
Kamu seolah menyesali keputusanmu setelah menyakitiku. Haruskah ku kembali? Untuk mengulang cerita yang belum usai, atau memilih pergi dan membuka lembar baru dan membuat cerita baru.
🌈🌈🌈
Langit memukul stir mobilnya kuat. Mengapa ia bisa menjadi bodoh di saat seperti ini. Mengapa rasa pedulinya membuatnya lupa jika saat ini ia tengah bersama dengan Agel.
Bodohnya lagi karena lagi dan lagi harus melukai hati cewek itu. Cewek yang selalu ada untuknya meski selalu dia beri luka.
Mulai sekarang, Langit memutuskan untuk berhenti peduli. Mengubur dalam rasa untuk Fana, sebab ia sadar posisinya hanyalah sebatas sahabat. Meski terkesan memaksa untuk mematikan tapi itulah dayanya. Salah besar jika Langit mengatakan bahwa Fana tak lagi mengisi hatinya. Salah. Sebab nyatanya Fana memiliki ruang tersendiri di hatinya. Tapi harus di garis bawahi. Bukan ruang untuk menjadi kasih dan cinta, namun hanya sebatas sahabat yang selalu harus ia jaga.
Entah sejak kapan rasa itu menguap entah kemana. Yang Langit tahu, semua itu terasa hampa, sunyi dan senyap. Tak ada lagi rasa yang berlebih untuk Fana. Semua hanya sampai standar, standar persahabatan. Hapus, semuanya sudah terhapus hingga bersih. Rasa cinta itu seolah sirna di telan waktu.
Waktu yang seolah berpihak pada satu cewek yang sebenarnya sudah lama merenggut hati Langit secara paksa. Cewek itu sekarang bukan lagi miliknya, di antara mereka sudah tak ada nama yang mengalaskan hubungan. Ada rasa aneh saat cewek itu memutuskan untuk mengakhiri semua. Tapi Langit terlalu payah untuk menolak.
Dan sekarang kesalahan yang hampir sama ia lakukan, lagi dan lagi. Menyakiti hati cewek yang menjadi cintanya sekarang. Cinta yang Langit harap bisa membuatnya bahagia di sisa umurnya.
Dan semoga saja tak ada kata terlambat untuk semua.
Langit memutar kembali mobilnya, rasa bersalah membuatnya hilang kendali. Bahkan mengemudi mobil pun ia tak becus. Hampir saja mobil yang Langit kemudikan menabrak mobil sport berwarna hitam mengkilat yang ada di depan.
Lampu merah membuat Langit mendesah panjang. Perasaannya tiba-tiba kalut dan bercabang. Seusai lampu merah, macet panjang pun terjadi. Langit kembali memukul stir mobilnya entah untuk yang ke berapa kalinya.
Sumpah serapah berbaris rapih keluar dari mulut Langit. Setidaknya bisa beri Langit sedikit jalan untuk menemui cintanya.
Cinta, yah. Langit akui dengan jelas jika hatinya dibuat cair oleh cewek yang bernama Avagella Chartill itu. Cewek itu seolah-olah menjadi magnet yang membuat Langit tertarik.
"Agel." Langit mengetuk pintu kosan Agel dengan tak sabaran. Rasanya terlalu menggebu. Andai saja di sekitar kosan itu sepi, Langit yakin pasti pintu ini sudah tak berbentuk lagi.
Malam datang, angin pun menyapa tubuh Langit. Dingin, itulah yang dapat Langit rasakan.
Kos-an ini sama sekali tak memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Sepi senyap, itulah suasana di kos-an Agel.
Langit pun memilih merosotkan dirinya ke lantai dan menyandarkan tubuhnya ke pintu dan tangannya meraup rambutnya kasar.
Detik, menit dan jam berlalu dengan sangat cepat. Tapi Langit masih membetahkan dirinya untuk menunggu di luar. Suasana sekitar semakin nampak sepi. Bahkan amat sangat sepi.
Langit bangkit dan bergegas pergi, mungkin saja cewek itu marah dan tidak mau menemuinya. Bisa saja.
Langit memang merasa jahat sebab telah menyakiti cewek itu lagi dan lagi.
Baiklah sekarang Langit sadar jika perasaan asing itu merenggut sadarnya membawanya pergi tanpa permisi. Dan sekarang saat Langit sudah bisa memberi nama akan rasanya itu, semoga saja waktu tak mempersulit.
Langit menatap lekat kos-an sepi itu kemudian masuk ke dalam mobil dan langsung merenggang pergi.
Tak memerlukan waktu Langit pun sampai di rumahnya. Keadaan sangat berbalik dari kos-an Agel. Rumah Langit terlihat ramai.
Ayahnya, hari ini pulang ke rumah. Setelah sekian lama pergi akhirnya Ayahnya ingat pulang. Laki-laki berumur itu sangat doyan kerja.
Dengan cepat Langit pun melangkahkan kakinya memasuki rumahnya. Saat masuk ke dalam, pelukan hangat pun mendekap tubuh Langit. Langit merindukan sosok laki-laki ini.
"Jagoan." Ayah Langit menepuk pelan punggung Langit. Seolah-olah itulah bentuk rasa yang ingin laki-laki tua itu sampaikan. "Ayah merindukanmu."
"Aku juga, Ayah!"
Bahagia pun mendominasi di malam ini.
Meski tak akan ada yang menyadari jika ada yang pergi saat ada yang datang. Ada yang sedih di saat ada yang bahagia. Dan ada yang menangis di saat ada yang tertawa. Itulah hidup. Penuh dengan rasa yang berlebih.
🌈🌈🌈