan tangan kiri ku. Aku gugup.


Mata ku pun menangkap ujung bibirnya yang tengah mengeluarkan darah segar. Seperti sebuah luka pukulan.


"Ujung bibir kamu berdarah," cicit ku tapi aku tak mendapat respons. Aku menghela nafas pelan.


Aku pun merogo kantong baju seragam ku, dan aku tersenyum saat aku berhasil mendapatkan plaster luka.


"Sini, biar aku obatin." aku pun berjalan dan berdiri di hadapannya. Aku sedikit berjinjit untuk membersihkan bercak darah di sana.


Awalnya Langit sempat menepis tangan ku kasar tapi aku mencobanya lagi dan kali ini Langit hanya menatap ku tajam.


"Selesai," kata ku gembira.


"Minggir atau gue dorong?" aku tersentak dan segara menjauh.


Hening pun tercipta.


Lama-lama aku bosan, aku sudah banyak mengeluarkan kata tapi aku malah diabaikan. Aku ingin membuktikan jika namanya Langit, tapi jika aku bertanya maka dia akan menjawab seperti tadi.


Dengan senyuman aku pun memiringkan kepala ku untuk melihat tanda pengenalnya dan mata ku pun dengan teliti mengeja huruf-huruf yang tertata rapih di sana.


Mulut ku menganga saat aku menatap lekat tanda pengenal itu.


"Langit Elmelgantara." batin ku berteriak senang. Sekarang aku sudah mengetahui nama lengkapnya.


Dengan cepat aku buru-buru mengembalikan posisi ku seperti semula, sebelum Langit sadar. Kalau dia sadar, pasti dia akan marah-marah.


🌈🌈🌈