
Kamu sebenarnya hanya datang untuk menyakiti, menoreh luka lalu pergi lagi. Hal itu akan terus berulang bahkan aku tak mampu mengindari, meski tahu aku sedang dalam permainan.
πππ
Aku masih mematung di tempatku merasakan setiap bulir-bulir hujan yang seolah memaksaku untuk tumbang.
Rasa sakit yang amat membunuh rasanya menghantam tubuhku, seolah ingin membuatku menghilang dari dunia ini.
Teriakan, tangisan dan rintihanΒ masa lalu memekik telingaku. Bayangan itu datang lagi. Semakin lama kepalaku semakin berdenyut dan serasa ingin pecah.
Aroma tanah saat hujan tercium oleh hidungku, hingga aku merasa sesak sendiri. Tanganku meremas keras ujung rok ku yang sudah basah.
Untuk mencegah bayangan itu datang, aku sengaja memejamkan mataku kuat. Namun sayang, bayangan itu tetap datang. Hingga membuat air mataku jatuh dan berbaur dengan air hujan.
"Mama," lirih ku dan seketika kegelapan menyelimuti diri ku. Membuat ku tak mampu berkutik.
"Bangun!"
Tepukan yang mendarat di pipi cewek itu tak mampu membuatnya tersadar. Apa dia selemah itu?
"Nyusahin," dengus Langit dan membopong tubuh cewek yang baru beberapa jam lalu menjadi pacarnya.
Niat Langit memang ingin meninggalkan cewek itu, tapi Langit sadar jika ini di tempat umum. Langit tidak mau pandangan orang-orang menjadi jelek kepadanya. Image-nya harus selalu ia jaga.
Dengan santai tubuh cewek itu ia bawa masuk ke dalam mobil. Langit menggerutu kesal selama dalam perjalanan. Tubuhnya basah kuyup gara-gara cewek ini pingsan di tengah jalan.
Padahal baru sekitar 5 menit yang lalu tubuhnya terkena hujan, tapi sudah jatuh pingsan. Dasar cewek lemah.
πππ
Langit sendiri merasa geram saat dia sampai di rumahnya. Bundanya itu memarahi Langit tanpa jeda dengan kata-kata yang sama yang diulang sampai beberapa kali.
"Kakak ini cowok, tapi kenapa gak punya tanggung jawab. Buat anak orang sampe pingsan gini," omel Bunda sambil menatap Langit dengan berang.
"Kakak kenapa malah matung di situ? Bawa dia masuk ke kamar!"
"Dia pasti kedinginan."
Langit memutar bola mata jengah, bukannya Bundanya yang menghalang langkahnya.
"Bawa dia ke kamar kakak, Bunda mau buat sup dulu."
Setelah itu Bunda berlalu tapi belum sempat Langit melanjutkan langkahnya Langit mendengar teriakan Bundanya yang nyaring.
"Kakak jangan macam-macam yah!"
Langit menggeram, lagipula siapa yang ingin macam-macam dengan cewek berbody papan kayu ini. Dengan badan tipis yang depan belakang rata. Sama sekali Langit tak tertarik.
Saat sampai di kamar, Langit menurunkan cewek itu. Lalu menarik nafas kasar.
Mata tajam Langit meneliti keseluruhan tubuh cewek itu. Lantas terhenti saat Langit melihat seragam cewek yang berstatus pacarnya itu basah hingga menjadi transparan. Apa yang tak ingin Langit lihat pun terlihat dengan samar.
Dengan cepat Langit menyibak selimut, hingga menutupi tubuh cewek itu sampai sebatas leher. Lalu Langit berjalan ke arah kamar mandi untuk mengganti pakaian.
πππ
Berselang beberapa menit, aku mulai tersadar dan mengerjap-ngerjapkan mataku pelan. Kepalaku masih berat. Tapi aku memaksakan agar mataku terbuka secara normal.
