
Saat hubungan mulai retak dan terucap kata putus, itu berarti selama ini kamu mencintai orang yang salah.
🌈🌈🌈
"Langit, lo gak akan ngerti!" teriak Fana sambil menatap Langit emosi.
"Apa?" balas Langit tak kalah emosi.
"Lo itu terlalu terobsesi sama gue dan itu ngebuat lo lupa kalau kita itu sahabat. Dan gue udah punya Erick."
Memangnya kenapa jika Langit terobsesi. Itu urusan Langit.
"Tapi Erick itu brengsek!" Langit menekankan kata brengsek di ujung ucapannya.
"Lo jangan pernah sebut Erick pake sebutan itu," Fana menunjuk wajah Langit dengan emosi.
Perdebatan keduanya semakin panas di atas mobil yang membawa keduanya melesat ke tempat yang dituju Erick.
"Tapi ini nyatanya."
"Gue gak habis pikir sama lo, gue nyesel udah kenal sama lo."
"Terserah apa kata lo,"
Fana pun memilih diam. Biarkan saja Langit mengikuti Erick. Toh tuduhannya tidak akan membuahkan hasil apa pun. Fana yakin betul jika Erick itu orang yang baik.
Sementara Langit akan berhasil kali ini karena Langit yakin Erick akan mendatangi salah satu selingkuhannya.
Dengan pelan tapi pasti mobil Langit membuntuti mobil Erick yang berada agak jauh di depan. Hujan mendukung usaha pembuktian ini berjalan dengan lancar.
Mobil Erick pun berjalan terus tanpa tahu jika dia tengah di ikuti.
Perjalanan yang lama membuat Fana menjadi malas dan semakin yakin jika Erick benar-benar punya urusan. Tapi bodohnya Langit terlalu berlebihan.
Dan selalu mengatas namakan rasa akan tindakan berlebihannya ini.
Harus Fana akui jika Langit memang baik, tapi Fana terlebih dahulu menjatuhkan hatinya untuk Erick. Jadi, Fana tak mau memberi harapan yang lebih untuk Langit.
Apalagi Langit sekarang mempunyai pacar. Tapi tanpa di jelaskan Fana pun sudah tahu jika pacar Langit itu hanya pelampiasan semata. Karena Fana yakin Langit tidak akan melupakannya secepat itu.
Fana melihat mobil Erick berhenti di sebuah cafe, tapi Fana masih berpikiran positif. Sebab bisa saja Erick ada urusan di cafe itu.
"Lo liat baik-baik, apa yang di lakuin si brengsek itu." Langit mengucapkan itu dengan berapi-api.
Fana yang malas berdebat langsung memperhatikan gerak-gerik Erick yang sejauh ini tak terasa mencurigakan.
Bahkan Erick hanya duduk, memesan minuman dan makanan. Lalu terlihat menunggu seseorang. Dan mungkin itu temannya.
Sementara Langit tertawa miring, seraya memikirkan salah satu program TV yang sama seperti yang saat ini ia lakukan. Duduk di atas mobil seraya memperhatikan adegan perselingkuhan yang akan terbongkar.
Lihat saja sebentar.
Dan benar saja. Ada seorang cewek yang datang dan langsung di sambut hangat oleh Erick dengan pelukan dan kecupan mesra di pipi.
Brakk..
Pintu di banting cukup keras membuat tawa Langit pecah.
"Adegan yang paling di tunggu," Langit pun menghempaskan kepalanya ke sandaran mobilnya dan menatap lekat ke arah depan. Dimana akan menyiarkan langsung adegan perselingkuhan yang tertangkap basah.
Fana yang awalnya tak percaya langsung sadar. Jika penilaiannya kepada Erick selama ini salah.
Rupanya cowok itu adalah cowok brengsek.
Dengan emosi yang menggebu, Fana turun dari mobil dengan menutup pintu mobil dengan keras. Seakan-akan itu sudah menandakan jika dia marah besar.
Bahkan bulir hujan tak membuat langkahnya surut. Dengan tangan mengepal kuat, Fana berjalan dengan langkah lebar menghampiri Erick dan selingkuhannya yang nampak asik saling suap-suapan.
"Oh, jadi gini yang di bilang ada urusan?" Fana bertepuk tangan riuh hingga mengundang tatapan orang lain yang ada di cafe itu.
Erick yang kaget langsung berdiri dan mendekati Fana yang sudah menatap emosi ke arahnya.
"Sayang, ini gak seperti yang kamu lihat."
"Lo pikir gue ****? Udah jelas-jelas lo selingkuh di sini dan lo masih mau ngeles."
Fana menunjuk Erick dengan berteriak kencang.
Sementara Langit yang ada di mobil hanya menebak-nebak adegan yang akan terjadi selanjutnya.
"Mungkin tamparan," desis Langit tajam.
"Sayang, kamu salah paham."
"Salah paham apa? Dasar brengsek."
Plak...
Satu tamparan mengenai pipi Erick dan Erick langsung meringis. Merasa belum puas Fana mengambil minuman yang ada di atas meja dan menyiramkannya ke arah Erick.
Hingga pengunjung cafe itu bersorak bahagia. Layaknya mereka tengah menonton program yang sama seperti yang Langit katakan tadi.
Langit mengetuk-ngetukkan jarinya di kemudi stir. Adegan selanjutnya pasti seru.
"Gue pikir lo cowok baik-baik, Rick. Tapi apa? Lo gak lebih dari banci yang hobi nyakitin dan mainin hati cewek-cewek."
"Dan gue mau kita, putus!"
Setelah itu Fana pun berlari ke arah mobil Langit dengan air mata yang masih berlinang. Matanya merah khas orang sehabis menangis.
Langit sudah menebak akhir cerita ini. Benarkan keduanya putus.
Game over.
🌈🌈🌈