I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Hanya Status



Kamu datang untuk mempermainkan, lambat laun memberi nama akan hubungan. Tapi dibalik itu semua kamu anggap permainan. Yang dengan gampang kamu bisa tinggalkan.


🌈🌈🌈


Setelah berhasil merayu Bunda Langit, akhirnya aku di biarkan untuk pulang. Sebenarnya aku suka dengan Bunda Langit, karena dia sangat baik kepadaku. Bahkan tadi dia tidak membiarkanku pulang jika aku tidak menghabiskan sup buatannya.


"Kakak, inget pesen Bunda baik-baik, Agel harus...."


"Agel harus sampai di rumahnya dengan selamat, tanpa ada cacat sedikit pun. See, Langit inget Bunda!"


Bunda tersenyum puas. Lagipula bagaimana Langit tidak mengingatnya, Bundanya itu sudah mengulang kalimat yang sama beberapa menit terakhir ini.


"Ayo!" kata Langit dan menarikku hingga aku tersentak kaget.


"Tante, Agel pamit." kataku dan mencium punggung tangannya.


"Hati-hati, sayang." Bunda Langit menarikku pelan dan memelukku, kemudian mengecup pucuk kepalaku sayang.


Kasih sayang seorang ibu memang tak tertandingi, rasa nyaman yang tercipta seolah-olah tak bisa dikalahkan oleh apapun.


Bunda melepaskan pelukannya dan membiarkan aku pergi bersama Langit.


Saat masuk di dalam mobil, pikiran ku pun bercabang kemana-mana.


Mulai dari, kenapa Langit bisa sekasar ini? Padahal Bundanya sangat lembut. Dan kenapa Langit memiliki sikap yang tak acuh, padahal Bundanya sangat peduli. Aku yakin Ayah Langit juga orang baik.


Aku sedikit bernafas lega, saat mengetahui yang sebenarnya. Ternyata bukan Langit yang mengganti pakaianku, tapi Bundanya. Tadi Bunda Langit yang memberitahuku.


Aku tersadar akan pikiranku, segera saja aku menoleh dan menatap Langit yang nampak serius menatap lurus ke depan.


Ciptaan Tuhan yang sangat sempurna dalam ukuran manusia normal. Dengan alis tebal, hidung mancung, mata indah berkilauan, bulu mata agak lentik, bibir merah alami dan itu semua di dukung oleh rahang kokohnya.


"Lo gak usah baper, apa perlu gue ingetin lagi kalau hubungan kita itu hanya status?!"


"Aku tahu," singkat ku, meski rasanya aku sedikit tak rela.


"Jangan pernah lo buat gue susah lagi!"


"Iya."


"Jangan pernah lo buat gue malu!"


Aku terdiam, apa dia malu mempunyai pacar sepertiku. Lagi-lagi aku hanya mengangguk.


Karena ada saatnya, tahu diri itu penting.


"Jangan pernah lo ngebantah apa yang gue perintah, lo ngerti?"


"Ngerti,"


"Coba ulangi apa yang tadi gue bilang!"


"Aku gak akan buat kamu susah, gak akan buat kamu malu dan gak akan ngebantah perintah kamu."


"Gue mau, kalimat itu selalu lo ucapin pas kita ketemu. Dan lo bakal dapat hukuman kalau sewaktu-waktu lo lupa."


"Hukuman?" tanya ku ragu. Takut jika pendengaran ku sedikit terganggu.


"Hmm." Langit berdehem lalu kembali fokus mengemudi.


"Hukumannya apa?" tanyaku penasaran.


"Tapi,"


"Lo gak inget tentang peraturan tadi? Huh? Apa lo mau dapat hukuman sekarang?!"


"Nggak." kata ku cepat dan memalingkan wajah ku.


Mengapa kisah percintaan ku setragis ini? Rasanya aku bodoh menuruti Langit, tapi aku harus apa. Rasa cinta ku mengalahkan semuanya.


Harapan ku akan Langit membalas perasaanku sangat besar. Tapi rasanya itu mungkin kemustahilan.


"Alamat lo?"


Aku langsung menyebutkan alamat ku dan suasana kembali hening.


Hujan masih turun lebat dan itu membuat cemas. Bagaimana dengan Angga? Apa dia baik-baik saja? Apa dia sudah makan? Dan bagaimana dengan Ibu Lili? Apa dia akan marah karena aku tidak datang bekerja?


Rasanya memikirkan itu kepalaku ingin pecah.


Tangan ku menarik kemeja yang ku gunakan untuk menutupi paha ku yang sedikit terekspos, di tambah lagi luka di lutut ku yang masih terperban juga ikut terlihat.


Aku berdecak sebal, kemeja ini memang kebesaran tapi untuk panjangnya ini masih kurang untuk ku.


Karena semakin risih aku meraih tas sekolahku dan menutupi pahaku.


'"Untuk apa lo tutupin, toh gue gak bakal minat sama model tubuh papa kayu kayak gitu."


Mendengar itu emosiku langsung meledak, tapi aku berusaha sabar. Dasar cowok. Dengan tangan mengepal aku berusaha tak menggubris. Jika dia mengataiku papan kayu, maka dia apa pohon kayunya?


"Udah tipis, depan belakang rata lagi." kata Langit benar-benar meremehkanku.


Aku menarik dan menghembuskan nafas dengan kasar.


Entah kenapa aku menjadi benci dengan sebutan papan kayu itu.


Tak terasa, aku sudah sampai di depan kosan ku. Keadaan sudah sepi tapi aku yakin Angga belum tidur.


"Turun sekarang atau gue dorong!" kata Langit dengan datar.


"Terima kasih," tak kunjung mendapat respons, akhirnya aku melepas seatbelt dan membuka pintu mobil perlahan.


Tangan ku pun meraih tas ku dan mulai mengambil ancang-ancang untuk berlari.


Aku menghitung dalam hati dan mulai berlari menerobos air hujan. Meski hanya mengenai tubuh ku sedikit saja. Tapi aku masih bisa merasakan dampaknya. Dengan tergopoh aku mulai mengetuk pintu.


Sebelum pintu terbuka aku menoleh dan di sana tak kulihat Langit lagi.


"Kakak," aku tersenyum melihat Angga. "Ayo masuk kak!"


Angga pun menarik tangan ku dengan pelan. Menuntunku ke kamar ku.


"Kakak tidur yah, besok kan kakak sekolah." Angga menarik selimut dan menyelimuti ku. " Angga mau ngabarin Ibu Lili kalau kakak udah pulang, soalnya tadi Ibu Lili khawatir."


Aku pun mengangguk samar. Ibu Lili atasanku itu memang sangat baik.


Aku merasa tidak enak karena sudah tidak masuk bekerja.


Perlahan mata ku sudah mengantuk. Hingga alam mimpi pun merenggut kesadaran ku.


🌈🌈🌈