I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Menghilang



Jika untuk peduli pada ku aku harus menghilang dahulu, maka akan ku lakukan.


🌈🌈🌈


Langit terbangun dengan perasaan yang sudah lumayan membaik. Langit mengusap wajahnya kasar. Lalu merasakan ada yang aneh di kamarnya ini. Seperti ada yang hilang.


Pandangan Langit pun meneliti keseluruhan kamarnya.


"Kakak akhirnya bangun juga, ini makan!" Bunda menyodorkan semangku sup ke Langit. Dan Langit langsung meraih mangkuk itu.


"Buatan Bunda?" tanya Langit.


Bunda menggeleng. "Buatan Agel,"


Rasanya lidah Langit keluh untuk mengeluarkan kata lagi. Matanya menatap ke sana kemari. Mencari sosok yang sedang dia cari.


"Dia udah pulang, udah dari tadi." kata Bunda dan mendekat duduk di pinggiran kasur Langit.


"Sebenarnya Bunda mau tanya-tanya ke Agel, tapi ngeliat muka dia sembab kayak habis nangis Bunda jadi nggak enak. Apalagi tadi pas lagi masak dia nahan tangis gitu."


Langit terdiam. Memang apa peduli Langit, toh mereka tak mempunyai hubungan yang lebih.


"Bunda sebenarnya gak tahu apa yang kamu mainin, tapi Bunda selalu tahu kalau kamu saat ini salah jalan. Kamu salah kalau kamu jadiin Agel sebagai permainan kamu."


"Terkadang kamu harus mau peduli sedikit, agar kamu tahu siapa orang yang benar-benar selalu ada di saat kamu dalam terpuruk sekali pun."


"Dan untuk belajar, mempertahankan orang yang rela terluka untuk membuat kamu bahagia."


"Tapi, kembali lagi ini pilihan kamu. Bunda gak punya hak." Bunda melangkah keluar, tapi sebelum itu dia berbalik lagi dan mengatakan.


"Tadi Agel sempat minta nomor telpon Fana, jadi Bunda kasih deh."


Langit menarik nafas kasar. Apa peduli dia? Agel terluka tapi kenapa? Entahlah Langit tidak mau ambil pusing. Karena merasa perasaannya lebih mendingan. Langit pun memutuskan untuk ke sekolah hari ini.


Setelah sampai di sekolah, Langit langsung di sambut oleh Fana.


"Langit, katanya lo sakit yah?" Fana menunjukkan ekspresi khawatirnya di depan Langit.


"Gue sehat," singkat Langit dan menatap Erick tajam.


Erick tengah menggenggam tangan Fana dengan erat. Seolah jika Erick melepaskannya maka Fana akan hilang.


"Tadi pacar lo nelpon gue dan bilang kalau lo sakit. Niatnya gue mau ke rumah lo tapi lo ternyata datang ke sekolah."


"Oh." singkat Langit.


Lagi pula untuk apa Agel menelpon Fana, memang dia pikir Langit tidak bisa hidup tanpa Fana.


Mendengar itu rasanya Langit menjadi emosi lagi. Awas saja kalau sampai bertemu dengan cewek bodoh itu. Pasti Langit akan menyiksanya. Lihat saja.


Rasa tak terima jelas ada. Tapi Langit bingung harus berbuat apa. Yang Langit tahu, membunuh perasaan tak semudah yang kalian pikirkan.


Sebenarnya untuk membunuh perasaan itu sebenarnya tak sulit. Hanya saja banyak orang yang menyerah dahulu sebelum mencoba. Hingga membiarkan dirinya dan hatinya terus terluka.


Dan begitupula dengan Langit, sebenarnya dia belum mencoba tapi sudah menyerah saja.


Saat sudah sampai di kelas 2 IPA 1, Langit pun bergegas masuk dengan alasan ingin mencari Agel.


Dan kedatangan Langit pun sontak membuat kelas yang awalnya tenang itu menjadi riuh akan teriakan para cewek yang mengangumi ketampanan Langit.


Langit memanggil salah satu kenalannya dan menanyakan sosok yang di carinya, "Dimana Agel?"


Sosok cowok jangkung itu menautkan alisnya bingung dan mengendikkan bahunya tanda tak tahu.


Sebab sudah dari pagi tadi, batang hidung Agel tak terlihat. Meski biasanya Agel memang selalu datang terlambat tapi tidak pernah separah ini.


"Kenapa gak masuk?"


"Gak tahu, gak ada keterangan."


Langit mengangguk paham dan keluar dari kelas itu sebelum dirinya diserbu oleh cewek-cewek.


Hari ini hujan turun lebat, bahkan sampai sore tiba. Hujan tak kunjung berhenti.


Langit menatap hujan dengan tatapan tak minat. Di tambah lagi dengan pemandangan yang ada di sampingnya.


Fana dan Erick yang tengah bermesraan.


Langit memang diam melihat itu semua, namun Langit akan memastikan jika Erick itu bukan tipe cowok yang baik tapi Erick sering mempermainkan hati cewek.


Tapi ketika Langit mengatakan itu kepada Fana, Fana malah marah-marah dan membentak Langit.


Jadi yasudah, Langit akan mengumpulkan bukti untuk membuka kedok Erick. Agar dia tak bisa dekat lagi dengan Fana. Itu janji Langit.


"Langit, gue balik sama elo yah!"


Langit hanya mengangkat satu alisnya. Menandakan bahwa ia setuju. Dan tak mungkin ada penolakan.


"Sorry yah, aku gak bisa nganterin kamu pulang, aku ada urusan dulu." Erick mengecup singkat kening Fana dan itu membuat Fana blushing.


Lagi, itu membuat Langit terbakar api cemburu yang berkobar meski di tengah cuaca dingin seperti ini.


Setelah Erick pergi Langit pun mengajak Fana untuk masuk ke dalam mobil. Tapi bukannya membawa Fana pulang Langit malah membawa Fana mengikuti Erick.


Langsung saja Fana marah dan membentak-bentak Langit.


🌈🌈🌈