
Terima kasih telah memberi hati, lalu pergi dengan menyakiti.
🌈🌈🌈
Setelah melakukan perdebatan panas di tengah laut, aku pun berhasil naik dengan selamat tanpa ada lecet sedikit pun.
Kini suasana pantai sudah mulai ramai, banyak sekali turis yang datang ke sini. Aku bersyukur, tadi hanya aku dan Langit yang menyaksikan adegan konyol ku saat tenggelam.
Kini aku memilih duduk di bibir pantai sambil meluruskan kakiku ke depan. Membiarkan ombak menyapanya.
Sementara Langit masih asik berenang. Tapi aku tidak yakin akan aktivitasnya itu.
"Dasar cowok." dengus ku tak suka. Sebab aku melihat di sekeliling Langit banyak sekali cewek yang memakai baju renang yang mini. Hingga sebagian dari tubuh mereka terekspos dengan sempurna.
Pasti Langit sedang mencari kesempatan dalam kesempitan. Itulah buat para cewek jangan mau mengajak cowok kalian ke pantai. Bisa-bisa mata cowok kalian ternodai akan pemandangan yang tak berfaedah.
Aku yang merasa jengah langsung mengalihkan pandangan ku dari Langit, aku menoleh ke kanan. Dan di sana aku melihat ada sepasang kekasih yang sedang bermain air di bibir pantai. Seperti saling menyiprat-nyipratkan air begitu.
Aku semakin mencibir. Boro-boro mau seperti itu, Langit saja tak memiliki sisi romantis. Bukannya di ajak main cipratan-cipratan air aku malah di tenggelamkan di tengah laut.
Aku pun mengalihkan pandangan ku ke kiri, lagi dan lagi pemandangan yang sama. Aku menyipitkan mata ku tak suka. Semua yang ada di pantai ini sangat bahagia. Apa cuma aku yang tersiksa gara-gara Langit? Itu konyol.
Aku pun kembali mengalihkan pandanganku ke depan. Tapi aku sudah tak melihat Langit lagi.
Apa dia punya jurus mengilang yah? Dari tadi dia menghilang terus. Atau dia tenggelam di tengah laut sana. Kalau dia tenggelam itu sangat luar biasa sekali. Tapi kalau dia benar-benar tenggelam dan di temukan tewas maka aku yang akan sedih.
Dengan malas aku berdiri, mata ku meneliti ke segalah arah. Jangan bilang jika dia tengah bermain-main dengan cewek-cewek yang ada di depan sana.
Mata ku menyipit saat aku tidak menemukannya. Ya Tuhan, apa dia benar-benar tenggelam. Lalu aku harus bagaimana apa aku harus bahagia karena tidak akan ada lagi yang menyiksa ku? Atau merasa sedih karena kehilangan orang yang ku cintai.
Bodoh, batin ku. Tentu saja dia tak akan tenggelam. Langit kan pandai berenang.
Tiba-tiba saja tubuh ku melayang. Sontak aku berteriak nyaring.
"Argh...." semua orang yang ada di sana langsung menatap kami dengan tatapan yang sulit di artikan.
Tak jarang dari mereka ada yang merekam momen ini.
"Kita liat, apakah papan kayu ini bisa mengapung di tengah laut." kata Langit dengan ekspresi biasa saja.
Tidakkah di berpikir jernih. Lagi, dia ingin menenggelamkan ku untuk yang kedua kalinya.
"Aku bukan papan kayu," aku mengelak sembari meronta. Lagi pula aku memang bukan papan kayu.
"Postur tubuh lo gak bisa bohong,"
Aku berdecak sebal sembari mengomel-ngomel tak jelas.
"Gue mau lihat lo ngapung,"
"Aku gak bisa renang,"
"Kan papan kayu itu langsung bisa ngapung."
Aku rasanya ingin menjejalkan sepatu ke mulut pedas Langit. Tapi sayang aku tak berani.
Aku harus memutar otak ku untuk berpikir supaya Langit mengurungkan niatnya.
