I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Keputusan Sulit



Dalam hidup, saat ada yang datang maka akan ada yang pergi.


🌈🌈🌈


Tak ada yang lebih sulit dari keputusan yang ku ambil saat ini. Tepat beberapa waktu lalu saat akhir pertemuan ku dengan Langit, suruhan ayah ku datang dan membawa ku pergi. Jauh ke tempat sunyi dan sepi.


Keputusan tersulit itu datang saat aku harus meninggalkannya, meninggalkan cinta ku.


Aku sempat bertemu dengannya saat aku datang ke sekolah lama ku untuk mengurus surat pindah ku. Dan parahnya aku malah memberinya luka dengan mengatakan jika aku tak mengenalnya.


Aku jujur tak bisa mengatakan itu, namun itu untuk kebaikannya. Hidupnya masih panjang. Masih banyak hal yang bisa Langit raih termasuk mendapatkan cinta yang dia inginkan.


Aku tak akan pernah berarti dalam hidupnya sebab dia telah memilih orang lain. Dan orang lain itu bukan aku.


Tak ada yang bisa ku lakukan saat ini selain melindunginya dari kejauhan. Mungkin dia telah membenci ku lebih dalam karena waktu itu aku tak mau mengenalinya.


Semua akan baik-baik saja. Tapi tidak dengan hidup ku.


Aku tinggal di sebuah rumah mewah tapi merupakan neraka dunia yang perlahan ingin merenggut nyawa ku dengan paksa.


Awalnya aku berniat ingin kabur dari tempat ini, namun ayah kembali mengancamku.


"Pergi saja, jika kamu mau adik mu tewas sama seperti Mama mu yang bodoh itu."


Setelah itu aku pun benar-benar tak bisa berbuat apa-apa, aku lelah bukan hanya fisik tapi hati juga.


Kondisiku jauh dari kata baik, setelah pindah sekolah aku pun melanjutkan sekolah ku hingga tamat. Aku ingin sekali kuliah tapi ayah ku kembali mengancam.


"Kuliah? Kamu pikir itu akan berguna untuk mu? Tidak, dasar bodoh. Tapi jika kamu masih memaksa untuk kuliah maka Angga harus berhenti bersekolah. Apa kamu mau Angga putus sekolah?"


Aku langsung menggeleng saat itu. Biarkan saja masa depan ku hancur bersama dengan diri ku, tapi untuk Angga aku tidak akan membiarkan harapan dan masa depannya hancur.


Meski harus merenggangkan nyawa, tak apa asal Angga tetap bisa baik-baik saja dan dengan hidup yang terjamin.


Air mata ku kembali mengalir deras, mata ku benar-benar sembab. Tak ada sehari pun aku lewatkan tanpa menangis.


Mata ku menatap pantulan diri ku di depan cermin. Tiba-tiba saja aku tersenyum miris, sekarang aku benar-benar seperti papan kayu.


Papan kayu, ingatkah tentang dua kata menyebalkan yang selalu di lontarkan dari mulut Langit. Entah bagaimana kabar lelaki itu sekarang. Yang bisa aku rasakan, lelaki itu pasti bahagia di sana.


Bahkan Angga dan Andre sangat kesusahan untuk bertemu dengan ku.


Ayah ku memang sangat kejam. Terkesan seperti ingin membunuhku tapi dia lebih banyak menyiksa ku. Padahal aku selalu meminta dan bersimpuh di kakinya untuk menghabisi nyawa ku saja. Daripada aku harus menderita seperti ini.


Luka dan lebam memenuhi tubuh ku yang semakin hari semakin kurus. Sangat menyedihkan.


Ayah ku memang selalu berkata kasar pada ku tapi belum pernah beliau memukuli ku dengan parah. Paling parah beliau hanya menampar ku saja.   


Berbeda dengan ibu tiri ku, setiap hari rasanya dia tidak pernah meninggalkan diri ku tanpa membuat karya tangan di tubuh ku. Baik itu luka lebam akibat pukulan, cakaran,  goresan pisau atau silet. Rasa perihnya jelas membuat ku merasa semakin menyedihkan tapi ibu tiri ku itu sama sekali tak mau peduli.


Selama sehari dia bisa melukai ku selama beberapa kali, tergantung seberapa sering dia datang ke kamar ku.


Aku juga tidak tahu apa yang mereka inginkan, jika niat utamanya ingin membunuhku maka gampang. Langsung saja bunuh aku dan dengan itu aku tidak akan merasakan siksaan yang sangat melelahkan tiap harinya.


Makanan pagi tadi masih tidak tersentuh, padahal semalam aku tidak mengisi perut ku. Aku tak benar lapar. Rasanya aku ingin mati saja. Semua benar-benar menyedihkan.


Pikiran ku berputar pada beberapa tahun silam. Saat mama ku tengah bersama ku, beliau nampak cantik menggenakam dress yang ku berikan untuknya. Namun tiba-tiba saja maut datang menyapa.


Brakk...


Sosok pria tegap itu masuk ke dalam kamar ku dengan sorotan mata membunuh. Tak lupa setelan pakaian yang serba hitam melekat di tubuhnya. Perlahan namun pasti, pria itu mendekat dan melayangkan tamparan di pipi ku hingga aku terpental.


Tangan ku mengusap ujung bibir ku yang terasa sakit dan sekarang sudah berdarah karena luka sobek.


Tatapan pria itu selalu menuntut lebih, "Bisakah kamu tidak merepotkan ku? Apa susahnya tinggal memakan makanan itu."


Tenggorokan ku tercekat. Untuk apa aku makan. Mau makan atau tidak pun aku akan mati di sini.


"Aku tidak lapar ayah."


"Omong kosong, pelayan bilang tadi malam kamu juga tidak makan." sentaknya dan berlalu keluar dari kamar ku.


Aku pun merasakan rasa sakit yang amat berlebih. Aku lelah. Sangat lelah. Rasa sesak ini membuat ku tak bisa menahan air mata ku. Lalu tangisan pilu mendominasi di ruang kamarku.


Tangan ku memeluk tubuh ku yang menggigil. Sepertinya aku akan mati mengenaskan di tempat ini.


🌈🌈🌈