Aku menatap sekeliling dengan heran. Ini dimana? Sepertinya tadi seingatku aku pingsan di pinggir jalan karena tubuhku terguyur hujan lebat.
Aku bergerak tak nyaman saat aku merasakan jika pakaikanku serasa tak basah. Aku pun menyibak selimut yang menutupi tubuhku. Dan betapa kagetnya aku saat aku melihat bahwa seragam ku sudah berganti dengan kemeja kotak-kotak berwarna merah, yang menutupi tubuhku hingga hampir menyapa lutut ku.
Kemeja ini sangat kebesaran untuk ukuran tubuh ku yang bisa di bilang mungil.
Tapi siapa yang sudah menggantinya?
"Udah sadar?" aku tersentak mendengar suara berat itu.
"Langit?!"
Mata ku membulat penuh saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut Langit dengan santainya.
"Apa lo seneng denger itu," kata Langit dengan senyum meremehkan.
Dia mendekat ke arah ku dan aku langsung was-was. Takut jika Langit akan melakukan hal yang tidak-tidak.
"Kenapa, lo takut?"
Aku tak menjawab tapi nafasku sudah tersenggal-senggal. Saat Langit sudah tepat ada di dekat ku, perlahan wajahnya kian mendekat.
Seraya membisikkan rentetan kata yang membuatku merasa semakin gugup, " Lain kali jangan lupa pake baju dalam atau kaos dulu sebelum lo pakai seragam. Karena pas seragam lo basah itu jadi transparan sampe pakaian dalam lo itu keliatan,"
Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Malu rasanya.
"Iya, kalau badan lo bagus. Ini malah kayak papan kayu yang tipis, depan belakang rata." sambung Langit dengan senyum devilnya.
Aku bergidik ngeri melihat Langit. Satu sisi hati ku remuk saat dia menghina tubuhku dengan mengatakan jika tubuhku itu seperti papan kayu yang tipis, depan belakang rata.
"Langit Elmelgantara!" entah kapan pintu terbuka. Hingga suara teriakan mendominasi di kamar ini.
Aku mendonggak dan melihat wanita paruh baya yang tengah menatap dengan tatapan menyelidik. Di tangannya dia memegang mangkok yang entah berisi apa.
"Bunda," pelan Langit, tapi aku masih bisa mendengarnya.
Jadi itu Bundanya Langit.
"Kakak jangan macam-macam yah!" Bunda Langit menunjuk-nunjuk Langit dengan kesal.
"Awas aja kalau macam-macam, Bunda akan ngehukum Langit."
"Langit berhak ngelakuin apa aja Bun,"
Bunda mendekat dan mengetuk kepala Langit dengan keras.
"Emang kakak siapanya?"
"Pacar." singkat Langit membuat Bunda terlihat bahagia.
"Pacar? Kalian pacaran?" heboh Bunda Langit dan itu membuat ku heran.
"Iya Bun," singkat Langit dengan santai. Sementara aku sudah mulai gugup.
"Namanya siapa?" tanya Bunda ke Langit, tapi Langit hanya diam.
Jujur. Langit tak tahu siapa nama pacarnya itu.
"Tanya sendiri aja, Bun." Bunda pun terlihat menatapku dengan senyuman mengembang.
"Nama kamu siapa?" tanya Bunda dan meraih kedua tanganku. Mengusapnya lembut.
Aku jadi merindukan sosok seseorang.
"Avagella Chartill, panggil Agel aja tante." singkat ku dan mendapat elusan di kedua pipiku oleh Bunda Langit.
"Kamu cantik, manis lagi. Pantes aja Langit suka." aku menunduk karena malu. Tapi sungguh pujian itu berlebihan.
"Kamu nginep di sini yah?" pinta Bunda dengan memelas, aku terdiam.
"Bunda apaan sih?"
"Siapa yang ngomong sama kakak, Bunda ngomong sama Agel." ketus Bunda dan kembali tersenyum ke arahku.
Sementara Langit hanya menggeleng dengan kelakuan Bundanya itu.
πππ