I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Problem



Langit benar-benar kehabisan batas kesabaran. Selalu ada yang mengujinya di setiap hari. Dan kali ini sangat keterlaluan.


Sebuah fakta terungkap.


Tangan Langit mengepal kuat. Sudah terlalu lama pria tua itu menyiksa. Membuat wanitanya tersiksa. Langit hanya bisa menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya.


Langkah Langit melebar dan kembali menghampiri wanitanya yang sudah sibuk menata breakfast di meja makan mini.


Sekarang tak akan ada lagi yang harus Langit tutup-tutupi. Bahkan untuk kepura-puraannya selama ini nyatanya harus berakhir di sini. Secepat ini. Untungnya sebab Langit tak sanggup berpura-pura tak peduli, padahal nyatanya Langit adalah sosok terdepan yang paling memprioritsakan wanita itu.


Wanita itu tersenyum manis ke arah Langit. Membuat pertahanan Langit terasa runtuh. Senyumnya masih sama, masih sehangat dekap peluknya yang selalu Langit rindukan.


Langit mati-matian menahan diri untuk tidak mendekap wanita itu di sini. Bahkan dalam breakfast kali ini, keduanya sama-sama terdiam. Langit sendiri sudah mempersiapkan semuanya dengan baik.


🌈🌈🌈


Aku menatap suasana rumah dengan takut-takut. Di samping ku ada lelaki tegap yang selalu setia menggenggam tangan ku, meski dia selalu mengatakan membenci ku. Tapi dari sikapnya tak menunjukan apa yang dia katakan. Semuanya berbalik. Selama beberapa hari ini, aku merasa hidup di istana. Langit, lelaki itu memperlakukan ku layaknya tuan putri.


Selalu sama, rasanya masih sama saat lelaki itu menggenggam tanganku erat. Bahkan lidah ku pun terasa keluh karena aku hanya bisa menatapnya sembunyi-sembunyi dan tak berani membuka pembicaraan terlebih dahulu.


Pintu utama terbuka. Menampakkan ayah dan ibu tiri ku. Disana juga ada Angga dan Andre yang tengah menatap ku dengan senyuman.


Aku menarik nafas lega, karena keduanya masih baik-baik saja.


Angga dan Andre mendekat, Langit pun melepaskan tangan ku membiarkan ku melepas rindu dengan keduanya.


"Selamat datang tuan Elmelgantara." sapa Ayah ku dan langsung mempersilahkan Langit masuk. Tapi Langit menatap ku dan mengisyaratkan agar aku juga masuk.


Aku merasa ada yang aneh dengan kelakuannya hari ini. Hari ini dia terlalu banyak senyum. Aku sampe mengira Langit itu mabuk. Tapi saat aku bertanya dia malah mengatakan,


"Kamu kenapa senyum-senyum begitu? Lagi mabuk yah?"


"Iya, aku mabuk  karena mencintaimu."


Aishh, ketika mengingat percakapan ku itu membuat pipi ku seketika memanas. Aku menggigit bibir ku pelan, yah aku menahan senyum.


Ucapannya tadi itu membuat ku merasa tak karuan. Hatiku jelas berdebar cepat. Rasanya ada ribuan kupu-kupu yang ada di perutku.


Manis sekali.


"Kenapa kau tersenyum begitu?"


"Ah, kenapa?" aku tersentak saat Langit membisikkan sesuatu tepat di telinga ku.


Langit tersenyum dan mengelus rambut ku lembut. "Kau manis malam ini."


Jika ini berlebihan. Tapi rasa-rasanya aku ingin tertawa keras. Rasa bahagia ku meluap. Bahkan kata-katanya sesederhana itu tapi bisa memberi dampak yang berlebih untuk hati dan perasaan ku.


"Jadi apa tujuan Anda kemari!" ayah ku membuka suara. Membuat Langit dan aku memfokuskan pandangan ke arah ayah.


"Sederhana." singkat Langit membuat ku mengerutkan alis ku bingung.


Bahkan bukan hanya aku yang bingung, semua yang ada di sini pun ikut bingung.


Ayah ku pun kembali membuka suara, meski dengan keadaan yang masih membingungkan. "Maksud Anda?"


Ibu tiri ku pun menatap ku dalam dan tajam. Entahlah tapi aku merinding melihat tatapan itu. Tanpa sadar aku meremas lengan Langit dan aku menunduk dalam.


Langit juga mengerti akan ketakutan wanitanya ini. Perempuan tua itu memang memiliki wajah polos tapi jangan salah dia berkelakuan licik.


Melihat wanitanya menunduk dalam, Langit langsung memeluk pinggang wanitanya dengan lembut.


Aku yang merasakan Langit memelukku langsung terdiam. Meski tak dapat di pungkiri jika aku merasa nyaman saat berada di dekatnya.


"Sebenarnya apa yang Anda maksud?"


