
Aku rela kamu bersamanya, rela kamu dekat dengannya, tapi sayangnya itu hanya kehohongan. Sebab nyatanya aku tak pernah rela.
🌈🌈🌈
Sudah beberapa hari ini aku tak pernah bertemu dengan Langit, karena aku memang ingin menghindarinya. Memberikan dia ruang agar dia berhasil merebut hati Fana, agar dia dan Fana bisa bersatu. Dan dengan itu Langit bahagia.
Aku membiarkan ombak menghantam kaki ku yang polos tanpa alas. Suara angin seolah bertiup membisikkan sesuatu yang meski ku sadari aku tak bisa mengartikannya.
Kini aku berdiri sambil memegang botol kaca yang berisi gulungan kertas. Setelah menutupnya rapat aku sedikit melangkah mundur dan kemudian maju lagi tangan ku terayun ke belakang dan membuang botol itu ke tengah laut. Membiarkan botol itu terbawa ke suatu tempat yang entah di mana.
Apa kisah kita harus berakhir singkat seperti ini? Tanpa ada kenangan yang berarti bahkan lebih banyak aku merasa sakit hati.
Aku memejamkan mata ku sembari merentangkan tangan ku merasakan setiap tiupan angin yang membuat ku sedikit merasa lega.
Bisakah berikan cara agar aku bisa dengan mudah melepaskan?
Aku ingin semua tak dilibatkan dengan kebencian.
Hingga ide gila muncul dalam pikiran ku. Jika Langit memang tak mau menoreh kan satu kenangan dalam hidup ku maka aku yang akan memberikannya kenangan kecil agar setidaknya dia bisa mengingat ku kelak. Bahkan ketika di antara mereka sudah tak ada hubungan yang berarti.
"Ternyata lo di sini?"
Aku menoleh dan melihat Langit yang berjalan mendekat ke arah ku.
Aku memejamkan mata dan mulai merapalkan mantera penyelamat ku.
"Aku gak akan buat kamu susah, gak akan buat kamu malu dan gak akan ngebantah perintah kamu."
"Lo mau bunuh diri?" ketusnya pada ku.
"Itu mungkin lebih baik daripada elo selalu buat gue susah."
Aku menarik nafas pelan. Jika begitu, itu sama saja jika dia menginginkan aku mati.
"Aku kira kamu lagi sama Fana," kata ku mengalihkan pembicaraan.
Langit pun mengikis jarak di antara kami. Kedua tangannya dia lingkarkan di pinggang ku.
"Kenapa gue harus sama dia?"
Langit seolah mengajak ku berdansa di pinggir pantai ini. Membiarkan angin mengalun indah membuat anak rambut ku berterbangan. Semakin lama jarak semakin menipis di antara kami.
"Karena kamu suka sama Fana, kan?" aku melihat wajah Langit tak berubah saat aku mengatakan itu. Padahal aku berusaha menahan tangis.
"Kalau iya, kenapa?" katanya itu kelewat santai.
Dan aku baru tersadar jika aku dan Langit benar-benar berdansa di bibir pantai ini. Berputar, melangkah ke kanan, kiri, maju, mundur dan kembali berputar.
Bahkan jejak kaki kami tak mampu bertahan lama, karena ombak menghapusnya dengan perlahan.
"Bukannya ini kesempatan. Kamu bisa PDKT dengan Fana, kan dia baru putus dengan Erick."
"Lo mau gue selingkuh?"
"Kalau itu buat kamu bahagia, yaudah lakuin!"
Langit seolah ingin membunuh ku dengan tatapan tajamnya itu. Jadi aku lebih memilih kembali bungkam.
Lama.
Kami seolah terbuai dengan suasana yang sangat mendukung.
"Aww..." tapi suara Langit yang meringis membuat ku berjinjit.
Aduh, ini sangat merusak suasana. Tanpa sengaja aku menginjak kaki Langit.
"Lo itu emang payah yah?" ketus Langit dan mengangkat tubuh ku seperti anak bayi. Yang tak memiliki berat badan yang memadai.
Sangat enteng.
"Lo harus di hukum,"
Apa lagi ini? Semakin lama, Langit semakin ke tengah.
"Mau ngapain?" teriak ku nyaring dan gemetar.
Kenapa Langit selalu berubah-ubah seperti ini.
Byur...
Aku kira aku akan tenggelam di tengah laut. Tapi ternyata Langit malah sengaja menenggelamkan diri kami secara bersamaan. Hingga aku seperti anak monyet yang bergelantungan di leher Langit.
Tangan Langit pun memegang pinggangku erat. Lalu kembali menenggelamkan diri kami lagi.
"Kamu mau membunuh ku?"
Langit diam, menatap ku dalam.
"Kurasa,"
Aku menggeleng tak percaya. Selera humornya sangat rendah. Rencana pembunuhan pacar sendiri itu tidak berfaedah.
"Aku mau naik," kata ku dan bergerak menjauh darinya. Tapi bukannya ke tepi aku malah tenggelam.
Lalu sejenak aku teringat jika aku tak bisa berenang. Aku meronta-ronta dalam air, tapi Langit sama sekali tak berniat menolongku. Apa benar dia ingin membunuh ku.
"To....long," kata ku terbata-bata, karena aku benar-benar susah menggapai oksigen hingga aku hanya bisa menguap-nguap bagaikan ikan mujair.
"Katanya lo mau naik, yaudah naik!" aku mendengar ucapan Langit yang sangat tajam.
Lalu aku sudah tidak bisa melihat di mana Langit sekarang. Itu gila, kalau dia sampai benar-benar meninggalkan ku di tengah laut.
Awas saja kalau aku mati konyol di tengah laut. Aku berjanji akan menghantuinya.
"Argh...." aku menjerit tak karuan saat ada yang menarik ku kebawa air. Apa itu ikan hiu? Atau apalah, aku takut.
Aku terus meronta saat berada di dalam air. Ingin membuka mata tapi aku tak berani. Hingga ada sepasang tangan kokoh yang memegang erat pinggangku dan membawa ku muncul ke permukaan air.
"Berisik!" dengus Langit saat setengah dari tubuh kami sudah muncul di permukaan.
Aku yang merasa tak peduli langsung melepaskan diri dari kedua tangan Langit dan memegang pundak Langit.
Setelah itu aku naik ke atas punggung Langit dan mengalungkan tangan ku di sana. Karena menurut ku jika berada pada posisi sebelumnya nyawa ku bisa di pertaruhkan oleh Langit.
"Lo ngapain?"
"Aku mau naik,"
"Gila."
"Kamu yang..." aku membekap mulut ku, hampir saja aku keceplosan mengatainya gila.
🌈🌈🌈