
Sebab kita tak pernah tahu, bahwa sebuah harapan itu bisa tumbuh tanpa harus di tanam dahulu.
🌈🌈🌈
Aku terus saja mengobrak-abrik tas punggung ku. Berharap, apa yang ku cari dapat ku temui. Dan demi apapun, semua hasilnya nol besar. Pencarian ku sia-sia.
Aku yang tadinya berjongkok di pinggiran lapangan seperti orang bodoh langsung berdiri tanpa memperdulikan isi tasku yang berantakan.
"Pulpen sayang.....cur...cur..." meski mendapat pandangan aneh dari orang-orang aku tak peduli, yang penting pulpenku dapat ditemukan.
Atau apa perlu aku melapor dulu, agar di buatkan pengumuman yang menyatakan bahwa pulpenku hilang? Bukan hal bodoh kan? Itu masuk akal.
Tanpa malu, aku kembali berjongkok dan mulai meraup-raup permukaan rumput yang cukup subur di pinggiran lapangan.
"Aduh, kemana sih?" lagi-lagi aku mendengus. Ini aneh, tapi nyata.
Tadi pagi, sebelum aku berangkat sekolah. Aku sudah memasukkan pulpenku itu ke dalam tas ku. Tapi, pas sekarang aku perlu malah hilang bagai di telan bumi.
Aku memang sangat membutuhkannya sekarang. Tapi kenapa malah tak ada.
"Ambil pulpen gue...," jantung ku berpacu cepat, deru nafasku pun mulai tak teratur. Suara itu sangat menghanyutkan diri ku.
Dengan cepat aku langsung mendonggak dan shit...
Cogan guys!
Aku memekik dalam hati. Itu reflek. Dan itu biasa terjadi.
Pluk...
"Lama," cowok itu pun melayangkan pulpennya ke arah ku. Sakit sih, karena langsung mengenai jidatku. Tapi apalah itu, aku tak peduli. Karena dia itu cowok ganteng.
Tanpa menunggu kesadaran ku yang masih terganggu. Cowok itu melangkah pergi. Menyeret tubuhnya menjauh. Tapi dia melupakan sesuatu. Barusan saja, dia meninggalkan pulpen kepada ku dan tak lupa meninggalkan benih harapan juga.
Dengan senyuman yang mengembang aku meraih pulpen yang ada di rumput dan menggenggamnya erat.
Aku menghirupnya dalam dan harum sekali. Itu aroma dari cowok tadi.
Tanpa mau menunggu lama, aku langsung bangkit dan mengemasi barang-barang ku lalu berlalu ke ruang kelas ku.
Selama dalam perjalanan, mulut ku tak berhenti komat-komit. Memanjatkan doa, semoga saja guru belum mengisi jam pertama.
Dan doa terkabul.
Dari kejauhan aku melihat ibu Rea tengah berjalan dengan santai. Langsung saja aku mengambil jalan pintas dan berlari cepat agar aku bisa mendahuluinya.
Begitupun aku, dengan cepat aku mengeluarkan buku cetak tebal dari tas punggung ku dan mulai membacanya.
Dengan begini, pasti sebentar ibu Rea akan kagum kepada kami semua.
Dan benar saja, saat ibu Rea masuk. Ibu Rea langsung menebar senyum lima jari. Membuat kami semua ikut tersenyum kaku.
Drama yang sangat menyenangkan bukan?!
Selama dua jam pelajaran berlangsung begitu saja. Lancar. Meski banyak yang tak memperhatikan, tapi tetap saja semua berjalan lancar. Hingga waktu yang paling di tunggu pun tiba. Waktu pergantian jam pelajaran.
Paling di tunggu karena dengar-dengar jam selanjutnya akan kosong. Mantap kan?
Dengan senyum mengembang aku menatap lekat pulpen yang di berikan oleh cowok tadi.
Dengan tingkat kekepoan yang tersisa aku pun mulai menjadi spy hari ini.
🌈🌈🌈
Setelah hampir seharian full di sekolah, akhirnya jam pulang pun tiba. Badan ku sudah remuk rasanya, pegal duduk di bangku berjam-jam. Untungnya tadi ada satu jam pelajaran yang kosong. Jadinya aku bisa tiduran di dalam kelas.
Tapi walau begitu, rasa lelah jelas masih terasa. Perut ku pun rasanya sudah meronta minta di beri makanan.
Akibat full day school ini..., coba bayangkan kami hanya di beri waktu beristirahat selama 15 menit. Menyiksa bukan?
Setiap hari Sabtu memang tak masuk ke sekolah. Kecuali, yang memiliki eskul dan untungnya aku tak masuk ekstra kurikuler apapun.
Tapi yang paling parah itu saat hari Jum'at. Sebab aku meninggalkan sekolah pas pukul lima sore. Melelahkan sekali bukan?
Penat sangat terasa dalam diri ku. Tapi mau apa lagi, aku harus ke cafe. Bukan untuk nongkrong tapi aku ingin bekerja.
Sudah satu tahun terakhir ini aku membanting tulang sendiri, dengan bekerja di sebuah cafe sebagai pelayan dan kadang juga aku menjadi pengisi suara di cafe itu dengan bernyanyi. Kebetulannya suara ku juga agak mendingan.
Tapi akhir-akhir ini semuanya nampak terasa semakin melelahkan. Aku benar-benar bekerja dari pulang sekolah hingga larut malam. Dan itu membuat ku kurang istirahat. Ini lah sebabnya aku selalu terlambat bangun. Jadi, aku sudah langganan menemani sang bendera merah putih. Saat aku di hukum berdiri dan hormat di depan tiang bendera, tepatnya di tengah lapangan upacara, tentu saja dengan menjadi pusat perhatian. Jadi, tak terasa aneh jika hampir seantero sekolah mengenal ku. Murid teladan yang terkenal selalu datang terlambat.
Oh iya, nama ku Avagella Chartill. Panggil saja Agel, Agella atau Ava. Terserah, hanya saja teman sekolah ku pun sering memanggil ku Agel. Saat ini aku sudah duduk di bangku kelas 2 SMA. Aku bersekolah di SMA Laskar Abadi, aku mengambil jurusan IPA. Aku mendapat beasiswa, itulah kenapa aku bisa terdampar di sekolah ternama ini. Harus di akui, jika aku selalu belajar dengan keras agar peringkat ku tidak menurun. Tak sia-sia aku selalu mendapat peringkat 1 umum. Dan aku bangga pada diri ku sendiri.
Aku berharap, semoga aku selalu bisa mempertahankan peringkat ku itu. Agar aku bisa mempertahankan beasiswa ku.
Dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ku. Aku bekerja dengan tekun. Aku tidak mau membuat adik ku tersiksa, jadi biarlah aku yang menahan semuanya. Bertarung dengan kejamnya dunia. Meski kapan saja aku bisa bertekuk lutut tak berdaya. Tapi aku harus selalu optimis.
Ini cobaan. Dan cobaan datang untuk mendewasakan. Saat sudah lewat dari fase dewasa dan cobaan tetap datang, maka fase selanjutnya adalah membuat diri menjadi tangguh dan kuat. Jika cobaan masih berlanjut, maka ini fase untuk menguji kesanggupan. Mampukah diri mu, atau malah kamu di selimuti oleh keluhan. Jadi nikmati semua fase, sampai engkau sadar jika cobaan itu adalah sahabat terbaik yang selalu ada dalam hidup.
🌈🌈🌈