"Bilang aja kalau kamu mau lihat cewek-cewek yang pakai baju ketat itu kan?" tunjuk ku ke salah satu cewek yang memakai baju renang mini.
"Mata gue itu masih suci, jadi gak ada minat gue liat begituan." ucap Langit sengit, aku seolah memasang wajah tak percaya. Karena memang aku tak percaya.
"Omong kosong." kata ku sambil mencibir lagi, " wajah kamu tidak sepolos pikiran kamu."
"Maksud lo pikiran gue kotor gitu?"
Langit mengerutkan alisnya dan berbalik untuk berjalan ke tepi pantai.
Dalam hati aku bersorak bahagia.
"Gak berfaedah yah?" tanya Langit dengan senyum absurdnya.
"Lupain!" kata ku dan turun dari gendongan Langit. Berlari sekencang mungkin agar Langit tak bisa menangkap ku.
"Lo ngejebak gue yah?" teriak Langit dan aku tak peduli. Tak di sangka Langit pun ikut berlari. Tak perlu waktu yang lama untuknya mensejajarkan langkah kami.
Kakinya yang panjang membuat kecepatan larinya sangat cepat.
Dia menangkap ku dan langsung memelukku dari belakang. Alhasil para orang-orang yang ada di pantai mendapat tontonan gratis lagi.
"Lo ngingetin gue sama seseorang." bisik Langit tepat di telinga ku. Membuat ku merinding seketika.
"Fana?" tanya ku meyakinkan. Karena yang ku tahu hanya Fana yang selalu membuat Langit kepikiran.
"Kenapa lo selalu sebut nama dia?" Langit pun membalik tubuh ku agar langsung berhadapan dengannya.
"Karena yang ada di pikiran kamu kan selalu Fana."
Langit menyentil dahi ku, " Sok tahu,"
Aku mengindikkan bahu ku tak mengerti.
"Cewek lain? Mantan yah? Duh jadi kamu belum bisa move on, hahah...." tawa ku pecah seketika. Meski aku sedikit sakit mengucapkan itu.
"Lo sok tahu yah." Langit meraup wajah ku dengan kasar. Tanpa perasaan.
"Gak ada romantis-romantisnya banget sih!" celetuk ku agak kesal.
"Coba liat tuh!" aku menunjuk sepasang kekasih yang saling bergandengan tangan dan berpelukan erat.
"Romantis kan, liat juga yang itu, yang itu, nah itu juga, yang sebelah sana juga, yang paling ujung sana juga, nih...nih... Itu kamu liat, yang di pinggir pantai, itu juga yang lagi berenang berdua, itu tuh yang lagi minum bareng," tak ada satu penjuru yang lepas dari tunjukan ku. Hingga setelah berceloteh nafas ku pun terengah. Aku memilih terduduk membiarkan ombak mengenai ku.
"Papan kayu cerewet," tangan Langit mencubit hidung ku hingga aku rasa hidung ku akan copot seketika.
"Lo makin buat gue inget sama seseorang itu,"
Aku memilih diam dan meremas pasir putih dengan kesal.
"Adik manis gue," aku menoleh dan menatap Langit dengan alis mengkerut.
"Kamu punya adik? Wah pasti lucu deh, kapan-kapan aku mau ketemu."
Aku melihat perubahan pada raut wajah Langit, sepertinya dia muram. Apa aku salah bicara.
"Dia udah ada di surga, bahagia di sana."
Aku langsung terdiam, "Maaf," lirih ku karena merasa tak enak.
"Dia meninggal gara-gara gue, waktu itu gue lebih milih ke salah satu acara musik impian gue daripada jemput dia pulang sekolah. Akhirnya dia pulang sendiri dan ketabrak mobil..."
"Sejak saat itu, gue benci sama semua yang namanya musik. Apapun itu."
Aku menepuk bahu Langit pelan, jika begini aku tak mau mendengar lebih. Aku bisa paham bagaimana perasaan Langit.
"Tapi itu bukan salah kamu, ini permainan takdir."
Tanpa di duga Langit memeluk ku erat. Aku pun hanya diam dan membiarkan posisi kami seperti ini.
🌈🌈🌈