I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Pertama Kalinya



Untuk pertama kalinya kamu membuat ku terbang melayang. Seakan aku lupa jika aku tengah berada dalam permainan diri mu yang hendak menyakiti.


🌈🌈🌈


Aku melihat Langit menunduk dan menatap ku lekat. Tangannya pun berpindah menahan kedua tangan ku. Hingga aku merasa sangat aneh dengan posisi ini.


Lama-kelamaan Langit pun mendekatkan wajahnya. Aku pun bisa merasakan hembusan nafasnya menerpa wajah ku. Aroma mint pun menguasai indera penciumanku.


Semakin lama semakin dekat, kini wajah ku dengan wajah Langit hanya berjarak beberapa senti saja. Aku melihat Langit sedikit memiringkan wajahnya dan semakin mengikis jarak di antara kami.


Aku tersentak saat aku merasakan sesuatu yang menyapa bibir ku. Aku membulatkan mata ku dengan penuh seraya memberontak tapi Langit seolah mengunci pergerakan tubuh ku dengan kedua tangannya. Seolah tak membiarkan ku untuk lepas.


Aku tak berhenti, aku terus berontak tapi dengan kasar Langit seolah menambah tenanganya dengan mengunci ku membiarkan ciuman ini berlangsung lebih lama.


Mata ku mulai memanas dan cairan bening pun menetes dari pelupuk mata ku. Ini first kiss ku dan Langit merampasnya dengan sangat kasar.


Aku terisak karena aku merasa pasokan udara semakin menipis. Langit pun melepaskan ciumannya dan kami pun terengah-engah, lutut ku pun melemas. Entah kenapa aku merasa sangat lemah.


Tubuh ku pun merosot ke bawah, nafas ku masih terengah. Aku merasa pusing dan sangat sulit menggapai oksigen.


Sebelum semuanya gelap, aku sayup-sayup mendegar suara Langit, "Nyatanya lo payah,"


Setelah itu aku pun tak bisa mendegar apa-apa. Semuanya pun gelap. Aku pingsan.


-I Hope-


Langit menghembuskan nafasnya kasar, dimana dia bisa mendapatkan ketenangan?


Ponselnya dari tadi terus bergetar hebat, menandakan pesan dan telepon berantri untuk masuk dan mengganggu Langit.


Dengan sekali sentakan Langit pun mematikan ponselnya dan melemparnya ke segalah arah di kasurnya.


Langit pun bangkit dan berjalan ke arah balkon kamarnya. Angin malam langsung menyapanya. Langit pun memejamkan matanya.


Hingga suara datang mengagetkannya. "Kakak itu kerjanya ngelamun terus yah?" Langit pun menoleh dan melihat Bundanya tengah tersenyum ke arahnya.


Senyum itu selalu membuatnya damai dan nyaman.


"Bunda undah manggil-manggil kakak dari tadi, tapi kok malah di kacangin." seperti nada merajuk, Bundanya itu bertingkah seperti anak kecil.


"Bunda ngambek ah," Bunda segera menjeda ucapannya seraya ingin berlalu. "Kakak gak niat ngecegah Bunda nih?"


Tawa Langit pun pecah mendegar ocehan Bundanya itu. Hiburan malam yang sangat bermakna.


"Maafin Langit Bunda, Langit tadi lagi merenung." Bunda terlihat mengerutkan alisnya bingung.


"Merenung tentang apa? Tentang status jomblo kakak yang berkepanjangan?" meski bernada ejekan, Langit pun tetap terkekeh pelan.


"Langit gak jomblo Bunda,"


"Memang ini malam minggu, Bun?" Bunda pun terlihat mengangguk.


"Langit kira ini malam sabtu,"


"Efek jomblo ini mah," tawa Bunda dan Langit pecah.


"Ayolah kak, cari pacar. Supaya pas malam minggu Bunda ada temen ngobrol di rumah."


"Ngapain, kan ada Langit yang selalu ada buat Bunda." Bunda terlihat berdecak.


"Kakak sama aja sama Ayah, mau malam minggu hobinya kerja mulu. Bedanya Ayah kamu kerja kantoran di luar dan kamu kerjanya main PS sampai larut di dalam kamar. Huh, dasar cowok." Langit sedikit geli mendengar ucapan Bundanya itu.


"Bunda kalau rindu sama Ayah bilang aja,"


"Bunda mah gak pernah rindu, kan Dilan udah bilang kalau Rindu itu berat jadi Bunda gak mau nyoba, takutnya Bunda gak kuat...heheh.." Langit menggeleng pelan, semua tentang Dilan, dikit-dikit ini berat lah, itu berat lah, kamu gak akan kuat, ini gak akan kuat, biar aku saja. Aduh. Dilan, Dilan.


"Masa bodoh ah, Bunda pengen ke kamar. Mau tidur, bete gak ada temen ngobrol. Punya anak ganteng tapi jomblo. Gak elit," Bunda pun keluar dari kamar Langit seraya mendengus kesal membuat Langit geli.


Dulu, jika malam minggu pasti Fana akan berkunjung. Untuk sekedar memaksa Langit untuk keluar atau sekedar membicarakan resep masakan dengan Bundanya. Tapi saat ini, boro-boro datang. Mungkin untuk sekedar mengingat saja dia tak peduli.


Langit pun menggeleng seraya menghapus ingatan tentang Fana. Untuk apa mengingat orang yang sama sekali tak mengingat mu. Buang-buang waktu saja.


Langit pun memilih bereglut dengan PSnya. Melewati malam minggu dengan bermain PS nyatanya lebih asik di banding berjalan keluar seorang diri.


-I Hope-


Aku menikmati malam minggu ku dengan bekerja di cafe. Kali ini aku tak sendiri aku mengajak adik ku, Angga. Karena berhubung tadi hari sabtu akhirnya aku pun bekerja dari pagi hingga pukul 7 malam.


Malam ini aku telah membuat janji dengan Angga untuk bersama ke taman kota, hanya untuk sekedar refreshing saja.


Melewati malam minggu berdua dengan Angga nyatanya lebih seru.


"Are you ready?" Angga pun mengangguk.


Aku dan Angga pun memilih untuk pergi di saat ini juga, dengan menggunakan motor ku tentunya. Saat sampai di taman, aku dan Angga terduduk di sebuah kursi taman yang lumayan panjang. Kira-kira cukup untuk 4 orang.


Suara dering telpon ku pun memecah keheningan, aku pun menggapainya dan menatap nama si penelpon itu.


Rasanya sangat enggan untuk menjawabnya. Aku menoleh ke arah Angga yang nampak tengah menatap ku. Aku meringis.


"Ayah?" tanya Angga dan aku pun mengangguk.


"Gak usah di angkat kak," Angga merampas telpon ku dan menekan tombol di sebelah kanan lama, hingga benda pipih itu pun berubah menjadi layar hitam.


🌈🌈🌈