
Kamu selalu ahli dalam memberi bahagia tanpa lupa memberi luka. Keduanya kamu lakukan secara bersamaan tanpa peduli akan perasaan.
🌈🌈🌈
Mata ku berbinar bahagia, saat ternyata Langit mengajakku ke kebun binatang. Rasanya tak sabar ingin melihat hewan-hewan yang ada di sana.
"Lo seneng pengen ketemu kembaran lo?"
Alis ku berkerut saat mendengar pertanyaan Langit yang seolah terselip nada mengejek.
Aku mendengus dan menatapnya kesal, "Maksudnya?"
"Monyet." singkatnya sambil menahan tawa.
Aku menggeram dan mencubit perutnya kesal. Lalu berjalan mendahuluinya. Mata ku meneliti hewan-hewan yang ada di kebun binatang itu.
Mata ku terhenti saat melihat beberapa gajah besar yang tengah berendam, "Lihatlah, itu teman mu bukan?!" aku menunjuk gajak itu dengan dagu ku dan tertawa kecil.
Aku mendengar Langit mendengus dan menarik kepala ku lalu mengacak rambut ku asal. Aku berteriak dan meronta.
"Jangan di gituin." rengek ku pelan. Aku sendiri bingung kenapa aku bisa merengek seperti ini.
"Lo lucu."
Aku memegangi pipi ku yang panas, dan bukannya berhenti Langit malah menyentil dahi ku pelan.
"Sakit." dengus ku dan berbalik membelakanginya. Aku samar-samar mendengar dia tertawa. Mendengar tawanya jantungku pun berdegup tak tentu. Tawa itu apa masih bisa ku dengar? Aku berbalik dan menatap Langit sendu.
Tanpa aba-aba aku memeluknya erat. Merasakan aroma tubuh Langit yang dapat membuat ku tenang.
Mati-matian aku menahan air mata ku agar tak jatuh. Apakah aku masih bisa merasakan pelukan ini lagi?
"Dasar monyet, hobinya meluk-meluk..."
Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya dengan sengit.
"Bagaimana jika kita tidak bertemu lagi, apa aku boleh memeluk mu sepuasnya?"
"Otak lo geser yah?"
"Aku serius."
"Selama lo masih ada di bumi, kenapa gak bisa ketemu gue? Lagian kan kita satu sekolahan. ****!"
Untuk yang kedua kalinya dia menyentil dahi ku.
"Bagaimana kalau aku menghilang,"
"Yah berati lo nggak ada."
"Kamu seneng?"
"Seneng."
Hati ku teremas kuat. Apa ku bilang, jika dia pasti akan bahagia dan baik-baik saja jika aku pergi. Dengan senyum terpaksa aku tersenyum samar. Lalu kembali melangkah. Di kebun binatang ini aku banyak melihat hewan-hewan yang lucu dan menggemaskan.
"Lo liat monyet itu, mirip banget sama elo..." Langit menunjuk salah satu monyet yang sedang memeluk ranting pohon sambil menyengir lebar. Aku memasang wajah konyol ku ketika melihat monyet itu.
"Benar kan, lo mirip!" Langit menunjuk-nunjuk wajah ku sambil bergantian menunjuk monyet itu.
Aku mengembangkan pipi ku karena kesal. Sekarang aku sudah mulai tahu sisi lain Langit yang sangat suka menyama-nyamakan orang dengan binatang.
"Gue? Harimau? Sama?"
Aku mengangguk mantap, "Sama-sama ganas." aku mengangkat kedua tangan ku dengan jari-jari tangan terbuka seperti menirukan harimau yang sedang ini mencengkram mangsanya.
"Papan kayu."
"Astaga, kamu mulai lagi memanggil ku papan kayu. Huh dasar batang kayu." sinis ku sambil duduk, kaki ku terasa keram akibat berjalan.
"Lo haus?"
"Menurut kamu?"
"Apa monyet bisa haus?"
Aku menatapnya malas. "Sekarang tentukan, kamu ingin memanggilku monyet atau papan kayu?"
Langit terlihat berpikir, "Pilihan yang menggiurkan, tapi gue lebih suka panggil elo pake nama baru yaitu transparence girl."
Aku menganga mendengar itu. Jika kalian tahu artinya maka kalian akan mengutuk Langit. Sama seperti ku, rasanya aku ingin mencakar mulutnya itu.
"Stupid," racau ku dan mengepal kesal.
Saat Langit pergi, aku pun kembali diam dan merenung. Kenangan kembali ku genggam. Nama panggilan unik itu selalu membuat ku tersenyum-senyum kecil, di mulai dari papan kayu, Langit memanggil ku begitu karena katanya aku itu rata depan belakang. Dan apakah itu benar? Tentu tidak.
Monyet, bahkan dia menyamakanku dengan monyet gara-gara aku sering bergelendotan dan sering menyengir.
Dan yang terakhir, apa-apaan itu. Langit memanggil ku dengan transparence girl jika kalian mau tahu penyebabnya maka aku tidak akan mengatakannya. Itu sangat memalukan.
"Hey transparence girl..." aku menoleh malas saat mendengar panggilan itu. "Berhenti memanggilku dengan sebutan itu."
"Gue suka nama panggilan itu."
Aku mendengus dan menatap tajam ke arah Langit.
Setelah memberiku air minum. Hening pun melanda. Aku masih asik mengamati Langit yang sibuk dengan dunia game-nya.
Ponselnya bergetar dan menandakan ada telepon masuk. Langit menoleh menatap ku sebentar setelah itu fokus pada layar ponselnya.
Raut wajahnya terlihat berubah, ku mengangkat dagu ku sebentar dan mulai mencuri-curi pandang pada penelpon itu. Dan aku tetap tak bisa melihatnya karena Langit menutupinya dengan tangan.
"Gak usah kepo." katanya mengingatkan ku. Aku pun memilih diam sambil menatapnya yang mulai berdiri dan mengangkat telepon itu.
Aku terus saja melihatnya. Memperhatikan raut wajah Langit yang seketika berubah menjadi tegang lalu tergambar jelas raut kekhawatiran di wajahnya itu.
"Gue harus pergi," kata Langit cepat dan mulai berjalan pergi. Aku menahan lengannya, "Kemana?"
"Fana, dia kecelakaan." dari nadanya sudah sangat jelas jika Langit sangat peduli dan khawatir mengenai keadaan Fana.
Hati ku jujur kecewa. Tiba-tiba saja rasa sakit melanda.
"Tapi,"
"Jangan tahan gue." Langit menhempaskan tangan ku dan berlalu dengan cepat.
Sekarang satu fakta baru yang selalu aku harus sadari. Hati Langit tak akan pantas untuk ku tempati. Sebab ruangnya sudah penuh oleh Fana dan Fana.
Semoga saja setelah ini mereka berdua bisa bersama. Yah, setelah aku pergi semua akan kembali normal.
🌈🌈🌈