
Kita mungkin tak bisa memaksakan hati. Apalagi untuk membenci atau mencinta, kita hanya bisa merelakan hati.
🌈🌈🌈
"Kok mendadak sih?" tanyaku dengan suara lemah. Rasanya ingin menolak, tapi semua harapan kini hanya bertumpu padaku. Jadinya aku tak enak hati.
"Gue juga gak tahu, ini tuh info dadakan dari Kepsek baru kita." kepala ku pun berpikir keras, ingin mengiyakan tapi takut mengecewakan. Ingin menolak, tapi itu lebih mengecewakan mereka.
"Baiklah." suasana kelas ku pun riuh akan teriakan-teriakan teman sekelas ku. Aku pun tersenyum ramah ke arah mereka.
Bagi ku, kebahagiaan orang lain adalah prioritas utama untukku.
Semoga aku tak menggores kecewa di hati mereka. Sebisa mungkin aku akan berusaha. Karena yang ku tahu, bahwa usaha tidak akan menghianati hasil.
Setelah selesai dengan sekolah aku pun berlalu ke arah parkiran menghampiri motorku dan segera berlalu pergi dari sekolah menuju tempat kerja ku, di cafe.
Aku mengendarai motorku dengan kecepatan rata-rata, lumayanlah suasana sore ini cukup mendukung dengan cuaca yang bersahabat. Lalu lintas pun nampak tak terlalu padat.
Aku menebar senyuman di sepanjang perjalanan saat sampai di tempat parkir cafe aku buru-buru berlari dan masuk ke dalam. Mengganti pakaian dan mulai bekerja. Suasana cafe sore itu sangat ramai. Dengan semangat empat delapan aku pun melakukan pekerjaan ku dengan teliti.
"Kakak?" aku menoleh saat mendengar suara panggilan itu, mataku pun membulat sempurna saat melihat Angga berdiri di hadapanku dengan wajah penuh dengan luka lebam.
Mataku pun langsung mengeluarkan cairan kristal bening, lalu aku terisak pelan. " Angga, kamu kenapa?" kataku dengan terisak dan aku pun menuntunnya ke belakang.
Di sana Ibu Lili melihatku dan Angga, Ibu Lili pun mendekat dan sontak kaget melihat kondisi Angga yang nampak mencemaskan.
"Angga, muka kamu kenapa lebam gitu?" Ibu Lili pun meraih tangan Angga dan menuntunnya mendekat lalu di ambilnya kotak obat dan dengan telaten Ibu Lili mengobatinya dengan lembut.
Sementara aku masih kaget dengan kejadian ini, air mata ku pun masih tersisa. Kalian pasti akan bereaksi yang sama saat melihat adik kalian datang menghampiri dengan penuh luka lebam yang parah.
"Terima kasih bu," Angga tersenyum tulus ke arah Ibu Lili lalu menatap kakaknya dengan penuh rasa bersalah.
Semestinya Angga tak ceroboh dan Angga tak berbuat nekat.
"Maafin Angga kak," kata Angga dengan penuh sesal, aku pun membuang wajahku dan langsung menatap tempat lain.
"Kak, Angga gak maksud buat kakak khawatir atau sedih. Angga cuma..."
Drrttt....drrttt....drrttt....
Suara getar ponsel itu membuat mataku terfokus pada ponselku. Aku menatap layar ponselku bergantian dengan Angga yang nampak menatap ku juga.
"Halo?!"
".........."
"Ada apa?"
"........."
".........."
"Iya, terima kasih."
Aku membuang nafas kasar, lalu beralih menatap Angga dengan nanar.
"Maafin Angga kak, maaf!" Angga pun bersujud di hadapanku, itu membuatku terdiam. "Maaf, udah buat kakak kecewa, maaf..."
Aku menggeleng pelan dan meraih bahu Angga untuk berdiri. "Apa kamu mau cerita sama kakak?"
Angga mengangguk, Ibu Lili pun mengerti dan berniat pergi tapi aku menahannya, "Ibu, jangan pergi! Di sini aja, Ibu udah Agel anggap sebagai Ibu kandung Agel sendiri dan Agel berharap Ibu bisa ngasih solusi buat masalah yang Agel dan Angga hadapin." Ibu Lili pun tersenyum, senyuman wanita paruh baya itu membuat ku rindu akan sosok seseorang.
Angga pun mulai bercerita, tentang awal permasalahan hingga akhirnya dia harus berkelahi dengan teman satu kelasnya.
"Jadi dia nuduh kamu mencuri?" Angga mengangguk mantap.
"Jadi Angga ngebela diri kak," Anggan terlihat menampilkan raut wajah kesal. "Kita emang hidup berkecukupan, tapi sedikit pun Angga gak ke pikiran buat ngelakuin hal itu."
"Dan yang paling ngebuat Angga emosi, pas Geldi ngebuang bekal yang kakak udah buatin ke lantai." tangan Angga mengepal kuat menandakan jika Angga benar-benar emosi.
Aku terdiam dan menarik nafas kasar, aku pun mengusap pelan rambut Angga. Apapun yang dia lakukan hanya untuk membela diri.
"Tetep aja kamu juga salah dik, lain kali kamu harus bisa nahan emosi kamu. Sebab emosi itu selalu merugikan diri sendiri."
"Angga harus sabar, Angga gak boleh kepancing emosi." Kata Ibu Lili dengan lembut. Angga pun terlihat mengangguk.
🌈🌈🌈
Aku menatap cermin kecil yang aku bawa dari rumah, sebenarnya ini bukan kebiasaanku. Tapi ini sungguh sangat mendesak. Dengan perlahan aku mengarahkan cermin itu ke arah target.
Dan aku tersenyum puas saat targetku masuk ke dalam cermin itu. Nampak jelas, aku bisa melihat wajah Langit berada di sana.
Sekarang aku tengah berada di kantin dan tepat di meja paling ujung di pojokan, ada Langit yang tengah duduk sendiri sambil sibuk dengan ponselnya.
Jika aku menatapnya secara langsung maka itu akan membahayakan, jadi aku memilih melakukannya secara sembunyi-sembunyi.
Setidaknya ini lebih baik. Sekarang aku baru membenarkan jika sesuatu yang indah itu hanya mampu di nikmati dari kejauhan.
Aku terkekeh pelan saat membayangkan aksi konyolku ini, aku benar-benar berbeda saat mulai mengenal Langit.
Kini rasanya semua tentang Langit, bahkan otakku sudah penuh dengan Langit.
Apakah ini yang dinamakan Cinta? Tapi kenapa bisa datang secepat ini? Aku pun tak mengerti.
🌈🌈🌈