
"Kenapa lo jadi lancang gini, huh?" Langit berteriak frustasi pada Fana yang tengah berdiri di hadapannya.
"Gue cuman pengen lo wakilin kelas kita,"
"Tapi gak gini juga caranya, Na...."
"Lo bisa nggak ngebentak Fana?" Erick mendorong pelan tubuh Langit hingga Langit sedikit mundur.
Langit mendengus tak suka, "Ini urusan gue sama Fana, lo gak usah ikut campur!"
"Gue pacarnya dan gue berhak atas Fana."
Mendengar itu Langit seperti terbakar, terbakar api cemburu lebih tepatnya. "Iya-iya, lo pacarnya dan gue cuman sahabatnya." Langit pun tertawa hambar setelah mengatakan itu.
"Inget Na, apapun yang lo lakuin gue tetep gak akan pernah ikut lomba itu. Bahkan walaupun lo ngemis di hadapan gue," Fana membulatkan matanya mendengar teriakan Langit yang memekik telinganya.
Sepintas rasa bersalah pun menghantui Fana, bagaimana bisa ia lupa apa yang Langit hindari dalam hidupnya.
Langit pun melangkah pergi tak peduli dengan teriakan Fana yang berusaha menghentikannya.
"Kalau itu yang lo mau, gue bakal buktiin ke elo, Na. Kalau gue bisa tanpa elo,"
Langkah Langit pun membawanya ke tempat biasanya, atap sekolah.
Dari atap sekolah Langit bisa melihat dengan jelas ke arah lapangan upacara dan disana ada satu sosok yang tengah berdiri seraya hormat ke arah bendera merah putih.
Langit pun mengendikkan bahunya acuh, masa bodoh dengan orang itu. Langit pun memilih duduk di sana sambil menikmati teriknya matahari yang langsung menyengat kulitnya. Cuaca benar-banar sangat tak besahabat kali ini.
🌈🌈🌈
Lagi dan lagi, aku harus berhadapan dengan sang bendera merah putih. " Ketemu lagi kita," kata ku sambil tersenyum ke arah bendera.
Peluh pun kembali menetes di pelipis ku, matahari pagi ini sangat terik dan itu membuatku merasa kepanasan.
"duapuluh menit lagi, jam pertama selesai. Semangat, Agel." aku pun berteriak dalam hati, menyemangati diriku sendiri sambil tersenyum ke arah tiang bendera.
Mataku menyipit saat sesekali silaunya matahari menyapa mataku.
Rasa haus pun mulai menjelajahi tenggorokan ku. Sepertinya es teh dingin sangat cocok di minum di saat seperti ini, atau satu gelas good day carabian yang dingin dengan campuran es batu, ahh itu pasti sangat nikmat.
Aku pun berdecak, bisa-bisa jika aku terus memikirkan minuman itu maka aku akan ileran seketika.
Dengan pelan aku pun menggelengkan kepalaku berharap bayangan-bayangan minuman segar itu menghilang, tapi malah aku melihat kelapa muda melayang-layang di kepalaku. Aduh, pasti sangat segar bila menyeruput es kelapa muda di saat ini.
Aku pun kembali menggeleng sambil menepuk pelan pipiku. Tak terasa bell pergantian pelajaran pun berbunyi, dengan semangat tanganku pun mengepal meninju udara yang hampa dan semu.
Dengan kecepatan maksimal aku berlari meninggalkan lapangan dan ingin berlari ke arah kantin. Namun alih-alih pergi ke kantin, mataku justru menatap sosok cowok yang tengah terduduk di pembatasan atap sekolah sambil menggelantungkan kakinya, lalu menggoyangkannya dengan tatapan yang fokus ke depan.
Saat aku ada di tengah perjalanan aku pun mendesah lelah, akhirnya aku bertemu tangga lagi.
Anak tangga ini, sangat banyak dan kakiku masih pegal sehabis di hukum tadi dan sekarang harus menaiki anak tangga ini. Ya ampun, bisa-bisa aku mati konyol di sini. Lagi pula Langit itu aneh, masa dia menjadikan atap sekolah sebagai basecamp kan tidak elit sekali.
Satu...dua...tiga..., dan seterusnya aku melewati anak tangga, ada sekitar beberapa ratus anak tangga di sini dan itu sangat menyiksa. Kaki ku rasanya ingin copot tapi aku bertahan. Demi Langit, apa pun akan ku lakukan.
Anak tangga terakhir menungguku di sana. Dan saat aku menginjaknya mataku pun langsung menangkap sosok Langit yang terduduk sambil membelakangiku.
"Dari belakang aja ganteng," aku cekikikan sambil memperhatikan Langit yang kurasa belum menyadari keberadaanku.
Rambut hitam bercampur cokelat pirangnya sangat bercahaya di terpa matahari. Di tambah lagi oleh tiupan angin. Astaga, Langit mungkin adalah karya Tuhan yang sempurna untuk kadar manusia.
"Lo gak kapok?" aku membulatkan mataku saat mendengar suara bernada ketus sekaligus dingin itu.
Aku dengan bodohnya menunjuk diriku sendiri dan celingak-celinguk menatap sekitar apakah ada orang lain yang ada di sini selain mereka berdua.
"Gue ngomong ke elo," Langit tetap berbicara dengan posisi yang tetap sama, masih membelakangiku.
"Lo punya dua pilihan, lo pergi atau nangis." lanjut Langit seraya berdiri dan berbalik menatapku dengan tatapan sengit seolah-olah aku adalah musuh yang paling di benci olehnya.
"Pergi atau nangis?" aku masih berpikir maksud dari ucapannya itu. Sungguh aku tak mengerti.
"Gue rasa lo pilih yang kedua yah?" hei, aku belum mengatakan pilihan ku.
Hap...
Langit melompat turun dan berjalan ke arah ku. Aku pun menelan saliva ku dengan kesusahan. Aku merasa bahwa aku sedang berada dalam bahaya. Tatapan tajam Langit seolah membuatku ingin menenggelamkan diri ke tanah atau jika boleh aku ingin menghilang saja.
Saat langkahnya kian mendekat aku pun ikut mundur. Takut rasanya.
Senyum smirk tercetak di bibirnya. Aku semakin parno.
Bruk...
Tubuhku pun sudah mentok di sebuah tembok yang hanya setinggi pundak ku saja. Aku menoleh ke belakang sambil komat-kamit karena takut. Ini tinggi sekali dan aku bisa melihat bagian belakang dari sekolahku di atas sini.
Langit sudah berdiri tepat di hadapanku, jarak pun semakin menipis saat langkahnya kian mendekat. Kedua tangan Langit bertumpu pada tembok seperti mengunci tubuhku agar tidak bergerak.
Aku pun mendonggak menatap wajah Langit yang lebih tinggi dariku. Jujur saja, jantung ku berdetak lebih keras saat dia tepat berdiri di depan wajahku seraya menundukkan kepalanya.
Bruk...
Dia mendorong tubuh ku ke tembok dan itu sangat sakit.
🌈🌈🌈