"Sebuah kebenaran saja."


Aku yang semakin bingung dengan pembahasan mereka langsung mendonggak menatap Langit meminta penjelasan. Apa yang sedang orang-orang bahas. Mengapa topik pembicaraan ini terasa asing di telinga ku.


Bibi Arum datang dengan membawa nampan yang berisi minuman. Langit tersenyum melihat kedatangan bibi Arum. Sesuai dengan rancana.


"Apa bibi Arum bisa menceritakannya? Kurasa bibi Arum bisa lebih jujur dari kedua orang bertopeng di depan saya ini!"


Aku semakin menautkan alisku bingung. Ayah pun langsung bangkit dari duduknya di ikuti dengan yang lain.


"Anda jangan kurang ajar! Sekarang keluar!"


Langit mengepalkan tangannya kuat. Sudah cukup, rasa bencinya kepada dua orang itu membuatnya menjadi jahat hari ini.


"Bibi..." lirih ku dan mendekat ke arah bibi Arum.


Bibi Arum langsung memelukku sebelum memulai ceritanya, bahkan aku tak tahu sejak kapan ada polisi di sini. Yang ku tahu polisi sudah mengepung ini, dan memborgol tangan ayah dan ibu tiri ku.


"Dia bukan ayah kandung non Agel,"


Hati ku merasa sesak seketika. Kebenaran ini membuat ku tak percaya. Beribu tanya dalam diri ku membuat ku ragu akan kebenaran ini.


"Nggak." aku menatap ayah dengan menggeleng.


Tak jauh beda dengan Angga dan Andre, dia juga terlihat kaget sama seperti ku.


"Itu bener non, jadi sebenarnya ayah non Agel dan tuan Andre itu kembar. Ayah non Agel namanya Ruddy Chartill Dan ayah non Agel meninggal pas kecelakaan mobil beberapa tahun lalu. Dan kecelakaan itu ngebuat ayah non Agel luka parah tapi masih sempat di bawa ke rumah sakit. Saat di rumah sakit ayah non Agel berpesan sama ayah tuan Andre buat gantiin posisi ayah non Agel." Bibi Arum menjeda ucapannya, saat melihat bulir air mata Agel menetes di pipinya.


"Awalnya ayah tuan Andre gak setuju. Tapi tuan Ruddy bilang kalau ayah tuan Andre bersedia maka semua harta tuan Ruddy akan diatas namakan untuk ayah tuan Andre. Setelah itu ayah tuan Andre setuju. Dan, tuan Ruddy minta tolong jagain mama non Agel yang sedang hamil den Angga."


"Dan sebenarnya, mama non Agel gak tahu tentang ini. Sampe pada akhirnya hari itu tiba. Mama non Agel,"


"Stop bi...stop!"


Kelemahan seorang anak, ketika waktu kembali menarik paksa ingatan pedih di masa lalu. Masa saat kehilangan sosok terhebat dalam hidupnya.


Aku tidak sanggup jika harus membahas itu lagi. Sudah cukup kenyataan ini yang membuat ku terbuang jauh hingga ke suatu tempat yang membuat ku merasa terkucilkan saat ini.


Air mata ku menalir deras, bersamaan dengan teriakan ibu tiri ku yang seolah membuatku tersadar akan apa yang dia rasakan selama ini.


"Kau dengar itu, kau dan mama mu itu sangat menganggu."


"Maafkan aku bu." aku berjalan mendekat ke arah ibu tiri ku dan bersimpuh di kakinya.


Langit yang melihat itu berusaha menahan diri dan emosinya.


"Maafkan aku bu, aku dan mama tidak bermaksud merusak kebahagiaan mu. Sungguh aku tidak bermaksud. Meski ibu tidak melahirkan ku, tapi ibu telah membesarkan ku. Meski ibu selama ini membenci ku tapi aku sekarang tahu alasan ibu melakukan ini kepada ku. Aku mengerti bu, kumohon maafkan aku..." air mata ku terus mengalir deras bersamaan dengan isakan pilu ku.


Aku terus memohon dengan lirih, bahkan saat aku merasakan tangan Langit memelukku. Aku masih tak bergeming dan terus saja menangis dan memohon.


Langit tentu tak bisa melihat wanitanya seperti ini. Meski nyatanya semenyakitkan itu. Tapi tugas Langit adalah membuat wanitanya itu bahagia. Bukan malah melihatnya bersedih seperti ini. Tentu saja Langit tak akan sanggup. Langit pun memeluk wanitanya dengan erat. Memaksanya agar bangkit.


"Aku yang meminta maaf." Arena mengatakan itu dengan lirih dengan tundukan yang dalam, rasa bersalah tentu menghantuinya.


Arena-- nama ibu tiri Agel.


Arena yang melihat itu entah mengapa hatinya sedikit tersentuh atas permintaan maaf anak yang selama ini dia benci.


🌈🌈🌈